Yusof Ishak, Presiden Pertama Singapura yang Ternyata Keturunan Minangkabau
Yusof bin Ishak, atau lebih dikenal sebagai Yusof Ishak, adalah Presiden pertama Singapura yang dilantik pada 9 Agustus 1965. Pengangkatannya bertepatan dengan deklarasi kemerdekaan Singapura yang resmi menjadi sebuah negara berdaulat.
Menariknya, jika ditilik ke belakang, ternyata Yusof bukanlah orang sembarangan. Ia memiliki darah Minangkabau dan Melayu Langkat yang diturunkan dari kedua orang tuanya. Leluhurnya juga merupakan bangsawan termashyur di Minangkabau di masanya.
Keturunan Minangkabau
Disadur dari National Library Board (NLB) yang dikelola Kementerian Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Yusof Ishak memiliki darah Minangkabau dari ayahnya. Bahkan, dikatakan bahwa keluarga ayahnya merupakan keturunan bangsawan Minangkabau, Datok Janaton.
Datok Janaton bersama dengan saudaranya, Datok Setia, serta pengikut mereka, berhijrah ke Kedah di pertengahan abad ke-18. Mereka juga berikrar setia pada Sultan Kedah 4 dan menetap di sana.
Sementara itu, bapaknya, Ishak bin Ahmad, adalah seorang pejabat pemerintah. Setelah menempuh sekolah di Inggris, Ishak bekerja di Dinas Administrasi Malaya dan bertugas sebgai juru tulis di kantor distrik di Taiping. Kemudian, ia pindah ke Departemen Perikanan.
Di tahun 1923, Ishak dipindahkan ke Singapura untuk menjabat sebagai Asisten Inspektur Perikanan. Ia bahkan menjadi orang non-Eropa pertama yang diangkat menjadi direktur Departemen Perikanan.
Di sisi lain, ibu Yusof merupakan keturunan Melayu Langkat, Sumatra Utara. Yusof sendiri adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Namun, meskipun memiliki keterikatan dengan Sumatra, Yusof lahir di Perak, Malaysia, sebelum keluarganya pindah ke Singapura.
Semasa sekolah, Yusof unggul di bidang akademik. Tak hanya itu, ia juga aktif dalam olahraga dan mengikuti berbagai perlombaan, mulai dari hoki, kriket, renang, polo air, basket, tinju, sampai angkat besi.
Dari Jurnalis Menjadi Presiden
Mengutip dari situs resmi Kepresidenan Singapura, sebelum terjun ke dunia politik, Yusof berkarier di bidang jurnalis. Sebetulnya, ia bercita-cita menjadi pengacara. Akan tetapi, ayahnya tidak mampu membiayai studinya ke Inggris.
Ia sempat bergabung dengan Akademi Kepolisian di Kuala Lmpur, tapi keluar. Kemudian, saat kembali ke Singapura, bersama dengan rekan-rekannya, ia menerbitkan majalah Sportsman. Sesuai namanya, majalah itu membahas soal olahraga dan terbit dua mingguan.
Di tahun 1932, ia bergabung dengan Warta Malaya, sebuah surat kabar Melayu terkemuka kala itu. Kemampuan jurnalistiknya yang moncer ternyata membawa kariernya meroket dalam waktu singkat. Ia diangkat sebagai Asisten Manajer dan Editor Sementara.
Namun, di tahun 1938, Yusof mengundurkan diri. Bersama dengan teman-teman dekatnya, ia mendirikan Utusan Melayu Press Ltd. Ia menjadi Direktur Utama pertamanya.
Kariernya tidak berhenti di situ. Encik Yusof, begitu ia biasa dipanggil, pernah bertandang ke Inggris di tahun 1948 sebagai anggota Delegasi Pers Pertama. Selain itu, ia juga pernah menjadi Presiden Klub Pers Malaya.
Jejak dan dedikasinya yang luar biasa ini menuntunnya mendapatkan lebih banyak spotlight di pemerintahan Singapura. Uniknya, ia juga pernah diangkat sebagai Ketua Komisi Pelayanan Publik Singapura dan Rektor Universitas Singapura.
Kemudian, pada 3 Desember 1959, Encik Yusof diangkat sebagai Yang di-Pertuan Negara Singapura. Di masa ini, dia banyak berkunjung ke negara-negara sahabat.
Akhirnya, setelah Singapura memutuskan keluar dari Federasi Malaysia dan menjadi negara yang berdaulat pada 9 Agustus 1965, Yusof diangkat menjadi Presiden pertama Singapura. Ia bertahta hingga akhir hayatnya. Sang Presiden wafat pada 23 November 1970.
Kepergiannya membawa duka mendalam bagi masyarakat Singapura. Bukan hanya itu, banyak negara dan tokoh-tokoh besar berduka atas wafatnya tokoh yang sangat nasionalis itu. Saat pemakamannya, Menteri Luar Negeri Indonesia kala itu, Adam Malik, ikut melawat ke rumah duka.
Sebagai bentuk penghormatan kepada Encik Yusof, pemerintah Singapura mengabadikannya di uang kertas dolar Singapura sejak 1999. Encik Yusof dianggap sebagai pemersatu bangsa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News