Jakarta (ANTARA) – Legenda bulu tangkis dunia Viktor Axelsen meragukan efektivitas rencana penerapan sistem skor 15 poin dalam tiga gim oleh Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) karena dinilai dapat mengurangi unsur drama dan taktik dalam pertandingan.
Menurut mantan tunggal putra asal Denmark itu, sistem 21 poin yang selama ini digunakan masih menjadi format terbaik karena memberi ruang lebih besar bagi pemain untuk membangun ritme permainan dan melakukan comeback saat tertinggal.
“Saya rasa kita akan kehilangan drama dan taktik sedikit. Saya suka sejarah yang ada dalam sebuah pertandingan, itu bisa naik dan turun,” kata Axelsen saat menghadiri acara meet and greet “Celebrating the Legacy of Viktor Axelsen” di The Westin Jakarta, Minggu.
Peraih emas Olimpiade 2020 dan 2024 itu mengatakan dalam sistem 21 poin, pemain masih memiliki peluang bangkit meski tertinggal cukup jauh di awal gim.
“Meskipun Anda tertinggal 11-5 atau semacamnya, Anda bisa bangkit kembali. Itu sangat sulit jika Anda hanya bermain sampai 15 poin,” ujar Axelsen yang pensiun pada April lalu.
Baca juga: Viktor Axelsen umumkan gantung raket
Axelsen juga menilai sistem skor baru akan mengurangi aspek daya tahan fisik yang selama ini menjadi bagian penting dalam olahraga bulu tangkis.
Selain itu, ia memprediksi sistem 15 poin membuka peluang lebih besar terjadinya kejutan dari pemain nonunggulan karena pertandingan menjadi lebih singkat dan margin kesalahan semakin kecil.
“Saya rasa akan ada lebih banyak kejutan selama turnamen berlangsung. Anda harus siap sejak awal dan tidak boleh terlalu santai,” kata Axelsen.
Sebelumnya, BWF resmi mengesahkan aturan sistem skor 15 poin kali tiga gim (best of three games) dalam pertandingan resmi mulai 4 Januari 2027.
Keputusan tersebut ditetapkan dalam forum 87th BWF Annual General Meeting (AGM) di Horsens, Denmark, Sabtu, melalui mekanisme voting anggota BWF dengan hasil 198 negara menyetujui aturan baru dan 43 negara menolak.
Baca juga: Axelsen nikmati masa pensiun dengan fokus pada keluarga dan bisnis
Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.