Legenda Asal Usul Gunung Arjuna, Cerita Rakyat dari Jawa Timur
Gunung Arjuna merupakan salah satu gunung berapi yang ada di daerah Jawa Timur. Konon ada sebuah cerita rakyat dari Jawa Timur yang menceritakan tentang legenda asal usul Gunung Arjuna.
Bagaimana kisah di balik legenda asal usul Gunung Arjuna tersebut?
Legenda Asal Usul Gunung Arjuna, Cerita Rakyat dari Jawa Timur
Dikutip dari buku Cerita Rakyat Nusantara, alkisah dalam cerita pewayangan ada lima orang saudara yang dikenal dengan sebutan Pandawa. Kelima saudara ini merupakan anak Prabu Pandu dari dua istri berbeda, yakni Kunti dan Madri.
Dari Kunti, Prabu Pandu mendapatkan tiga orang putra, yakni Yudistira, Bima, dan Arjuna. Sementara itu dari Madri, Prabu Pandu memiliki dua orang putra, yakni Nakula dan Sadewa.
Arjuna merupakan sosok yang paling sakti jika dibandingkan dengan keempat saudaranya. Dirinya juga merupakan jelmaan dari dewa perang, yakni Dewa Indra.
Meskipun memiliki kesaktian yang tinggi, Arjuna tetap tidak puas dengan kemampuannya tersebut. Oleh sebab itu, Arjuna memutuskan untuk pergi bertapa dan menambah kesaktian yang dia miliki.
Pada suatu hari, Arjuna kemudian pergi ke sebuah lereng gunung yang ada di barat Batu, Malang. Arjuna merasa lereng gunung ini merupakan tempat yang cocok baginya untuk bertapa.
Arjuna kemudian duduk bersila di atas sebuah batu besar. Dirinya kemudian memusatkan semua pikiran dan memulai pertapaannya.
Saking khusyuknya, cahaya terang bersinar dari tubuh Arjuna. Tiba-tiba puncak gunung tempat Arjuna bertapa mulai terangkat ke atas.
Puncak gunung itu terus tumbuh menjulang tinggi. Bahkan puncak gunung tersebut mulai menyentuh langit dan mengguncang Negeri Kahyangan.
Hal ini membuat para dewa yang ada di Negeri Kahyangan mulai khawatir. Para dewa kemudian mengutus Batara Narada ke bumi untuk mencari penyebab kegaduhan tersebut.
Batara Narada akhirnya melihat Arjuna yang tengah bertapa di lereng gunung. Dirinya kemudian membujuk Arjuna untuk menghentikan tapanya.
Arjuna mendengarkan perkataan Batara Narada. Namun dia enggan menghentikan pertapaan yang dilakukan.
Dirinya khawatir jika ilmu kesaktiannya tidak bertambah. Oleh sebab itu, Arjuna tetap meneruskan pertapaannya.
Batara Narada melaporkan hal ini pada Batara Guru. Melihat hal tersebut, Batara Guru kemudian mengutus tujuh bidadari tercantik dari Negeri Kahyangan untuk menggoda Arjuna.
Tujuh bidadari ini kemudian turun menghampiri Arjuna. Namun usaha yang mereka lakukan tetap gagal dan Arjuna terus melanjutkan pertapaannya.
Batara Guru tidak kehabisan akal. Dirinya kemudian mengutus para dedemit untuk mengganggu pertapaan Arjuna.
Namun para dedemit ini ternyata berhasil dikalahkan dengan mudah. Dedemit ini kemudian melaporkan kegagalan mereka pada Batara Guru.
Setelah berpikir cukup lama, Batara Guru teringat dengan Batara Semar, pengasuh Pandawa yang tinggal di bumi. Dirinya kemudian mengutus Batara Narada untuk meminta bantuan pada Batara Semar.
Batara Semar menyanggupi permintaan tersebut. Dirinya kemudian meminta bantuan Batara Togog untuk menjalankan tugas tersebut.
Mereka kemudian pergi ke lereng gunung tempat Arjuna bertapa. Mereka kemudian bertapa di sisi gunung dan memulai pertapaan.
Dengan kesaktian yang mereka miliki, Batara Semar dan Batara Togog memotong puncak gunung yang menjulang dan melemparkannya ke arah tenggara. Dentuman keras pun terdengar dan membuat Arjuna terbangun dari tapanya.
Arjuna terkejut melihat Batara Semar dan Batara Togog yang ada di hadapannya. Mereka kemudian menjelaskan jika pertapaan Arjuna bisa membahayakan Negeri Kahyangan.
Batara Semar kemudian berkata jika kesaktian yang dimiliki oleh Arjuna tidak perlu diragukan lagi. Teguran dari Batara Semar membuat Arjuna sadar akan kesalahannya.
Dirinya kemudian pergi dari gunung tersebut. Kelak gunung tempat Arjuna bertapa inilah yang menjadi asal usul Gunung Arjuna.
Sementara itu, potongan gunung yang dilemparkan oleh Batara Semar dan Batara Togog dikenal dengan nama Gunung Wurung.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News