Caption foto : Kegiatan pecinta alam tidak hanya tentang mendaki gunung, tetapi juga tentang melestarikan alam sebagai bentuk kecintaan terhadap alam. (WARTAPALA INDONESIA / Mapala UMSB).
Oleh : Wawan Siswoyo S. Hut
Anggota Luar Biasa Mapala Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Pecinta alam adalah sebutan bagi seseorang yang hobi berkegiatan di alam. Namun sebagai pecinta alam, kita harus mempunyai etika dalam berkegiatan di alam bebas.
Lantaran itulah Kode Etik Pecinta Alam yang lahir di Gladian IV di Ujung Pandang tahun 1974, masih dijadikan patokan etika kalangan pecinta alam hingga saat ini.
Selain Kode Etik Pecinta Alam, kita juga mengenal 3 etika lingkungan yang populer disebut Etika Lingkungan Hidup Universal. Isinya : Take nothing but picture, yang artinya dilarang mengambil apapun kecuali foto.
Leave nothing but footprint, yang artinya dilarang meninggalkan apapun kecuali jejak. Terakhir, Kill nothing but time, yang artinya dilarang membunuh apapun kecuali waktu.
Berkaca pada perjuangan para pendahulu yang melahirkan Kode Etik Pecinta Alam, generasi pecinta alam Indonesia setelah mereka, seharusnya mengenal, memahami, menjalankan, sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai yang terdapat pada Kode Etik Pecinta Alam.
Oleh sebab itu, sejatinya siapa pun yang saat ini merasa dirinya pecinta alam, wajib berpatokan pada Kode Etik Pecinta Alam dan Etika Lingkungan Hidup Universal. Agar selama berkegiatan di alam bebas, kita tidak banyak merusak apa yang ada di alam bebas, atau setidaknya meminimalisir kerusakan akibat kegiatan kita, karena mustahil juga bagi kita sebagai pecinta alam tidak merusak walaupun sedikit apa yang ada di alam.
Saya sendiri menganggap pecinta alam adalah kegiatan pelestarian alam yang dilakukan oleh perorangan, atau sekelompok orang untuk mewujudkan kecintaannya terhadap alam.
Namun dari dahulu hingga sekarang, pecinta alam identik dengan aktivitas naik gunung atau kegiatan luar ruangan lainnya. Masih sedikit pecinta alam yang melakukan kegiatan pelestarian lingkungan agar alam tetap lestari dan bisa kita nikmati setiap saat.
Saat ini, kenyataannya yang kita lihat dan dengar adalah sampah bertebaran di gunung-gunung. Lantas, pantaskan pecinta alam yang mendaki gunung lalu meninggalkan sampah di sebut seorang pecinta alam?
Di saat yang sama, banyak pengrusakan lingkungan yang dilakukan berbagai pihak, tetapi tanpa ada reaksi nyata dari para pecinta alam untuk menyuarakan kelestarikan lingkungan. Padahal terjadinya bencana alam berupa banjir bandang dan longsor dimana-mana, adalah akibat pengrusakan lingkungan seperti pembalakan liar.
Perlu dipahami bahwa organisasi pecinta alam – baik di dalam lembaga pendidikan maupun di luar — hadir untuk melakukan berbagai upaya pelestarian alam. Jadi, kegiatan pecinta alam itu tidak hanya tentang mendaki, menyusuri berbagai sudut hutan, berkemah dan lain sebagainya.
Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bentuk dari kecintaan organisasi pecinta alam terhadap alam, dengan cara menyatu dengan alam. Lalu, apa tujuan dari terbentuknya organisasi pecinta alam?
Kita perlu meluruskan kembali pengertian pecinta alam, dan melakukan berbagai upaya nyata supaya alam tetap lestari, sebab mereka menyadari bahwa manusia tidak akan bisa hidup tanpa alam. Berbagai kebutuhan sandang dan pangan didapatkan dari alam, tetapi pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik, sehingga proses pemenuhan kebutuhan tersebut justru merusak alam.
Dalam rangka meningkatkan kesadaran menjaga dan merawat alam, organisasi pecinta alam biasanya menyelenggarakan kegiatan luar ruangan seperti kemah, hiking, rafting dan lain sebagainya.
Tujuannya untuk memberi peserta kesempatan melihat dan menikmati alam. Bersentuhan dengan alam, dapat meningkatkan kesadaran bahwa, “Alam yang zero sampah, dapat menjadi tempat yang nyaman untuk beraktivitas”.
Selain aktivitas luar ruangan yang berbentuk rekreasi, biasanya organisasi pecinta alam mengajak anggotanya dan masyarakat membersihkan sungai, membersihkan lingkungan sekitar, dan tidak meninggalkan sampah setelah pendakian.
Mungkin kita perlu kembali mengugah para pecinta alam untuk mengasah kembali kepekaan mereka terhadap lingkungan agar kembali lestari, dan tidak sebatas penikmat alam saja.
Pertanyaannya, upaya apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan semua itu? Jawabnya, tergantung masing-masing organisasi pecinta alam dalam mendidik dan menempa karakter tiap individu anggotanya. Agar anggotanya saat melakukan kegiatan di alam bebas, berpegang pada Kode Etik Pecinta Alam dan Etika Lingkungan Hidup Universal.
Di luar itu, mungkin kita dapat memulai dari diri kita sebagai individu yang menyadari pentingnya menjaga dan melestarikan alam. Misalnya dengan menggunakan barang-barang yang mudah terurai secara alami, dan ikut kegiatan menanam pohon. (as)
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)