1. News
  2. Berita
  3. Belanda di Piala Dunia 2026: Ambisi Juara Generasi Baru Oranje

Belanda di Piala Dunia 2026: Ambisi Juara Generasi Baru Oranje

belanda-di-piala-dunia-2026:-ambisi-juara-generasi-baru-oranje
Belanda di Piala Dunia 2026: Ambisi Juara Generasi Baru Oranje

Cerita tentang tim nasional Belanda selalu dimulai dari satu nama, yaitu Rinus Michels. Di awal 1970-an, ia tidak hanya menyusun formasi tetapi juga membongkar cara lama bermain sepakbola. Bagi Michels, ruang adalah pusat permainan. Untuk itu, posisi bermain sepakbola tidaklah statis, tetapi dinamis.

Bagi Michels, bek boleh naik menyerang, gelandang bisa bertahan tapi juga bisa menyerang, dan penyerang boleh turun menjemput bola. Syaratnya cuma satu. Semua pemain paham secara keseluruhan strategi, bukan hanya posisinya.

Gagasan itu bernama Total Football. Sistem ini membuat Belanda bermain cair. Menekan bersama, mengatur tempo bersama, dan menyerang bersama. Akibatnya, garis lini bertahan sangat tinggi, lawan pun kesulitan menghadapi gerakan kolektif yang terus berubah.

belanda piala dunia
Rinus Michels saat membawa Belanda Juara Piala Eropa 1988.

Lahir dari akademi

Namun, sehebat apapun taktik dijalankan, dibutuhkan seorang “penerjemah taktik” di lapangan. Johan Cruyff menjadi sosok itu. Ia bukan sekadar pemain terbaik Belanda saat itu, melainkan pusat dari orbit permainan.

Kenapa Cruyff? Pemain kreatif ini sudah bermain di Ajax sejak 1960-an dan Michels sudah menerapkannya di sana. Maka tak heran, Cruyff sangat memahaminya. Cruyff merupakan False Nine, sebelum dunia sepakbola mengenal istilah itu. Dia menjadi pusat permainan karena taktiknya menuntut itu. Ia menjemput bola, membuka ruang bagi winger dan gelandang yang masuk dari lini kedua.

belanda 1974
Johan Cruyff bertarung dengan Baudilio Jauregui (Argentina) di Piala Dunia 1974.

Cruyff juga seorang maestro dengan beberapa kali dia mampu mengembangkan taktik Michels secara kreatif. Hasilnya, permainan lebih hidup. Dia juga langsung memutuskan sepersekian detik di lapangan.

Piala Dunia 1974 memperlihatkan kecerdasan Cruyff dalam sistem milik Michels. Belanda seperti etalase Ajax di panggung global. Johan Neeskens, Ruud Krol, Johnny Rep, Arie haan adalah kompatriot Cruyff di Ajax. Kohesi itu membuat Belanda tampil memukau meski akhirnya gagal membawa pulang trofi.

Ironinya, Total Football itu dibawa Michels juga sebagai pelatih ke Barcelona. Di klub Catalan itu, taktik Michels itu berevolusi secara tidak langsung menjadi DNA Barcelona.

Baca juga: Brasil di Piala Dunia 2026: Tekanan Tradisi Juara

Generasi baru tanpa megabintang

Belanda piala dunia
Virgil Van Dijk kapten sekaligus pemain penting tim nasional Belanda.

Fast forward ke 2026, wajah oranje berbeda. Di tahun ini, tidak ada figur tunggal seperti Cruyff, Van Basten, Van Persie, Robben, atau Sneijder. Belanda terlihat lebih merata bahkan bagi sebagian orang terlihat pas-pasan. Namun, di sinilah menariknya Belanda di tahun ini.

Pemain terbaiknya tentu ada di pundak kaptennya, Virgil Van Dijk. Dia menjadi jangkar di lini pertahanan, bahkan dia menjadi awal permulaan serangan. Kehebatannya duel udara dan tekel bersih dipadukan Koeman dengan bek tengah dengan kecepatan, yaitu Micky Van de Ven atau Matthijs de Ligt.

Frenkie de Jong dan alternatifnya

belanda
Frenkie de Jong jadi pusat permainan Belanda saat ini.

Walaupun demikian, jantung permainan Belanda dibebankan pada Frenkie de Jong. Koeman mendaulatkan de Jong sebagai pengatur ritme permainan, menghubungkan lini pertahanan dan penyerang. Pekerjaan Koeman adalah saat de Jong “dikunci”, harus ada pemain lain yang bisa menggantikan perannya.

Xavi Simmons bukan penggantinya. Ia lebih eksplosif dan menusuk ke dalam. Tetapi, dia bukan pengontrol tempo. Di bangku cadangan, Tijjani Reijnders lebih menekankan pada pergerakan vertikalnya ketimbang kontrol tempo. Teun Koopmeiners jadi alternatif kala Koeman ingin bermain long passing untuk membongkar lini pertahanan lawan yang rapat.

Lini depan kolektif, bukan klinis

Gakpo belanda
Cody Gakpo jadi andalan untuk menggedor pertahanan lawan.

Belanda bertumpu pada Cody Gakpo sebagai penyerangnya. Sayangnya, Gakpo monoton. Polanya sering sama, menahan bola, cut inside, kemudian menembak. Koeman harus mampu membuat pemain lainnya membuka ruang untuk Gakpo agar tembakannya semakin berbahaya. Koeman harus bisa membuat sisi kanannya hidup dan tidak bertumpu pada Gakpo di kiri.

Pertanyaan tentu, siapa ujung tombaknya? Belanda hari ini tidak punya profil eksplosif seperti Robin Van Persie atau Ruud Van Nistelrooy atau pelayan kreatif seperti Dennis Bergkamp.

Koeman sering mendapat kritik karena masih memanggil Memphis Depay. Depay kerap terlihat “egois” tetapi itu karena kemampuannya mengolah bola. Dirinya juga bisa turun ke ruang antar lini untuk menjemput bola ditunjang pengalaman turnamen besar. Bukan tidak mungkin, Depay justru menjadi kunci membongkar pertahanan lawan.

Selain itu ada Wout Weghorst yang lebih “fisikal” di kotak penalti dan Donnyell Malen yang memiliki kecepatan untuk mengalahkan lini. Namun apakah mereka akan dibawa oleh Koeman? Mungkin saja. Yang jelas, Belanda tidak lagi bergantung pada nomor 9 murni.

Di bawah Koeman, Belanda tidak butuh penguasaan bola lebih tinggi secara statistik maupuun estetika permainan. Belanda sekarang lebih pragmatis dan lebih sadar risiko.

Generasi baru Belanda ini melahirkan harapan, terlebih saat mereka tak terkalahkan di fase kualifikasi. Jika keseimbangan ini terus dijaga, bukan tidak mungkin tim oranje ini bisa menggenggam trofi yang telah lama didambakan.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Belanda di Piala Dunia 2026: Ambisi Juara Generasi Baru Oranje
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us