Caption foto : BPBD Tuban bersama rombongan di Sekolah Air Hujan Banyu Bening Yogyakarta. (WARTAPALA INDONESIA / AJ. Purwanto).
WartapalaIndonesia.com, SLEMAN – Bencana hidrometeorologi kekeringan setiap tahun berulang, dan terulang di solusi yang sama dengan droping air. Hal ini menjadi agenda tahunan, semakin meluas dampak dari krisis air ini. Maka dari itu, harus ada upaya menuju perbaikan dalam mitigasi agar PRB (Pengurangan Risiko Bencana) berkurang.
Salah satu upaya yang dilakukan BPBD Tuban adalah melakukan kunjungan ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening Yogyakarta, untuk belajar tentang air hujan, dan melihat praktek pengelolaan air hujan yang ada di Kabupaten Sleman.
Bagi BPBD Tuban, ini adalah kunjungan kali kedua ke Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Pada kunjungan kedua ini BPBD Tuban mengajak Destana yang ada di wilayahnya yang paling terdampak saat kemarau tiba. Kemudian Kalaksa BPBD Tuban Drs. Sudarmaji, MM. bersama Staff dan perangkat, relawan, warga Destana Desa Rahayu Kecamatan Soko, kabupaten Tuban.
Turut pula diajak adalah perwakilan Pertamina untuk menjadi gambaran dalam pendampingan di desa yang mengalami kritis air, untuk menjadi salah satu solusi penyelesaian permasalahan tahunan ini.
Sudarmaji dalam sambutannya menyampaikan, harus ada penyelesaian dari kunjungannya ini dengan mengaplikasikan langsung ilmu yang didapat di Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Karena beberapa wilayah yang ada di Tuban, masih banyak desa yang mengalami kerentanan air.
Di Kecamatan Soko sendiri ada 3 desa yang krisis air. Diharapkan juga dari kunjungan ini, mampu mengimplementasikan praktek pemanenan air hujan yang sudah dilakukan Komunitas Banyu Bening.
Founder Banyu Bening Sri Wahyuningsih dalam pemaparannya menyampaikan konsep pengelolaan air hujan dengan cara ditampung sebanyak kebutuhan kita dari musim hujan saat ini, sampai musim hujan berikutnya.
Sisanya dikembalikan ke dalam tanah dengan penuh kesadaran untuk mengembalikan air tanah yang selama ini kita ambil.
Sri Wahyuningsih menambahkan, banyak manfaat yang didapat ketika kita menampung air hujan. Di antaranya mendapatkan air gratis, melimpah, tidak tercemar, lebih banyak daripada air tanah, dan menjaga hubungan sosial dengan tetangga, mandiri air serta hidup sehat. Karena air hujan yang relatif kecil kontaminasinya, menjadikan air hujan air yang murni dan menyehatkan. (ajp)
Kontributor || AJ. Purwanto
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)