
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimisme tinggi terhadap ketahanan ekonomi nasional yang terus menunjukkan tren positif. Dalam pembukaan Jogja Financial Festival (Finfest) 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Jumat (22/5), Menkeu mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 berhasil menyentuh angka 5,61 persen secara tahunan (yoy).
Angka ini tercatat sebagai capaian tertinggi sejak kuartal III-2022. Purbaya menjelaskan bahwa performa impresif ini didorong oleh kombinasi kuat antara konsumsi rumah tangga, investasi, serta efisiensi belanja pemerintah.
“Ini juga karena kita bisa mengelola anggaran lebih efisien dan memastikan sektor swasta tetap hidup,” ujar Purbaya di hadapan peserta Finfest 2026. Sejumlah indikator pendukung seperti indeks keyakinan konsumen, penjualan kendaraan bermotor, hingga konsumsi listrik dan BBM menunjukkan grafik yang terus menanjak.
Alarm Pinjol dan Kesenjangan Literasi
Meski indikator makro menunjukkan penguatan, Gubernur DIY Sri Sultan HB X memberikan catatan kritis terkait kualitas pertumbuhan tersebut. Sultan menyoroti fenomena digitalisasi keuangan yang tidak dibarengi dengan kematangan literasi masyarakat.
Berdasarkan data SNLIK 2025 (OJK-BPS), terdapat jurang lebar antara indeks inklusi keuangan yang mencapai 80,51 persen dengan indeks literasi yang hanya berada di angka 66,46 persen. Ketimpangan ini, menurut Sultan, menjadi celah bagi munculnya masalah sosial baru.
Data Krusial Pinjaman Online (Maret 2026):
- Total Outstanding Nasional: Rp101,03 Triliun
- Jumlah Peminjam Aktif: 26 Juta Orang
“Tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar memperluas akses keuangan, melainkan memastikan akses tersebut membuat masyarakat berdaya, bukan terjebak dalam konsumsi impulsif atau jeratan utang,” tegas Sri Sultan.
Sultan mengingatkan agar masyarakat tidak membiarkan uang “naik takhta” menjadi tujuan akhir, melainkan tetap sebagai sarana memuliakan kehidupan. Ia mendorong agar generasi muda, khususnya di Yogyakarta, tidak hanya cerdas secara digital tetapi juga memiliki martabat dalam setiap keputusan ekonomi.
Membangun Ketahanan Finansial Masa Depan
Senada dengan Sultan, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menekankan pentingnya etika di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Buatan (AI) di sektor keuangan. Ia menilai transaksi digital berkembang jauh lebih cepat daripada daya tahan literasi masyarakat.
“Kita tidak boleh membiarkan teknologi tumbuh lebih cepat daripada etika, literasi, dan tanggung jawab finansial sebagai bangsa,” kata Anggito. Melalui Finfest 2026, LPS berharap tercipta gerakan kolektif untuk membangun generasi yang mampu memitigasi risiko finansial di masa depan.
Pemerintah Provinsi DIY sendiri berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem pemberdayaan melalui budaya menabung dan kewirausahaan sejak usia sekolah guna membentengi warga dari risiko finansial era digital. (AT/I-1)