Geliat musik Wonogiri kembali semarak oleh kehadiran unit townie rock, Cody and The Real Life (CTRL). Band ini resmi merilis album penuh perdana Townie Romance tanggal 24 April 2026. Karya ini menjadi wadah pembuktian Kevin Lim pada vokal, Isabel Cody (gitar), Ian Rifqi (gitar), Rakeen Diaz (drum), dan Adi Mahawira (bas).
Lebih dari sekadar kumpulan lagu, Townie Romance dibangun atas fondasi narasi yang kuat. Album dirancang sebagai satu alur cerita yang menyoroti kisah dua karakter, yakni Julian dan Rebecca.
“Dari awal nulis album ini, emang kami penginnya rilis album yang bener-bener utuh, bukan hanya kumpulan single yang hidup dengan cerita sendiri. Kami mapping dulu perjalanan emosinya dari awal ketemu hingga akhir,” kata Ian saat dihubungi Pophariini (04/04).
Untuk mendukung penyampaian cerita tersebut, band ini dengan cermat menyusun tata letak tracklist agar dinamika suasana hati pendengar bisa selaras dengan plot narasi.
“Makanya kami selalu nyaranin buat dengerin satu album penuh, bukan satu-satu agar experience-nya tetep ada,” tambah Ian.
Bahkan Cody and The Real Life tidak hanya berhenti pada medium audio. Mereka telah menyiapkan amunisi tambahan yang rencananya akan dilepas bersamaan dengan format perilisan fisik di bawah naungan Narimo Records.
“Sebenarnya kami juga bikin draft narasi buat album ini, supaya cerita yang belum bisa dirangkum di dalam lagu bisa tersampaikan juga,” ungkap Ian.
Di balik keutuhan ceritanya, proses pengerjaan album ini nyatanya melewati dua dapur rekaman yang berbeda. Perekaman instrumen drum dilakukan di studio Walakeos, sementara instrumen lainnya dieksekusi di Anonymous Record. Menariknya, keputusan ini diambil berdasarkan alasan yang cukup praktis.
“Kebetulan drumer kami, sebut aja Rakeen orangnya rajin banget alias males. Suruh otw 5 menit aja dia males, makanya untuk drum kami rekam di Walakeos. Selain kami suka sound drum di sana, lokasinya juga dekat sama rumah,” cerita Isabel.
Meskipun harus direkam secara terpisah, benang merah karakter suara dari seluruh instrumen tetap terjaga berkat bantuan sound engineer dari Anonymous Record. Selain menjadi tempat rekaman, keterikatan band ini dengan studio Walakeos, ternyata cukup mendalam. Tempat tersebut merupakan sebuah ruang kolektif yang sangat berkesan bagi mereka.
“Konsepnya lebih ke live session and talk sih. Jadi mungkin gak cuma sekadar main aja, tapi juga ada ruang buat ngobrol dan sharing soal proses kreatif,” ujar Kevin.
Pengalaman tampil di ruang tersebut sebelum album rilis meninggalkan memori yang manis bagi para personel. Ke depannya, mereka berharap dapat kembali menyambangi kolektif tersebut untuk merayakan kelahirannya karya terbaru ini.
“Walakeos itu jadi salah satu tempat yang pengin kami datengin lagi setelah rilisan album, mungkin karena konsepnya yang beda dan lebih personal jadi kerasa lebih deket ke audiens bakal seru juga sih,” tutup Kevin.