Walaupun kampanye mengurangi penggunaan kertas sudah masif, tetapi kita masih belum sepenuhnya lepas dari ketergantungan pada kertas. Dokumen kantor, skripsi, buku, hingga formulir administrasi masih dicetak dan kebanyakan ukurannya seragam. Di Indonesia, ukuran yang paling umum adalah A4. Menariknya, sejarah kertas juga memengaruhi perkembangan standar ini di berbagai negara.
Namun, ketika dokumen dari luar negeri dicetak, terkadang tata letaknya berubah. Margin bergeser, paragraf terpotong, atau halaman bertambah satu secara otomatis. Penyebabnya? Dunia tidak sepenuhnya sepakat soal ukuran kertas yang digunakan.
Di balik perbedaan ukuran kertas antara A4 dan Letter, ada sejarah panjang mengenai hal ini. Pelibatan teknologi percetakan, matematika, dan kebiasaan industri selama ratusan tahun memengaruhinya. Sejarah kertas memang berjalan seiring perkembangan peradaban manusia.
Dari pengrajin kertas ke mesin cetak
Pada awalnya, kertas memang tidak punya ukuran standar. Cerita tentang kertas dimulai di negeri Tiongkok, berdasarkan bukti arkeologi yang ditemukan. Penemuan kertas paling sering dikaitkan dengan pejabat istana Dinasti Han bernama Cai Lun pada 105 masehi. Ia bukan penemu kertas pertama, tetapi yang menyempurnakan teknik pembuatannya dan melaporkannya secara resmi kepada kaisar saat itu.
Di China, sebelum kertas, segala informasi ditulis di berbagai media, salah satunya adalah bambu. Teks itu diukir di bilah bambu dan diikat menjadi semacam buku. Ada juga menggunakan sutra, tetapi biayanya menjadi mahal dan tidak praktis.
Selama beberapa abad, teknologi kertas ini hampir sepenuhnya dikuasai China dan tersimpan rapat menjadi rahasia. Namun, penyebarannya dimulai kala terjadi peperangan antara Dinasti Tang Cina dan Kekhalifahan Abbasiyah. Perang ini dikenal sebagai Battle of Talas.

Dalam perang ini, pasukan Abbasiyah berhasil menangkap beberapa pengrajin kertas dari China. Dari merekalah teknologi pembuatan kertas masuk ke dunia Islam. Kota pertama yang menjadi pusat produksi adalah Samarkand, yang kini berada di wilayah Uzbekistan. Dari kota ini, teknologi pembuatan kertas menyebar dengan cepat ke Baghdad, Damaskus, dan Kairo.
Dunia Islam kemudian memainkan peran besar dalam menyempurnakan industri kertas. Beberapa bahan baku diganti. Mereka mulai menggunakan linen dan rami yang lebih tersedia di wilayah tersebut. Teknik pemutihan dan penghalusan kertas mulai ditemukan sehingga lebih cocok untuk digoreskan tinta.
Berkembangnya dunia kertas ini membuat banyak karya matematika, astronomi, dan filsafat berkembang. Kertas menjadi fondasi berkembangnya ilmu pengetahuan di era Abbasiyah. Selain itu, sejarah kertas di dunia Islam menjadi fondasi penting dalam penyebaran teknologi ini ke Eropa.

Teknologi percetakan ini mulai masuk ke Eropa sekitar abad ke-11 melalui wilayah yang saat itu berada di bawah pengaruh dunia Islam. Salah satu produksi awalnya ada di Xativa, Spanyol. Dari sini, mulai menyebar ke Italia, terutama kota Fabriano. Teknologi baru seperti palu hidrolik, penggunaan gelatin, dan watermark mulai digunakan.
Mesin cetak pun ditemukan oleh Johannes Gutenberg pada 1450 yang meningkatkan permintaan kertas secara eksplosif. Industri percetakan ini membuat orang tidak perlu menyalin dengan tangan, tetapi bisa menghasilkan ratusan halaman dalam waktu singkat. Hal ini menandai babak baru dalam sejarah kertas modern.
Baca juga: Cai Lun dan Lahirnya Kertas Modern
Ide matematika yang mengubah dunia cetak
Di tengah mekarnya industri kertas, perubahan besar terjadi pada akhir abad ke-18. Seorang ilmuwan Jerman Georg Christoph Lichtenbeg menyadari jika sebuah kertas punya rasio panjang dan lebar tertentu, maka ketika kertas dilipat jadi dua, bentuknya tetap proporsional.
Rasio yang dia maksud adalah akar dua (√2). Menurutnya, persegi panjang dengan rasio √2 punya sifat unik karena ketika dibagi dua pada sisi panjangnya, bentuk yang dihasilkan rasionya tetap sama. Dengan kata lain, ukuran besar dan kecilnya tetap sebangun.
Konsep ini jelas berguna bagi industri percetakan kala itu, sebab saat kertas dipotong atau dilipat, proporsi halaman tidak berubah.
Lahirnya ukuran kertas A

Sistem ukuran ini diterapkan pada abad ke-20. Pada 1922, Jerman memperkenalkan ukuran standar kertas melalui sistem DIN 476, yang kemudian diadopsi internasional oleh International Organization for Standardization (ISO) 216. Dari sinilah “keluarga” ukuran kertas A lahir.
Seri ini dimulai dengan A0 yang punya luas tepat satu meter persegi. Jika A0 dipotong menjadi dua, hasilnya adalah A1. Dipotong lagi menjadi A2, kemudian A3, hingga A4 dan seterusnya. Karena semuanya mengikuti rasio √2, setiap ukuran tetap memiliki proporsi yang sama.
Ukuran yang paling populer adalah A4 paper size dengan dimensi 210 × 297 milimeter. Format ini akhirnya menjadi standar dokumen di sebagian besar dunia, termasuk Indonesia, Eropa, dan banyak negara Asia.
Amerika punya ukuran berbeda, kenapa?
Amerika Serikat tetap menggunakan ukuran kertas yang berasal dari tradisi percetakan lama. Dari sistem ini muncul ukuran seperti Letter paper size dan Legal paper size.
Ukuran tersebut tidak memiliki rasio matematis khusus seperti seri A. Ia bertahan karena faktor sejarah industri percetakan dan kebiasaan administrasi yang sudah terbentuk sejak lama.

Akibatnya, dunia memiliki dua standar utama ukuran kertas. Sebagian besar negara menggunakan sistem ISO dengan ukuran A4, sementara Amerika Serikat dan beberapa negara lain tetap menggunakan Letter.
Perbedaannya sebenarnya kecil. A4 sedikit lebih tinggi dan sedikit lebih sempit dibanding Letter. Namun selisih beberapa milimeter ini cukup untuk memengaruhi tata letak dokumen.
Ukuran kertas ini cukup memengaruhi peradaban manusia. Benda kecil seperti kertas ini punya peran dalam membentuk sejarah manusia, sebab melalui kertas sains, industri, bahkan kebiasaan manusia perlahan membentuk standar dunia. Dengan demikian, sejarah kertas memiliki pengaruh besar terhadap cara manusia berinteraksi dengan informasi sepanjang masa.