1. News
  2. Kombitainment
  3. Milli Sayidan, Upaya Shaggydog Menjaga Napas Skena Musik Jogja

Milli Sayidan, Upaya Shaggydog Menjaga Napas Skena Musik Jogja

milli-sayidan,-upaya-shaggydog-menjaga-napas-skena-musik-jogja
Milli Sayidan, Upaya Shaggydog Menjaga Napas Skena Musik Jogja

Di Sayidan ternyata belum selesai hanya lewat lagu Shaggydog. Shaggydog mencoba memperpanjang napas Sayidan dengan membuat tempat nongkrong yang sangat musikal. Tempat itu mereka namai Milli Sayidan. Seperti namanya yang berarti “mengalir”, Shaggydog mencoba melanjutkan semangat “tuang sekali gelasmu kawan” lewat unit usaha barunya tersebut.

Saya menemui Heru Wahyono, vokalis Shaggydog yang juga merupakan salah satu pendiri Milli Sayidan, pada Selasa pagi, 5 Mei 2026. Pagi itu, seluruh personel Shaggydog sedang berkumpul di Milli Sayidan untuk membuat konten media sosial. Mereka saat itu sedang mempromosikan Milli Sayidan yang akan buka di pagi hari.

Milli Sayidan terletak di Jalan Lobaningratan Nomor 7 yang masih merupakan satu kawasan dengan Kampung Sayidan di Kelurahan Prawirodirjan. Lokasinya selemparan batu dari Polsek Gondomanan. Tak hanya unit usaha F&B, Milli Sayidan saat ini juga menjadi kantor Shaggydog beserta beberapa unit usahanya. Di antaranya adalah DoggyHouse Records, DoggyShop Jogja, dan manajemen Shaggydog. Di sana juga terdapat studio tato “Tengkorak Kecil” milik Raphael Danu, vokalis band pop punk Morning Horny, serta satu ruang kosong yang menunggu untuk disewa.

Dengan ramah Heru menyapa saya yang datang telat 15 menit. Di mejanya sudah tersedia kopi hitam dan makanan ringan, sementara saya memesan es teh tawar. Saat itu Heru masih bercengkerama dengan anak gadisnya yang beranjak remaja. Suasana Milli Sayidan pagi itu terasa sangat kekeluargaan. Bapak-bapak itu tampak ceria setelah mengantar anak-anak mereka berangkat sekolah. Berbeda sekali dengan suasana malam yang penuh hingar-bingar dan minuman beralkohol.

Suasana malam hari di Milli Sayidan

“Nama Milli itu dipilih oleh Raymond (gitaris Shaggydog). Mili itu artinya mengalir. Karena lokasinya dekat dengan Sungai Code dan Shaggydog adalah band yang cukup mengalir dan organik. Kami memakai Milli dengan tambahan huruf ‘L’ agar juga bisa menjadi nama orang. Jadi ada dua arti. Milli juga bisa berarti gelas yang terus terisi atau dituang,” kata Heru membuka obrolan dengan senyuman khasnya.

Ide membuat semacam bar yang bisa dipakai untuk mengadakan gigs, disampaikan Heru, sudah hampir 15 tahun direncanakan. Namun, baru tahun lalu ide tersebut bisa direalisasikan. Selain menunggu tabungan Shaggydog cukup, mereka juga mencari lokasi yang tepat di sekitar Kota Yogyakarta.

Sebelum mendapatkan rumah di Jalan Lobaningratan, Shaggydog beberapa kali melakukan survei lokasi namun belum mendapat tempat yang cocok. Mereka justru mendapatkan rumah di sekitar Sayidan yang merupakan tempat nongkrong mereka di masa lalu. Diketahui bahwa dua personel Shaggydog yang memiliki rumah di Sayidan adalah Richard Bernardo dan Bandizt yang masih bersaudara sepupu.

“Tetangga-tetangga sini memberi tahu, eh itu dikontrakkan, disewakan padahal enggak ada tulisannya. Lalu kami dapat tempat ini, di Sayidan, akhirnya kami balik ke sini lagi,” ucap Heru.

Eksekusi rumah yang akan dijadikan markas baru Shaggydog ini dimulai sekitar 2024. Mereka pun merombak habis rumah keluarga yang sudah mangkrak selama empat tahun. Rumah tersebut, disampaikan Heru, sebelumnya merupakan rumah induk dari satu keluarga besar. Namun, karena yang tinggal di sana sudah beranak-pinak dan pindah keluar daerah, rumah tersebut akhirnya kosong.

“Tempat ini dulunya rumah keluarga besar, kalau bahasa Jawanya pabon atau rumah induk. Sudah terbengkalai selama empat tahun, bentuknya sudah seperti hutan kecil. Kami membersihkannya menggunakan uang tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun.”

Heru mengungkapkan keinginan Shaggydog sebenarnya sederhana. Mereka ingin membuat semacam markas yang wujudnya bisa seperti CBGB OMFUG. Keinginan tersebut bisa jadi karena mereka adalah band ska yang tumbuh di skena punk. Membuat semacam bar independen seperti CBGB tampaknya memang menjadi cita-cita banyak anak punk.

Penampilan The Glad yang tampil saat launching single Lodse, bersama Shaggydog dan Rebellion Rose.

Seiring bertambahnya usia, keinginan untuk menyaksikan anak-anak muda baru yang tumbuh dari skena musik Yogyakarta semakin muncul. Heru juga mengingat perjuangannya dulu pada akhir era 1990-an saat kafe-kafe yang tersedia hanya menyajikan musik Top 40. Pada masa itu jarang sekali ada band yang berani menampilkan karya sendiri. Panggung untuk sekadar latihan tampil pun menjadi sangat minim.

“Kami memang dari dulu punya cita-cita tempat nongkrong. Punya tempat nongkrong, selain nongkrong juga ada tempat gigs, ada venue-nya. Supaya kalau mau bikin acara lebih mudah di tempat sendiri, lalu juga bisa menyediakan panggung untuk band-band lain, terutama yang baru naik atau baru merilis karya,” ujar Heru.

“Karena kami juga merasakan bagaimana rasanya waktu itu. Musik kami tidak mainstream dan banyak kafe lebih cenderung memainkan lagu Top 40. Dengan begitu kami merasa band-band seperti kami harus diberi tempat,” tambahnya.

Semangat untuk membangun ruang bagi musisi-musisi baru tampil itulah yang menjadi spirit Shaggydog membangun Milli. Karena tidak bisa dimungkiri bahwa Shaggydog juga lahir dan tumbuh dari skena musik bawah tanah semacam ini. Saling mendukung dari pecinta musik berbagai elemen saat itu membuat Shaggydog bisa sampai di titik sekarang.

Heru menjelaskan bahwa Milli juga merupakan sumbangsih Shaggydog untuk skena musik Yogyakarta. Mereka ingin memberikan kembali sesuatu yang telah mereka raih dari skena. Oleh sebab itu, Milli tidak terpaku pada satu genre musik tertentu. Tak sekadar menampilkan musik, Milli juga diharapkan bisa menghadirkan lokakarya yang berhubungan dengan musik.

Setahun beroperasi, Heru mengungkapkan bahwa mereka masih melakukan pembenahan di beberapa aspek. Pembenahan seperti ini menurutnya tidak bisa dilakukan secara instan. Semua dilakukan bertahap karena membutuhkan pondasi keuangan yang masih diputar. Pembenahan termasuk dalam hal akustik ruangan, pemasangan AC, hingga promosi dan manajemen.

“Sebentar lagi mau kami pasang AC karena kalau ada acara gerah banget. Jadi nanti mau ada pintunya, bisa ditutup. Kalau pas event AC-nya dinyalakan, cuma enggak boleh merokok. Nanti selesai event bisa dibuka lagi demi kenyamanan,” kata Heru.

Launching single “Jogja Lantai Dua”, single Fanny Soegi featuring Heru Wahyono pada 25 April 2026.

Berbicara tentang subsidi Shaggydog terhadap Milli, Heru mengungkapkan bahwa subsidi tersebut hanya berjalan enam bulan pertama. Setelah itu Milli sanggup mandiri menghidupi dirinya sendiri. Heru menilai prinsip kemandirian harus ditanamkan agar Milli tidak menjadi unit usaha yang manja. Banyaknya tempat nongkrong musik di Yogyakarta yang tutup karena bergantung pada event menjadi pelajaran agar hal tersebut tidak terulang lagi.

“Makanya penting untuk membangun komunitas dan jaringan. Kalau enggak ada komunitas, agak goyah. Beruntungnya Shaggydog dikelilingi komunitas, baik komunitas musisi, seniman, promotor, dan macam-macam. Trust ini harus dijaga. Kadang miris juga melihat ada tempat skena tutup karena tidak mampu membangun jaringan semacam ini,” ucapnya serius.

Melihat ancaman banyak tempat event musik tutup, Heru dan kawan-kawan mencoba menggunakan berbagai cara agar Milli tetap bertahan. Mulai dari promosi menggunakan seluruh platform media sosial hingga membuat event rutin. Semua dilakukan agar Milli tidak monoton dan bisa menjaring konsumen yang lebih luas.

Strategi menarik yang dilakukan Milli adalah membuat promo minuman koktail dengan harga terjangkau saat gelaran gigs berlangsung. Hal ini meminimalkan kemungkinan penonton membawa minuman beralkohol dari luar.

Milli juga mempunyai beragam program gigs dan non-gigs yang akan rutin diselenggarakan. Agenda rutin musik yang tersedia di Milli di antaranya OJAM yang merupakan akronim dari Open Jamming. OJAM terbagi menjadi OJAM Jazz Night, OJAM Blues Night, dan Singgah Merekam. Program Singgah Merekam lebih mengakomodasi band-band yang sedang tur di Yogyakarta. Untuk gigs rutin ada Majegga Gigs yang diinisiasi oleh DoggyHouse Records asuhan Indra Menus.

Milli juga terbuka untuk pegiat event yang ingin menggunakan tempatnya untuk konser maupun promosi album. Event yang pernah diselenggarakan di Milli di antaranya Simak Siar, Anti Nganggur Gigs, Melangkah Bersama, Sound of Passion, dan masih banyak lagi. Milli juga menjadi tempat promosi festival musik seperti Cherrypop maupun acara rokok dan minuman beralkohol.

Untuk program non-gigs, Milli mengadakan “Pagi-pagi Sarapan Musik”. Event ini merupakan program talkshow yang membicarakan musik secara luas, baik industrinya maupun rilisan fisik. Di Milli juga sedang direncanakan agenda lokakarya pengarsipan musik dan fotografi yang akan diselenggarakan pada Juni 2026.

Jalan-jalan di Sayidan yang dipandu oleh personel Shaggydog

Milli juga berusaha menjadi inisiator kegiatan Jalan-Jalan di Sayidan. Kegiatan ini merupakan agenda berjalan menyusuri Kampung Sayidan yang dipandu personel Shaggydog serta mengakomodasi komunitas sepeda untuk bersepeda bersama personel Shaggydog.

Yang menyenangkan dari nongkrong di Milli barangkali adalah kita bisa menemukan berbagai keajaiban kecil yang terjadi. Termasuk kesempatan nongkrong bersama personel Shaggydog. Dengan ramah kita bisa merasakan obrolan hangat dengan mereka karena di Jogja segala kemungkinan semacam itu masih bisa terjadi. Jika beruntung, ketika nongkrong malam hari kita juga bisa menyaksikan Shaggydog mengokupasi panggung sebagai ajang latihan mereka.

“Semoga bisa sustain, bisa bertahan lama dan menjadi pengabdian kami ke skena. Kami dibesarkan oleh komunitas dan skena, sekarang saatnya give back ke adik-adik. Ini tempat nggonen nyoh, silakan dipakai. Semoga bisa menjadi wadah buat skena musik dan seni di Jogja. Nggonen, aku tak nonton ning pojok,” ujar Heru sambil terkekeh menutup obrolan.

Obrolan pun berakhir ketika Heru dipanggil untuk membuat konten. Kursi Heru yang kosong di depan saya tiba-tiba diduduki Yoyok sang drummer. Obrolan saya dengan Yoyok pun tidak membahas musik ska dan turunannya, melainkan justru death metal. Patut diketahui, Yoyok dulunya merupakan salah satu anggota Jogjakarta Corpse Grinder, komunitas metal di Jogja yang berdiri pada 1994. Obrolan kami pun luwes ngalor-ngidul yang membuktikan bahwa Shaggydog tetap membumi, bukan seperti band elit yang sulit disentuh.

Jogjakarta memang punya masalah dengan tempat musik yang tampaknya sulit bertahan lama. Bunker Cafe, Boogie Down, deCored, Semesta, dan yang terbaru Asmara Art and Coffee Shop (Ascos) telah tutup. Selalu ada cerita sedih ketika tempat-tempat legendaris itu tutup. Gosip soal penutupan yang tidak baik-baik saja tentu menjadi obrolan yang tidak menyenangkan bagi kita yang punya kenangan di tempat tersebut.

Namun, di tengah bayang-bayang kegagalan manajemen dan riuh rendah kabar penutupan yang menyisakan pilu, Milli Sayidan hadir bukan sekadar sebagai kafe baru, melainkan sebagai upaya penebusan. Ia berdiri di atas fondasi kesadaran bahwa sebuah ruang musik tidak bisa hanya mengandalkan euforia acara semata.

Shaggydog seolah ingin memutus kutukan tempat-tempat “mati muda” di Jogja dengan cara kembali ke dasar, yakni memperkuat manajemen, menjaga kemandirian finansial tanpa terus-menerus menyusu pada subsidi, dan yang paling krusial, merawat kepercayaan komunitas yang mengelilinginya. Bagi Heru dan kawan-kawan, Milli adalah pembuktian bahwa di kota yang upahnya sering dikeluhkan ini, sebuah ekosistem musik bisa tetap tegak berdiri asalkan dikelola dengan hati yang tulus dan tangan yang dingin.

Pagi itu, obrolan kami berakhir seiring matahari yang kian naik di atas Kemantren Gondomanan. Milli Sayidan barangkali memang sebuah unit bisnis, namun spiritnya jauh melampaui angka-angka di atas kertas. Ia adalah rumah yang pintunya terbuka lebar bagi siapa saja yang ingin mencicipi denyut asli skena Yogyakarta.

Jika kamu beruntung, datanglah sore hari, duduklah di salah satu sudutnya, dan siapa tahu kamu tidak hanya pulang dengan perut kenyang, tetapi juga membawa cerita tentang obrolan tak terduga bersama para pahlawan musik Jogjakarta itu.

Shaggydog dan Milli-nya telah membuktikan bahwa Sayidan bukan sekadar judul lagu yang meledak dua dekade silam. Ia adalah komitmen. Melalui Milli Sayidan, mereka sedang membangun jembatan bagi generasi masa depan untuk menyeberang ke industri yang lebih luas.

Menutup obrolan pagi itu, satu hal yang saya catat: Shaggydog sudah selesai dengan ego mereka sebagai bintang dan kini mereka sedang asyik menjadi penonton di pojokan, menyaksikan bibit-bibit baru tumbuh dari panggung yang mereka bangun sendiri. Sebuah estafet budaya yang membuat Jogja akan selalu punya alasan untuk dirindukan.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Milli Sayidan, Upaya Shaggydog Menjaga Napas Skena Musik Jogja
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us