Oleh : Yat Lessie
Jana Buana – IMT
Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Jika Mapala diperlakukan layaknya benda, maka mari kita membahas tentang hukum entropy. Masih ingat hukum termodinamika ke-2 dari Sadi Carnot, tentang enthropy alias kekacauan energi?
Dalam sebuah sistem tertutup, maka energi negatif atau enthropy alias kekacauan akan meningkat, menuju equlibrium atau kesetimbangan akhir, yaitu kematian panas. Ambil contoh, motor berikan bensin sebanyaknya, lalu nyalakan dan biarkan langsam selama sejam, sehari, seminggu, sebulan dan seterusnya. Jangan dimatikan.
Akibatnya kita tahu : suatu saat mesin akan jebol sendiri. Entah ring sehr-nya, entah pistonnya, bahkan sebuah sekrup lepas, lalu mesin akan mati. Kemudian perlahan semua mendingin kembali, dan blok mesin akan dingin sebagai sebuah keseimbangan akhir.
Kenapa mesin jebol? Karena energi positip akan menurun, sebaliknya energi negatif yang kita sebut dengan kekacauan enthropy akan naik sejalan dengan waktu. Sampai akhirnya mesin tak sanggup lagi hidup. Apa-pun yang dikenai oleh hukum enthropy (enthropy positip), niscaya dia benda alias sebuah struktur materi. Salah satu cirinya yang paling umum adalah, bahwa kematian bisa terjadi cukup dengan satu penyebab saja. Lalu seluruh sistem akan mengalami kelumpuhan, menuju ekulibrium akhir, yaitu kematian panas itu sendiri.
Sebaliknya, jika sesuatu yang bukan materi atau mesin, maka hukum enthropy tak berlaku. Yaitu kekacauan akan menurun, dan ketertataan akan semakin meningkat. Artinya kebalikan dari enthropy positip alias sebuah entrhopy negatif, di mana sebuah keseimbangan baru dicapai dalam dinamika yang semakin meningkat. Contohnya jelas, maka eksisten tadi berupa organisme. Lengkap dengan seluruh ranah kesadaran, kecerdasan dan aspek otonomnya. Dipuncaknya jelas, maka dia berupa manusia, di mana hak otonom secara ultimate dikatakan sebagai free will alias sang kehendak bebas.
Ciri utama dari organisme, selain berkesadaran, bahwa dia hanya bisa mati oleh penyebab berganda. Bukan penyebab tunggal layaknya benda/mesin. Biasa disebut sebagai kegagalan organ berganda, dan orang medis biasa menyebutnya sebagai komplikasi. Yaitu akibat adanya penyebab yang bersifat looping serta terus menerus. Sehingga muncul istilah gagal ginjal, gagal jantung dan lain sebagainya. Akhirnya menjadi penyebab bagi kematian biologis. Kalau yang berhenti pada denyut jantung, nafas berhenti serta otak yang tak berlistrik lagi, disebut dengan kematian klinis.
Mengapa organisme tidak dikenai hukum entrhopy seperti layaknya mesin benda materi? Jawabnya sudah ditulis duluan, yaitu karena organisme bukanlah sebuah sistem tertutup. Dia bersifat terbuka, dan senantiasa memanfaatkan aliran energi, kalori, informasi, zat, dan lain sebagainya, untuk terus menerus memperbaharui dirinya, dalam proses metabolisma dan regenerasi, agar tetap eksis, bahkan berkembang semakin meningkat secara dinamis.
Pandangan lain dari pendekatan itu adalah, jaring-jaring yang semakin kompleks, akan membuat sebuah eksisten berlaku layaknya sebuah organisme, yang mempunyai kesadaran dan kecerdasan sendiri (otonom). Contohnya sistem automathon, yang berfungsi untuk mencari keuntungan semata dalam casino global. Amerika nyaris collaps pada krisis tahun 2008 lalu, karena dirugikan sebesar 600 milliar dolar. Sistem automathon, sang macan peliharaan ternyata memakan tuannya sendiri.
Bagaimana caranya mematikan organisme yang berkesadaran dengan sekali pukul, melalui mekanisme hukum entrhopy, seperti pada mesin atau benda? Gampang saja. Masukan mereka ke dalam sebuah sistem tertutup. Pastikan tidak ada aliran energi, zat, informasi, pembaharuan, pencerahan, yang bisa masuk. Sebuah upaya untuk mengisolasi dan mengalienasi. Seraya melepas dari tatanan sekitarnya, lalu berubah menjadi close minded. Dan hanya dibutuhkan sebuah penyebab tunggal, maka sistem dimatikan, persis kaya orang matiin saklar lampu, trek lalu pet, alias mati total!
Organisme berkesedaran yang dimaterialisasi sehingga hukum enthropy bisa diberlakukan. Baik dengan cara mendadak, atau sebuah pembiaran atas kekacauan (energi negatif) yang membawa pada proses mati suri secara perlahan.
Cara lain yang paling umum adalah dengan pendekatan “struktur” sebagai sesuatu yang paling primer, di mana “fungsi” menjadi bersifat sekunder. Struktur (materi) lebih dipentingkan ketimbang fungsi (kesadaran). Hasilnya pasti berupa hambatan struktural alias hambatan birokratis. Karena pada setiap bagan struktur tadi pasti ada berhalanya. Yang dengan pongah selalu mengulang ulang kalimat, “Kalau enggak ada gue, kagak bakalan jalan”.
Kata sinergis menjadi kabur, karena hal ini hanya bisa terjadi jika pendekatan primernya melalui fungsi (contoh tujuan, manfaat dan sebagainya) dan sama sekali bukan berhala struktural. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang masih berpikir di abad 20 kemaren, di mana budaya materialisme ala Newtonian masih dijagokan. Sebuah pemikiran usang yang out of date di abad 21. Kecuali, memang sebuah kesengajaan, demi kepentingan status quo dari pihak-pihak tertentu. Karena alangkah naifnya jika kalangan birokrat dan teknokrat serta akademisi, tidak menyadari perkembangan keilmuan ini.
Willis Harman dalam Global Mind Change menyebutkan, bahwa pada abad kemarIn yang berlaku adalah Matter give rise to mind. Atau materi dulu, baru kesadaran. Sedang untuk abad 21 berlaku terbalik, yaitu Mind give rise to matter. Fungsi adalah induk dari struktur, sedang struktur hanyalah derivat turunan dari adanya fungsi.
Mapala… Dia mewakili sebuah fungsi, yaitu pusat pusat pengkaderan dari manusia dan pemimpin yang berkarakter di masa depan. Yang sadar sepenuhnya, bahwa knowledge is power, but characters is more. Karakter yang menentukan keberhasilan hidup, sedang technical expertise hanya menjadi penunjang saja. Sedangkan karakter bukanlah materi atau sesuatu yang bisa dimaterialisir, dengan cukup mengandalkan variabel dan parameter kuantitatif saja. Karakter hanya bisa didapat dengan cara dilakukan (partisi partorik, ekspediental learning). Bukan sebatas untaian kata-kata dalam sekatan ruang-ruang kelas di kampus.
Mapala… Sejak pendiriannya di medio tahun 60-an, adalah sebuah sistem terbuka. Yang menimba pengetahuan dari lingkungan sekitarnya, sehingga terus berkembang dari segi kesadaran dan kecerdasannya. Saat bermula hanya sebatas menjadi pendaki gunung, penempuh rimba, penakluk tantangan alam yang machois, lalu berubah menjadi pecinta alam dengan pengayaan pada aspek feminism-nya (feminisme sebagai cara pandang, bukan dalam konteks gender).
Mapala… Menjadi bukti, saat organisasi formal lain mati suri perlahan-lahan. Padahal sudah mendapat dukungan penuh dari dana APBN. Namun Mapala tetap hidup, bahkan semakin marak di tanah air. Sekaligus sebagai pembuktian, bahwa “ruh” itu bukan berada di ranah struktural material dengan dukungan dananya, namun dalam jiwa dan kesadaran. Yaitu saat menimba langsung dari alam dan lingkungan sekitar, melalui sebuah sistem yang berinteraksi secara terbuka, layaknya sebuah organisme hidup.
Mapala… Adalah solusi dari anak negeri. Untuk pembangunan jati-diri, bahwa kita putra-putri tanah pertiwi. Saat Jepang punya Bushido, Jerman punya Deutchland Uber Alles, kita punya apa?
Saat para petinggi sibuk mencari solusi bagaimana membangun karakter bangsa, entah berapa puluh ratus triliun rupiah dikeluarkan untuk sejumlah usaha. Baik diskusi di kampus, atau seminar di hotel berbintang. Namun adakah hasilnya, kecuali mirip proyek P4, tentang penghayatan Pancasila, namun korupsi justru semakin menggila. Hanya kembali lagi, Pancasila dibuat menjadi struktur, dimaterialisasi, dihapal nan jauh dari “penghayatan”.
Sayangnya… Mapala tak hendak dilihat. Diberangus kedalam sistem tertutup, konon dengan memakai jargon sistem pendidikan tinggi. Dikerangkeng dalam struktur yang dipenuhi ancaman. Awas drop out, awas kena sangsi admnistratif, dan tentu saja, “awas dipidana dan masuk penjara”.
Sistem dibuat tertutup, isolasi dan alienasi, berlaku layaknya benda dan mesin, maka cukup satu penyebab, entah aksiden atau insiden, sang eksisten akan mengalami enthropy. Lalu bergerak menuju ekulibrium akhir, berupa kematian panas. Kematian harapan, kematian kesadaran, kematian semangat, yang tinggal hanya berupa ekulibrium akhir, dalam bentuk stagnasi kesadaran. Menyedihkan, Mapala hanya dipandang sebagai sebuah strukur. Hanya bagian kecil dari sebuah mesin produksi, yang bernama perguruan tinggi.
Open system, serta dukungan dari semua pihak itu pasti ada, baik eksekutif dan legislatif, jika Mapala dirubah/re-design jadi proyek e-Mapala. Karena bukankah segala macam yang pakai “e” di depan pasti dapet dukungan. Seperti e-KTP contohnya, di mana ribuan orang dapat duit bancakan. Karena arti ‘e” di sana bukanlah sebuah fungsi yang semakin maju, namun berarti pengumpulan duit alias materi.
Sejumlah Mapala di perguruan tinggi dikenai musibah, maka kita serentak bersuara. Wahai para sohib di Bramatala Widyatama, Universitas Lampung, dan lain-lain, yang terakhir di UNISI, kita sama sama prihatin pada apa yang terjadi. Namun suara dan dukungan, hanya menjadi bukti, bahwa kita saling terhubung. Bahwa sekalipun banyak pihak yang menginginkan kita menjadi mesin, dengan cara dimasukan dalam sistem tertutup. Namun sesungguhnya kita tetap memakai sistem yang terbuka. Karena Mapala bukan mesin produksi, karena Mapala bukan e-Mapala yang berarti materi, duit dan kekuasaan.
Karena Mapala berarti adalah sebuah kesadaran yang terkolektifkan, untuk saling mendukung, silih asih, silih asah, silih asuh dan silih wangi, … at any cost, seperti yang tersirat dan tersurat dalam Kode Etik Pecinta Alam se-Indonesia Tahun 1974. Sekaligus menjadi bukti bahwa Mapala bukan mesin yang mudah dimatikan dengan memakai mekanisme kekacauan sang enthropy. Tapi layaknya organisme yang akan tetap tumbuh menyubur untuk mencapai cita-cita seluruh anak bangsa. (Yat Lessie).
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)