Lama hidup di Semarang dan mendadak harus balik menetap di Jogja itu rasanya aneh. Saya merasa seperti ada yang memaksa melakukan sinkronisasi frekuensi.
Saya menghabiskan masa kecil saya di Kota Pelajar. Namun tetap saja, pemikiran saya sering bentrok dengan budaya lokal saat kembali menginjakkan kaki di sini sebagai orang dewasa. Terkadang, saya merasa seperti alien yang salah titik koordinat saat mendarat.
Nah, ada beberapa kejadian unik bila saya menilik menggunakan kacamata warga Semarang. Apa saja yang orang Jogja anggap wajar, justru menjadi teka-teki besar yang bertengger di kepala saya.
Namun, kesenjangan inilah yang akhirnya memancing tawa sekaligus ruang refleksi. Ringkasnya, setiap tempat memiliki aturan main sendiri yang begitu kuat dan spesial hingga selalu berhasil memantik rasa rindu.
#1 Orang Semarang menantang standar higienis demi kelezatan sate yang ditusuk jeruji
Sate yang saya tahu itu ditusuk pakai bambu. Namun di Jogja, ada kuliner khas yang menyajikan sate dengan tusukan jeruji sepeda. Bagi orang awam, metode pengolahan sate klatak ini jelas menabrak pakem kebersihan.
Herannya, saat saya cicipi, daging sate dengan bumbu sangat sederhana tersebut malah menyodorkan kenikmatan yang nggak pernah saya jumpai di Semarang. Logam panas ini justru menjadi konduktor jenius yang menghantarkan suhu sampai ke inti daging.
Hasilnya? Rasa gurih, asin, dan juicy yang melampaui bayangan saya soal sedapnya sate selama ini.
#2 Inovasi bakso kubis di Jogja yang sukses bikin saya sampai melahap sampai habis
Bagi lidah warga Semarang, kehadiran tumpukan kubis mentah di dalam mangkok bakso panas adalah sebuah keganjilan yang sangat mencurigakan. Siapa sangka, pertemuan absurd saya dengan bakso legendaris di kawasan Kridosono ini justru memberikan dimensi tekstur baru yang sangat istimewa di tengah gurihnya kaldu.
Ternyata, gebrakan sederhana bin nyeleneh ini sanggup melahirkan rasa yang bikin saya menyerah. Saya bahkan melahapnya sampai tandas.
#3 Belalang goreng, bukti bahwa protein nggak melulu dari ayam dan sapi
Di Jogja, belalang naik kelas menjadi komoditas kuliner yang bikin dahi orang luar mengernyit sekaligus penasaran. Mengunyah belalang atau tidak ada yang digoreng yang renyah dan gurih ini adalah cara paling efisien memenuhi asupan protein bagi tubuh.
Mulanya memang lantaran tuntutan ekonomi. Lambat laun, malah jadi kuliner khas yang diminati. Meski terdengar ekstem, kearifan lokal tersebut menjadi bukti bahwa sesuatu yang dianggap mengganggu pun bisa menjadi sajian bernilai budaya jika ditangani dengan mentalitas orang Jogja.
#4 Paradoks burjo yang “aneh” di mata orang Semarang
Burjo di Jogja adalah sebuah “kebohongan publik” yang paling diterima dengan ikhlas oleh semua orang. Sebagai orang Semarang, yang saya pahami, burjo itu akronim dari bubur kacang hijau. Pikir saya, tentu penjualnya menjajakan bubur kacang hijau.
Kocaknya, daftar pesanan yang paling sering keluar adalah aneka olahan mie instan dengan berbagai modifikasi. Fakta ini bikin saya terkekeh.
Soalnya, di Semarang, tempat semacam ini lebih jujur menyebut dirinya “Warmindo”, sebuah plesetan pendek dari “warung Indomie”.
BACA JUGA: 5 Hal yang Bikin Saya Menderita ketika Pindah dari Jogja ke Semarang
#5 Anomali geografis, wisata pantai di Jogja yang terletak di “gunung”
Mungkin, hanya di Jogja seseorang harus “mendaki gunung dan melewati jalanan berkelok tajam” demi bisa bertemu dengan ombak laut selatan. Situasi ini pastinya jadi misteri bagi penduduk pesisir Semarang macam saya. Dari nalar saya, laut mestinya ada di dataran rendah.
Namun, kesombongan logika saya luntur seketika ombak dan pasir putih menyambut saya di deretan pantai kawasan Gunungkidul. Nyatanya, area ini dulunya memang dasar laut. Saya jadi sadar buat nggak petentang-petenteng lantaran menyandang predikat penghuni kota pelabuhan, lantas semaunya memukul rata orisinalitas pantai di setiap tempat.
Rangkaian keanehan khas Jogja tadi sukses menampar kekakuan yang saya pikul dari Kota Atlas. Sesekali meresapi kehidupan ala warga lokal itu wajib kalau mau tinggal di sana. Paling nggak, pengalaman ini bikin saya sadar bahwa rumah bukan hanya titik saya berasal, tapi juga tempat di mana saya belajar menertawakan kedangkalan diri sendiri.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Redaktur: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Kebiasaan yang Umum Dilakukan di Semarang, tapi Aneh saat Saya Lakukan di Jogja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 5 Mei 2026 oleh