1. News
  2. Kombitainment
  3. Eksklusif Ndarboy Genk: Pop Jawa Kini Sudah Diterima Industri Musik

Eksklusif Ndarboy Genk: Pop Jawa Kini Sudah Diterima Industri Musik

eksklusif-ndarboy-genk:-pop-jawa-kini-sudah-diterima-industri-musik
Eksklusif Ndarboy Genk: Pop Jawa Kini Sudah Diterima Industri Musik

Ndarboy Genk resmi merilis singel baru berjudul “SEKIP (Setia Kui Pekok)” 19 Mei 2026 di platform streaming musik. Satu minggu jelang peluncurannya, sang musisi mengadakan acara Guyub bareng Musisi Yogyakarta di Mabes Balker, Bantul.

Saya menghadiri acara yang bekerja sama dengan Believe Indonesia dan KRUMULO tersebut. Ya, butuh waktu hampir satu jam dari tempat penginapan untuk tiba di sana sore hari.

Takjub melihat Mabes Balker sebagai bukti kesuksesan perjalanan Helarius Daru Indrajaya atau akrab disapa Daru selama ini. Menunggu kedatangannya untuk sesi wawancara tidak terlalu lama, sambil memerhatikan sekitar, ada koleksi motor tua, lalu di ruangan berbeda santai lengkap dengan fasilitas meja biliar.

Perbincangan kami terbilang intens kurang dari 30 menit di area yang biasa dipakai shooting konten video Mabes Balker Music.

“Pertamanya di sini itu dulu hutan. Banyak yang, apa namanya. Tanah di sini tuh bisa dibilang gak laku di daerah Bantul, Yogyakarta. Ini itu gunung nih, namanya Gunung Gunting. Aku pengin ngembangin Makaryo Bangun Deso, itu berkarya membangun desa dan dari desa. Terus kalau orang Jogja dan investor-investor itu kan kalau beli tanah daerah Joglor (Jogja Ngalor), Jogja Utara. Kami memilih untuk Jogsel (Jogja Selatan), dekat pantai juga. Puji syukur dapet tanah di sini, per meter dulu masih Rp150.000, 5 tahun yang lalu,” cerita Daru kepada saya. 

Ndarboy Genk saat memberikan kata sambutan di Guyub bareng Musisi Yogyakarta / Dok. Pohan

Semenjak ada Mabes Balker, tanah di sana kata Daru banyak yang minat dan sudah mahal. Saat ini harga tanah di wilayahnya sudah menyentuh harga satu juta rupiah per meter. 

“Ternyata lingkungannya banyak batik-batik yang pameran di luar negeri. Keris, kerajinan-kerajinan yang diproduksi oleh orang-orang lokal sini. Jadi ini tuh kampung seniman, yang musik belum ada. Ndarboy Genk memilih di sini, jadi Mabes Balker,” jelasnya tentang alasan memilih Bantul, yang mana jarak ke rumahnya hanya 15 menit dari Mabes Balker. 

Berbicara karier Ndarboy Genk sebagai musisi produktif, ia sudah memulainya sejak 2010. Kira-kira 11 tahun sebelum perilisan “Mendung Tanpo Udan”, yang kini berhasil diputar sebanyak lebih dari 68 juta kali di layanan streaming musik.

Setelah pernah menanyakan ke Daru tentang pilihan 5 lagu pop Jawa 4 tahun lalu, saya akhirnya bisa mengajukan lebih banyak pertanyaan. Simak langsung wawancara Pophariini bersama Ndarboy Genk di bawah ini.

Memulai karier sebagai musisi sejak 2010, apa hal yang paling berubah dari cara Ndarboy Genk memahami musik Jawa hari ini?

Dulu genre kayak identitas, dari style, cara berbicara, circle juga memengaruhi. Tapi sekarang kita lebih bisa terbuka, khususnya buat pendengar. Penikmat itu mereka tidak mengotak-ngotakkan genre atau industri musik sekarang. Yang dangdut, anak-anaknya nongkrong sama anak-anak hardcore, anak-anak hip-hop juga biasa gitu sekarang. Kalau dulu kan zamannya reggae, reggae semua, hardcore, hardcore semua. Dan sekarang lebih bervariatif. Makanya Ndarboy Genk menurutku salah satu pertumbuhan, tidak cuma jadi penyanyi. Saya juga belajar untuk jadi produser termasuk saya punya Mabes Balker Music ini sama BoyCord. Di situ saya menggabungkan satu channel label Indie yang menjadi wadah kreatif buat temen-temen daerah, tapi all genre, salah satunya “Kicau Mania”, itu kan hip hop. Mabes Balker itu manajemen artis, ada Ndarboy Genk, Alan Kasaji, dan masih banyak lagi. Lalu, punya channel label Live Session. Live Session itu ada namanya Mabes Balker Music. Kita punya tagline-nya, Musiknya Indonesia. Di situ juga kita cover-nya tetap dengan musik campur sari, dangdut. Tapi ada juga lagu-lagu Batak, Timur, Minang, berbagai daerah. BoyCord itu channel label untuk artis-artis yang memang belum punya wadah untuk mendistribusikan karya-karyanya. All genre, tapi original song.

Graffiti Mabes Balker Musiknya Indonesia / Dok. Pohan

Lanjut dari pertanyaan pertama tentang hal yang paling berubah, apakah rasanya sekarang musik Jawa ini lebih sebagai hiburan, identitas, atau tanggung jawab?

Bisa dibilang tanggung jawab juga karena kami dulu akar rumputnya kan sebetulnya yang megang, yang mempopulerkan juga Almarhum Didi Kempot, Almarhum Pak Manthous. Terus kami kan sebetulnya ngekor. Terus sehingga kami sekarang juga ya harus konsisten dan harus menjadi barometer, relevan hingga akan terus ada muncul industri musik dangdut, pop Jawa itu bisa terus berjalan kalau kami tidak berhenti dan begitu juga banyak yang bermunculan yang baru.

Ndarboy Genk tampil di Guyub bareng Musisi Yogyakarta / Dok. Pohan

Sebagai musisi kelahiran ‘95 yang tumbuh di masa transisi dari radio, CD, sampai TikTok. Bagaimana pendapat Ndarboy Genk tentang generasi sekarang membawakan musik Jawa dengan cara yang berbeda?

Dipermudah, terus sekarang adanya TikTok menurut saya mengamati di industri ini. Kalau lagu, dulu kan orang dengerin YouTube longform, baru ke socmed, rame. Sekarang orang rame dulu di shortform seperti TikTok, Reels, baru rame di longform-nya. Bahkan sekarang banyak budaya yang orang cuma pengen dengerin di socmed. Nggak mau direct ke YouTube-nya. Nah ini juga mungkin Pophariini bisa mensosialisasikan untuk menormalisasi menonton longform dan streaming, khususnya di aplikasi-aplikasi platform digital. Tidak cuma sekarang orang bikin konten, udah. Capek dengan aktivitas gadget-nya tidur, udah. Mereka nggak mau mengapresiasi dengan like, share, comment seperti itu. Dan untuk generasi-generasi muda sekarang, viral sudah dapat off air dan dengan harga yang mengerikan, tinggi. Dulu saya lagunya dikenal dari lokal dulu, dari tarup ke tarup, hajatan ke hajatan, bahkan bayaran dari kotak. Sekarang artis viral atau saya bilang mereka punya project, campaign, dana, budget, bisa promosi lagunya, diterima, relate, harganya pada tinggi-tinggi.

Lalu, melihat perubahan yang terjadi. Kapan pertama kali Ndarboy Genk merasa lagu pop Jawa ternyata bisa hidup di banyak kepala orang, bahkan di luar lingkungan yang dekat dengan kultur Jawa? 

Tepatnya ya saat manggung di luar Jawa, seperti di Jawa Barat, di Jakarta. Banyak festival-festival besar yang mengundang line-up-nya dengan artis-artis daerah. Bahkan kami berangkat dari desa ke Jakarta, lalu ke luar pulau, bahkan ke luar negeri. Ternyata mereka pada sing-along, nyanyi bareng, bahkan ada yang nggak tahu lagunya, tapi joget. Terus itu tuh kayak jadi energi buat kami untuk, aku harus terus berproses kreatif untuk mengembangkan musik ini bisa diterima lebih baik lagi, lebih diapresiasi, tidak cuma karena viral-viral saja, tapi kualitas juga kami harus upgrade. Penampilan juga harus upgrade. Dan satu lagi, ternyata benar kata-kata si Mbah kita dulu, “Wong Jowo neng endi-endi.” Orang Jawa ada di mana-mana. Dan ternyata setelah saya menjalani beberapa tur, pernah tur Jawa, Bali, Papua. Bahkan ke luar negeri. Kami manggung di luar pulau, di luar negeri, lebih ramai daripada kami manggung di daerah. Ternyata banyak saudara-saudara kita yang dari daerah merantau ke Taiwan, ke Hong Kong, ke Malaysia, ke Papua. Bahkan kami di Papua yang nonton Jawa semua. Di Kalimantan yang nonton Jawa semua. Saking banyaknya nenek moyang kita menebar benih.

Lagu-lagu Ndarboy Genk dekat dengan kehidupan orang yang pulang kerja malam, nongkrong di pinggir jalan, atau sekedar capek menjalani kehidupan, tidak cuma patah hati. Apakah karya yang dihasilkan sengaja direkam atau lahir karena Ndarboy Genk memang tumbuh di suasana seperti itu?

Pertama, memang tumbuh sendiri dari kehidupan nyata. Terus, oh banyak ya sekarang lagu-lagu pop Indonesia, pop Jawa yang semuanya tentang patah hati. Ya kami sesekali satu tahun mungkin dua tiga singel yang memang menuruti industri tentang patah hati, cinta-cintaan. Tapi Ndarboy konsisten untuk kami harus setiap tahun merilis lagu yang menyuarakan isi hati kerakyatan, suara kerakyatan. Keseharian yang relate, khususnya buat semangat para pekerja-pekerja keras. Mungkin kalau sekarang saya udah kerja, saya udah punya keluarga, ya tentang pekerjaan, keluarga, bagaimana menjadi bapak. Kalau dulu mungkin tentang bagaimana ya kita bisa sukses, perjuangan seperti itu. Jadi menurut saya, karya saya bertumbuh seiring dengan kehidupan saya sehari-hari.

Di tengah ramai musik Jawa hari ini, menurut Ndarboy Genk apa kesalahpahaman terbesar orang tentang musik pop Jawa dan pendengarnya? 

Kalau sekarang, menurut saya tidak ada kesalahpahaman. Kami pelaku seni di pop Jawa ini sudah diterima dengan baik oleh industri ini, oleh masyarakat, itu tidak diperkotak-kotakan. Kalau dulu, ada tuh oh dangdut, Jowo, seksi. Harus kelihatan yang vulgar gitu. Lah dulu mungkin seperti itu. Sekarang itu kan belajar untuk bisa lebih baik. Terus dulu kami juga manggung pake batik, ternyata coba gak pake batik, kami tampil casual, ternyata diterima, bahkan di festival besar-besar juga diterima. Mungkin ya segelintir, mungkin tidak semua ada yang bilang, oh dangdut ndeso gitu, gak apa-apa orang kita memang berjalan dari desa. Mungkin nenek moyangmu dulu juga orang desa. Jadi bener kata Project Pop, “Dangdut is the Music of My Country”. Dan itu memang budaya. Nantinya mungkin, berapa puluh tahun lagi. Musik tradisional itu kan musik dengan gamelan. Dangdut kan juga sudah mengkolaborasikan musik tradisional seperti suara angklung, gamelan di dalam musik pop ya. Combo dengan combo band. Nantinya juga dangdut ini jadi musik budaya Indonesia. Iya toh? Orang luar, kita belajar jazz, kita belajar reggae, kita belajar blues, sampai luar negeri. Tapi di luar negeri banyak yang main lebih jago daripada kita. Iya kan? Di seluruh dunia lah. Tapi kalau di dunia ini, menurut saya, yang mainkan dangdut awal mulanya dan yang tau rusnya dangdut, soul-nya dangdut, ya orang Indonesia. 

Pernah enggak merasa industri mulai mengharapkan “formula lagu Ndarboy Genk”, dan di titik itu apakah ada ketakutan kehilangan identitas sebagai musisi?

Kalau kehilangan identitas nggak. Tapi kami ya itu tadi udah jadi tanggung jawab. Terus jadi tekanan juga buat kami untuk gak apa-apa, dicontek gak apa-apa. Formula kami ditiru, aransemen ditiru, pola ditiru, gak apa-apa. Jadi kan kami jadi barometer, lalu tekanan kami adalah bagaimana membuat sesuatu yang lebih baru lagi, lebih fresh lagi, tapi tidak menghilangkan karakter Ndarboy Genk. Menurut saya sih seperti itu.

Ada enggak lagu yang sebenarnya Ndarboy Genk sendiri ragu? Tapi akhirnya tetap dirilis karena perasaan pasar menginginkan itu.

Nah, anehnya kami kan sudah bekerja di musik ya. Otomatis kan semua sekarang ada tim, ada produksi yang harus dibiayai, dan lain-lain. Saya masih menggunakan perasaan saya kalau berkarya dari feeling. Tidak karena menuruti pasar, seperti “Kicau Mania” itu. Saya ingin rilis ya, kayaknya aku sreg ini, rilis “Mendung Tanpo Udan” ya, rilis “Jogja Istimewa” itu juga gitaran, hari berikutnya rekaman, terus udah kayak gak distruktur, gak bikin campaign, gak bikin promotion, jadi memang karena UGC kami menurut saya di lagu-lagu daerah ini segitu organiknya. Mereka saling support musik daerah gitu karena kita mencintai musik, kami sebagai seniman senang berkaryanya. Kami bangga dengan musik kami. Ternyata pendengar yang di daerah itu juga merasa bangga. Wah iki lagunya laguku banget dengan bahasa daerahku, bahasa sehari-hariku. Mungkin mereka juga merasa, wah aku harus share, aku harus support. Kalau lagu ini viral, terkenal, sampai Raffi Ahmad nyanyiin. Wah, mereka juga ikut bangga, gitu. Ikut bersorak-sorai lah, By feeling. Dan viral itu bener-bener gift. 

Banyak orang bicara soal pencapaian, tapi jarang membahas kesepian setelah dikenal luas. Hal paling berubah dalam hidup Ndarboy Genk setelah terkenal apa? Apakah ada hubungan, kebiasaan, atau cara memandang diri sendiri yang ikut berubah?

Tentunya kalau di diri saya, saya gini-gini aja. Jalan masih sama, cara berkarya saya juga masih sama. Feel saya masih sama. Cuma sekarang kan kami punya tim, manajemen, agregator. Nah itu yang banyak men-distract saya untuk buat lagu gini Mas, buat lagu gini. Kembali lagi ke senimannya ya. Sama ya di keluarga, saya harus menjadi, balik di rumah harus menjadi seorang bapak. Saat saya sendiri saya harus menjadi pencipta, saat saya di kantor saya harus menjadi leader buat teman-teman, saat di panggung saya harus jadi penyanyi. Jadi pernah saya sekitar 2 tahun lah, itu katanya mengidap sakit anxiety, dan ternyata saya tuh gak berani ngomong, kalau saya tuh, kok aku gini tuh kenapa gitu, ternyata sakitnya anxiety itu, dan setelah saya berani membuka ke banyak teman-teman sharing, itu sekarang banyak dirasakan juga oleh teman-teman, dan banyak yang merasakan seperti itu. Jadi buat teman-teman semuanya, kalau kata wong Jawa iki, sing semelah. Jadi nggak perlu semuanya harus dikejar. Udah jalan aja sekarang.

Apa ada fase ketika secara karier Ndarboy Genk sedang naik, tapi secara pribadi justru merasa kehilangan arah?

Saat lagu-lagunya baru populer, kami pulang ke rumah, habis manggung emosinya harus dibedakan lagi. Kami merubah banyak karakter itu, jadi ternyata mungkin kayak permasalahan di pekerjaan harus kami pendam. Kalau kami dulu ngamuk-ngamuk aja tuh, marah sama orang, gelut-gelut, sekarang kan kayak mikir, wah kalau nanti di video viral gimana, mending dipendam, lah itu ternyata kan jadi sakit hati. Ya kayak gitu jadi trauma lah, makanya sekarang jadi diriku sendiri aja lah, kalau ada yang suka ya monggo, kalau enggak, ya udah. Masih banyak yang lain yang bisa kalian sukai gitu.

Dulu sebelum dikenal luas, ada tidak figur atau momen yang diam-diam membuat Mas berpikir, “aku juga mungkin bisa berhasil dari kota dan kehidupan seperti ini”?

Almarhum Didi Kempot sampai sekarang. Bahkan sampai sekarang pun masih kami cari referensi, baru buat lagu butek, gak bisa, buntu, dengerinnya ya Didi Kempot, Manthous, Waldjinah.

Kalau suatu hari ada anak kecil dari kota kecil mendengarkan lagu-lagu Ndarboy Genk dan merasa punya harapan hidup, apakah itu terasa lebih penting daripada angka streaming atau memang pencapaian yang harus diraih?

Kalau sekarang berkarya di era digital seperti ini yang sudah maju. Harus paham dulu tentang delivery karya itu. Kalau enggak, ya sekarang banyak juga pencuri, maling digital. Jadi buat teman-teman yang mengidolakan atau berusaha menjadi seniman lah ya, atau artis, mau bekerja menjadi artis, ya yang dipelajari tidak cuma tentang seni murninya. Seni kan ada yang murni kan, seni murni ya, tapi seni industrinya juga harus, kesenian industrinya juga harus dipelajari. Dan sekarang sudah bisa jadi pekerjaan menurut saya. Kan banyak ya, tidak cuma jadi artis, tidak cuma jadi penyanyi, bisa jadi produser, bisa jadi pencipta, bisa jadi session player, manajer, dan masih banyak lagi. Content creator, bahkan sekarang banyak juga. Creative director itu sangat penting juga.

Setelah perjalanan dari panggung kecil sampai hari ini, apa hal yang sebenarnya masih dicari Ndarboy Genk dari musik? Karena kadang setelah mimpi tercapai, manusia justru mulai bingung mencari tujuan berikutnya.

Yang saya cari jadi musik sekarang pengen jadi produser yang baik, mempunyai industri musik label yang muncul dari Yogyakarta untuk dikenal di Indonesia dengan kontrak yang baik, menguntungkan kepada artis dan juga manajemen. Jadi banyak kan sekarang ngapain label, ngapain gitu. Loh kalau memang kamu tidak bisa sendiri, kenapa nggak ikut label gitu. Tapi jadilah label yang baik untuk seniman yang baik gitu. Karena semua seniman itu orang baik menurut saya. Gak ada seniman yang jahat, menurut saya gak ada.

Kalau 20 tahun lagi orang mendengarkan katalog musik Ndarboy Genk, ingin dikenang sebagai apa? Penyanyi populer, pencatat keresahan orang kecil, atau mungkin sesuatu yang lain?

Penyanyi Jawa. Udah gitu aja. Ndarboy sopo? Daru sopo? Penyanyi Jowo, udah. Penyanyi Jawa yang. Yangnya banyak. Tapi mungkin sekarang saya tidak cuma fokus di dangdut ya. Saya pengen Jawa itu bisa dikemas dengan berbagai genre. Dengan benang merahnya adalah bahasa daerah Jawa. Jawa itu banyak loh bahasa daerah itu. Contoh ada bahasa Ngapak.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Eksklusif Ndarboy Genk: Pop Jawa Kini Sudah Diterima Industri Musik
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us