1. News
  2. Kombitainment
  3. Dari Bali ke London, Joey Penny Menenun Mimpi di Tin Pan Alley

Dari Bali ke London, Joey Penny Menenun Mimpi di Tin Pan Alley

dari-bali-ke-london,-joey-penny-menenun-mimpi-di-tin-pan-alley
Dari Bali ke London, Joey Penny Menenun Mimpi di Tin Pan Alley

Seminggu sudah Joey Penny pulang ke rumahnya di Kerobokan, Bali. Dia masih merasa jetlag setelah merasakan 20 jam perjalanan udara dari London. Dalam seminggu itu, Joey hanya klumbrak-klumbruk di kasurnya karena masih merasakan kelelahan akumulatif setelah menjalani 3,5 bulan tinggal di London. Perbedaan suhu dan pola hidup membuatnya perlu beristirahat sembari mempersiapkan project yang akan dikerjakan selanjutnya.

Perjalanan Joey Penny ke London bukanlah perjalanan yang biasa. Gadis 17 tahun blasteran Surabaya-Australia ini terbang sendirian dalam rangka belajar mengenai branding dan penjualan di salah satu toko gitar legendaris di Denmark Street bernama Sixty Sixty Sounds. Kedatangannya untuk bisa mendapatkan pengalaman berharga merasakan suasana musikal di sentra penjualan alat musik yang dijuluki “British Tin Pan Alley” itu. 

Bangunan Sixty Sixty Sounds diketahui memiliki sejarah panjang untuk musik dunia. Industri musik yang sudah terbentuk sejak 1911 diawali oleh penerbitan musik bernama Music Hall and Theatre Review. Di jalan inilah musisi besar seperti The Beatles, Jimi Hendrix, dan Elton John dulu sering berkumpul. Sixty Sixty Sounds menjadi bagian dari penjaga tradisi musik di Denmark Street yang kini mulai banyak berubah akibat pembangunan modern di London. Denmark Street dulunya merupakan tempat berkumpulnya pencipta lagu, penerbit, dan studio rekaman sebelum akhirnya menjadi deretan toko gitar ikonik.

Di sanalah Joey Penny menghabiskan 3,5 bulannya untuk mengasah ilmu. Setelah berpamitan dengan orang tua di Bandara Udara Internasional Gusti Ngurah Rai pada 5 November 2025, ia terbang menuju Britania Raya. Perpisahan yang cukup mengharukan tentu saja. Joey hampir menghabiskan seluruh 17 tahun hidupnya di Bali dan ketika ada tawaran pergi langsung pergi ke London, tentu membuat Ayah, Ibu, dan saudara perempuannya terharu. 

Perjalanan Joey menuju Britania bermula dari sebuah pesan singkat melalui DM Instagram dari akun @sixtysixtysounds pada awal tahun 2025. Setelah banyak melakukan meeting online selama 5 bulan diputuskan Joey berangkat ke London pada bulan November. Yang membuat terkendala adalah Joey pergi menggunakan visa wisata. Usia Joey yang masih terlalu muda membuatnya tidak mampu mendapatkan visa kerja yang barangkali bisa membantunya untuk mendapatkan uang lebih.

Joey datang di musim yang tidak tepat. November adalah saat di mana musim dingin baru saja tiba. Tentu hal tersebut membuatnya sakit selama hampir satu minggu. Joey tinggal di sebuah rumah teman dari Bali yang berjarak 2 jam dari Denmark Street. “Dingin! Pas mau masuk musim dingin, suhunya sekitar 10 derajat, beda banget sama Bali yang 30 derajat,” ucapnya saat diwawancara Kamis malam 29 Januari 2026.

Tinggal di London, membuat Joey belajar untuk tidak manja. Berbeda jauh dengan kehidupannya di Bali yang terasa serba mudah. Setiap harinya, Joey harus berjalan kaki dan berpindah-pindah transportasi umum.  “Lebih sehat sih, tapi memang melelahkan. Kalau mau naik semacam gojek itu mahal sekali,” ungkapnya. Untuk makan pun, Joey menjadi belajar memasak karena harga makanan di London bisa beda 10 kali lipat dibanding Indonesia. Sesuatu yang jarang sekali ia lakukan ketika di rumah.

Di Sixty Sixty Sounds, Joey belajar bagaimana mempersiapkan diri menjadi gitaris profesional yang baik. Pengalaman Joey mencapai puncaknya saat ia mendapatkan tawaran kolaborasi dari tim grup rock legendaris, Pink Floyd. Ia terlibat dalam proyek cover lagu untuk album Wish You Were Here berjudul “Shine On You Crazy Diamond”. Dalam proyek ini, Joey berkolaborasi dengan musisi internasional ternama seperti Sophie Burrell dan Hattie Steel. Kerja sama tersebut merupakan kerjasama antara tim PR Pink Floyd dan Sony Music.

Joey juga berkesempatan mengunjungi Marshall Factory dan bertemu langsung dengan jajaran direksi dari brand alat musik raksasa dunia, Gibson dan Marshall. Selama di toko, ia menyaksikan betapa banyak orang yang bermain gitar dengan percaya diri dan serius. Ini merupakan pelajaran yang berharga baginya yang bercita-cita menjadi seorang gitaris. Di Denmark Street, ia juga melihat banyak musisi dan pengamen yang bermain musik dengan jago. Hal yang tentu membuatnya terpacu untuk terus giat berlatih gitar.

Selama menetap di London, Joey mengaku mengalami culture shock, mulai dari suhu udara yang ekstrem, hingga gaya hidup yang serba cepat. Ia harus menempuh perjalanan empat jam setiap hari untuk pulang-pergi ke tempat kerja. Kegiatan rutinnya adalah jam 11 pagi sampai 6 sore di toko dan libur dua hari dalam seminggu. Dalam toko itu, ia mendapat pelajaran mengenai bagaimana menaikkan engagement di media sosial dan bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain. Joey kerap kali diajak untuk terlibat dalam bermacam kolaborasi di media sosial.

“Berangkat ke toko jam 9 pagi, mulai kerja jam 11 sampai jam 6 sore, sampai rumah jam 8 malam. Fokusnya di bagian penjualan (sales) dan konten, tapi banyak dapet pelajaran soal PR, cara komunikasi sama orang, ketemu sama direktur Gibson dan Marshall, serta belajar cara branding diri sendiri,” ujarnya.

Meski mendapat banyak pelajaran bagaimana menjadi musisi yang bagus, tapi menurut Joey, pelajaran terbaik selama ia dapatkan di London adalah pelajaran hidup. Joey melihat banyak manusia dari bermacam ras dan suku bercampur semua di sana. Ia juga mengamati perbedaan teknik bermain gitar antara musisi lokal dan musisi di London. Menurut Joey, musisi London memiliki gaya permainan yang lebih melodis dan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi meskipun sedang melakukan latihan di tempat umum.

“Di London itu work to live. Kalau kamu nggak kerja keras atau hanya bersikap santai (soft), kamu bakal tergilas oleh kota itu. Aku merasa jadi jauh lebih tangguh setelah pulang dari sana,” kata Joey dengan serius.

Kembali ke Indonesia, Joey merasakan dampak signifikan terhadap personal branding-nya. Pengikutnya di media sosial meningkat pesat, terutama dari kalangan pecinta musik internasional. Joey kini tengah mempersiapkan proyek solo dan berencana untuk merilis karya-karyanya sendiri. Ia memiliki visi besar untuk menembus liga musik internasional, namun tetap punya misi mulia bagi belantika musik tanah air. Joey merasa perlu membagikan pengalamannya selama di London untuk para musisi lain yang sedang merangkak. Cukup disayangkan jika pengalamannya di London ini tidak bisa dibagikan kepada yang lain.

“Tujuanku adalah sukses di level internasional agar nantinya aku punya kekuatan untuk membantu ekosistem musik di Indonesia. Aku lahir dan besar di sini, aku tetap mencintai Indonesia,” tuturnya optimis.

Dalam waktu dekat, Joey juga mempertimbangkan untuk pindah ke Jakarta guna memperluas jaringan dan mempercepat langkahnya di industri musik nasional. Hal tersebut tentu bagus untuknya dalam menjadi musisi profesional. Joey sudah mempunyai jaringan dari musisi lain yang bisa membantu untuk kariernya. Follower-nya yang sudah mencapai hampir 300 ribu juga tentu bisa menjadi acuan untuk orang meliriknya.

Melihat bagaimana Joey Penny memainkan gitarnya selalu mengagumkan. Bagaimana ia membawa gitarnya dan menjadi seorang gadis 17 tahun yang berkeliling London sendirian. Putri dari pasangan Kent Robert Penny dan Cecilia Fransischa ini baru saja memulai langkah besar. Dari sudut kamar di Kerobokan hingga ke riuhnya Denmark Street, Joey telah membuktikan bahwa keberanian bisa membawa petikan gitarnya terdengar hingga ke belahan dunia lain. Kini, dengan semangat yang baru ditempa di kerasnya London, hanya tinggal menunggu waktu sampai dunia benar-benar menoleh pada karya-karya orisinalnya. Perjalanan kemarin bukanlah akhir, melainkan sebuah intro yang megah bagi simfoni karier Joey Penny di masa depan.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Dari Bali ke London, Joey Penny Menenun Mimpi di Tin Pan Alley
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us