Salah satu kejutan besar di Piala Dunia terjadi pada 1950. Pada 29 Juni 1950, Stadion Independencia di Belo Horizonte, Brasil menjadi saksi sejarah tim penggembira Amerika Serikat (AS) menang melawan tim unggulan Inggris..
Petaka Inggris terjadi pada menit ke-37. Sebuah umpan silang disambut sundulan kepala pria kelahiran Port-au-Prince, Haiti bernama Joe Gaetjens. Skor bertahan 1-0 hingga akhir. AS menang, dunia tercengang. Publik bahkan sempat mengira surat kabar yang menulis berita itu salah tulis. Mereka mengira skornya adalah 10-1 untuk Inggris.

Berita ini mengguncang dunia sepakbola. Wajar saja, Inggris datang dengan para pemain profesional, sementara AS hanya pemain part-time. Ada yang bekerja sebagai guru, supir jenazah, dan Joe sendiri adalah mahasiswa akuntansi.
Joe bergabung ke tim nasional karena saat itu AS sedang mencari pemain untuk Piala Dunia 1950. Dia bergabung melalui komunitas sepakbola imigran.
Baca juga: Belanda di Piala Dunia 2026: Ambisi Juara Generasi Baru Oranje
Merantau dan mencetak sejarah
Joseph Edouard Gaetjens lahir di keluarga yang relatif berada. Dia mencintai sepakbola dan pada 14 tahun masuk ke tim Etoile Haitienne. Di sana dia terkenal dengan sundulannya.
Namun, karena keluarganya merasa sepakbola tidak bisa menjadi sandaran hidup, Joe dikirim ke Columbia University di New York. Di sana, sambil berkuliah, Joe bekerja paruh waktu sebagai pencuci piring. Namun, dia bekerja di sana bukan karena uang saja, tetapi karena pemilik restoran itu juga memiliki tim sepakbola bernama Brookhattan.
Joe bermain di sana sebagai striker. Kemampuannya ternyata terpantau oleh pelatih tim nasional AS. Saat itu, untuk bisa bermain di tim nasional AS, seseorang hanya perlu menandatangani surat pernyataan untuk mau menjadi warga AS. Joe menyanggupi dan kemudian berangkat ke Brasil.

Saat pertandingan melawan Inggris, ironisnya, tidak satu dokumentasi pun. Hampir semua kamera mengarah ke gawang AS karena merasa Inggris akan mencetak gol. Joe menjadi terkenal. Berita ini terdengar keluarganya di Haiti melalui radio. Sayangnya, pada pertandingan tersisa, AS kalah dan harus tersingkir.
Setelah momen itu, Joe sempat bermain profesional di Perancis untuk Racing Club de Paris dan Olympique Alves. Namun, dua musimnya kurang sukses dan cederanya cukup mengganggu. Kondisi ini membuat Joe memutuskan pulang ke Haiti pada 1954. Putranya Lesly Gaetjens mengatakan, Joe sebenarnya memang tidak berniat untuk menyelesaikan proses naturalisasi kewarganegaraan AS-nya. Dia lebih mencintai Haiti.
Di Haiti, Joe membangun bisnisnya di bidang binatu sembari melatih talenta muda sepakbola Haiti. Namun, di sinilah kisah tragisnya dimulai.
Baca juga: Brasil di Piala Dunia 2026: Tekanan Tradisi Juara
Diculik dan hilang

Pada awal 1960-an, Haiti dipimpin oleh diktator Francois “Papa Doc” Duvalier. Presiden Haiti ini memiliki polisi rahasia bernama Tonton Macoute. Polisi rahasia ini terkenal kejam dan terbiasa menangkap tanpa proses hukum.
Keluarga Gaetjens kala itu dikenal menentang Duvalier dan dekat dengan kelompok oposisi pemerintahan. Pada 1964, Duvalier mendaulatkan diri sebagai presiden seumur hidup dan di tahun itu Duvalier mengincar orang-orang yang menentangnya.
Joe tidak aktif dalam politik, tetapi saudaranya. Saat Duvalier mengincar keluarga Gaetjens, dua saudara dari Joe sudah melarikan diri ke Republik Dominika. Sementara Joe terlambat menyadarinya. Tonton Macoute datang ke binatu Joe dan menodongkan senjata untuk menangkapnya.
Joe menghilang. Keluarganya berusaha mencarinya, tetapi orang-orang terlalu takut berbicara. Istrinya Liliane mengetahui keberadaannya terakhir ada di Fort Diamanche, penjara untuk menyiksa tahanan.
Liliane dan anak-anaknya bertahan di Haiti dengan penuh ketakutan sampai 1966. Di awal tahun itu, Liliane terbang ke Puerto Rico dengan dalih liburan. Namun, itu adalah upaya untuk memulai hidup baru di sana.
Liliane sepanjang tahun itu hingga 1972 masih berharap Joe masih hidup. Namun, Liliane akhirnya mendapatkan kabar bahwa Joe sudah tiada. Kabar itu diterima setahun setelah Duvalier meninggal dunia. Namun, keluarganya tidak pernah mendapati jasad dari Joe. Sekitar 30 ribu orang diperkirakan menjadi korban kediktatoran Duvalier. Untuk Joe Gaetjens, sebagai tanda penghormatan, otoritas sepak bola AS memasukkannya ke dalam Hall of Fame pada 1976.