
Jas Bukan Cuma Buat Kantoran: Bang Baron Jualan Bakso Juga Pakai! Omzet Rp3 Juta Sehari
Pakaian rapi berjas, berdasi, dan bersepatu pantofel memang identik dengan pegawai kantoran atau pejabat. Selama ini ada semacam aturan tak tertulis tentang siapa yang pantas memakainya. Tapi, Bang Baron berani menabrak aturan itu.
Sugiyo, atau yang akrab disapa Bang Baron, seorang pedagang bakso gerobakan di gang sempit di Cilincing punya gaya berpakaiannya sendiri. Ia dagang mengenakan jas yang disetrika licin, peci, kacamata hitam, dan sepatu mengilap.
Apa yang dilakuka Bang Baron menunjukkan bahwa berdagang di pinggir jalan pun punya hak yang sama untuk terlihat bermartabat lewat pakaian yang pantas.
Dari Jualan Bubur ke Bakso
Baron bukan pemain baru di dunia dagang. Ia merantau dari Brebes sejak 2005. Saat itu, ia langsung berjualan bubur di Jakarta. Bukan main-main, usahanya itu bertahan selama 16 tahun.
“Merantau ke Jakarta dari tahun 2005, itu langsung dagang bubur di sini, dagang bubur 16 tahun,” ujar Baron, dikutip dari Kompas.com.
Sejak awal, ia memang sudah terbiasa tampil rapi. Kemeja, celana bahan, dan sepatu pantofel sudah jadi seragam hariannya. Tapi transformasi besar-besaran baru terjadi tiga tahun terakhir, saat ia beralih menjual bakso keliling.
Ide tampil berlagak layaknya pejabat ternyata bukan murni ide dari dirinya sendiri. Ada pembeli yang tiba-tiba menyodorkan jas dan kacamata kala itu.
“Idenya pembeli… terus dikasih dasi, jas, ama kacamata,” kata Baron.
Dari situlah, identitasnya terbentuk. Ia kerap mengenakan setelan itu sebagai seragam dagang. Kini, ia memiliki empat setel jas dan semuanya pemberian pelanggan.
Bagi Baron, penampilan rapi bukan hanya soal menarik perhatian. Ia ingin berkeliling menjajakan dagangannya dengan tetap menjaga kebersihan dan kesopanan saat melayani pembeli.
Baron menggunakan sarung tangan saat melayani pembeli. Setiap melayani, ia juga punya kebiasaan dengan menyebut nama Tuhan.
“Saya pas melayani selalu membacakan Bismillah supaya rasanya pas,” ucapnya.
Dan, jangan kaget jika Kawan akan dipanggil “Sayang”. Bang Baron memang suka menyapa pelanggan dengan sebutan itu.
Omzet Fantastis dari Gang Sempit
Strategi unik yang diterapkan Bang Baron bisa dibilang cukup sukses. Baksonya pun sudah sampai ke penjuru kota dari telinga ke telinga. Dalam sehari, Baron bisa menjual 270–300 porsi bakso.
“Kalau misal Rp10.000 berarti Rp3 juta,” ujarnya.
Jika dikalkulasi, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp90 juta per bulan.
Harga yang ditawarkan yakni Rp10.000 untuk porsi standar dan Rp15.000 untuk porsi besar. Meski demikian, pembelian Rp3.000 pun tetap dilayani.
“Harganya Rp 10.000 tapi baksonya banyak,” kata Imas (50), salah satu pelanggan Bang Baron.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.
Tim Editor