Meski awalnya sulit menerima, pelan tapi pasti Agung Rizki Satria bangkit dan akhirnya menjadi kebangaan keluarga, komunitas yang kini ia geluti, dan tentu saja bangsa Indonesia.
“Ya, kalau bicara fase hidup saya, awalnya kondisi biasa. Belum kehilangan satu kaki, jadi seperti main sama teman-teman yang lain, main apa saja,” kata Agung Rizki Satria.
“Terus kondisi yang sekarang itu karena kecelakaan bareng orang tua. Waktu itu mau mudik ke Palembang dari kampung waktu itu, Tanjung Enim namanya,” imbuhnya.
“Ke Palembang naik motor dengan bapak, ibu, dan adik. Saya duduk di depan, di tangki. Sepeda motornya yang ada tangki. Kalau enggak salah waktu itu usia 7 tahun, kelas 2 SD,” lanjutnya.
Menurut Agung Rizki Satria, saat kejadian ia sedang tertidur pulas. Jadi ia sama sekali tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ketika sadar, ia tak lagi memiliki kaki yang utuh.
“Waktu kejadian, posisinya saya sedang tidur. Jadi enggak tahu, bagaimana ceritanya. Ketika terbangun kondisi kaki sudah enggak ada lagi, sudah putus. Jadi sadar itu sudah di atas mobil yang kebuka,” Agung Rizki Satria menambahkan.
Tak hanya dirinya, kedua orang tuanya cedera. Beruntung, adiknya, yang juga masih sangat kecil kala itu, selamat alias tak mengalami luka berarti.
“Mungkin mobil-mobil pribadi enggak mau mengangkut. Jadi ya, kondisi yang parah yang enggak ada kaki. Orang tua patah tulang, hanya dipasang pen, masih bisa bergerak, masih bisa jalan, dan kalau ibu tangannya sempat patah juga. Kalau adik jatuh saja, enggak kenapa-kenapa,” tukas Agung Rizki Satria.