Beberapa minggu terakhir, beredar kembali berita tentang wabah baru virus. Namun, rasanya dunia tidak lagi panik seperti beberapa tahun lalu karena dunia memang sudah berubah, terutama dalam cara manusia bekerja.
Saat ini, sistem hybrid (hibrida) bukan lagi sekadar solusi darurat pandemi. Ia sudah menjadi gaya hidup baru. Banyak organisasi besar menerapkan sistem ini dengan berbagai dampak positif yang didapatkan. Biaya operasional menurun.
Karyawan memiliki fleksibilitas lebih besar karena tidak perlu menghabiskan waktu 3–4 jam di perjalanan sehingga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas. Para tipe introvert juga merasa energi mental mereka lebih terjaga karena tidak harus berinteraksi dengan suara bising orang-orang di kantor sehingga mereka lebih fokus dalam bekerja.
Namun, setelah euforia fleksibilitas ini lewat, perlahan muncul cerita-cerita lain yang perlu menjadi bahan pemikiran juga. Cerita tentang jadwal rapat semakin padat, tetapi justru merasa semakin kesepian. Tentang orang-orang yang laptopnya selalu menyala, notifikasinya tidak pernah berhenti, tetapi semangatnya meredup. Atau, tentang manusia yang terus online, tetapi diam-diam kehilangan rasa terhubung. Luciana Paulise menyebutnya sebagai quiet cracking.
Career coach Octavia Goredema mengatakan, “Kesepian bukanlah ketiadaan orang lain, melainkan ketiadaan ikatan.” Mungkin inilah ironi terbesar dunia hibrida modern ini. Kita berbicara setiap hari melalui rapat daring, tetapi hubungan perlahan terasa makin datar. Rapat bisa dimulai tepat waktu, agenda dibahas cepat, tapi tidak ada lagi obrolan kecil setelah rapat selesai, tidak ada lagi percakapan spontan di lorong.
Begitu selesai semua mengatakan, “Izin leave”, layar mati dan ruangan kembali sunyi. Dulu hubungan kerja sering tumbuh dari hal-hal kecil yang terasa tidak penting. Bercanda di pantry, bertemu di lift, mengeluhkan deadline bersama sambil minum kopi, atau sekadar tertawa karena hal receh sebelum rapat dimulai. Hari ini semuanya menjadi lebih efisien. Namun, efisiensi yang terlalu tinggi kadang membuat rasa hangat memudar.
Ron Carucci menyebut kondisi ini sebagai social malnutrition, kurangnya gizi sosial. Secara teknis, orang tetap berinteraksi, tetapi tidak cukup merasa hadir bersama manusia lain. Mungkin inilah sebabnya banyak pekerja hibrida akhirnya memilih work from café. Awalnya kafe hanya dianggap sebagai tempat kerja alternatif.
Namun, lama-lama terlihat bahwa kafe telah menjadi semacam “kantor emosional” baru. Orang datang tidak sekadar membeli kopi, tetapi juga membeli suasana hidup. Mereka ingin merasakan energi manusia lain di sekitar mereka. Karena pada hakikatnya manusia tidak dirancang hidup terlalu terisolasi.
Hal lain yang sering tidak disadari adalah hilangnya batas hidup. Dulu, ada ritual sederhana bernama “berangkat dan pulang kerja”. Ada perjalanan, ada perpindahan suasana, ada jeda mental. Sekarang, banyak yang membuka laptop bahkan sebelum benar-benar tersadar. Tempat tidur, meja makan, dan ruang kerja bercampur menjadi satu.
Laptop hanya beberapa langkah dari tempat tidur, notifikasi terus berbunyi. Kondisi ini sering disebut sebagai “always-on” nature of remote work yang membuat pekerja high achievers merasa bersalah ketika tidak segera berespons ketika dihubungi.
Pekerja hibrida yang sehat mental
Dalam era hibrida saat ini, tantangannya bukan lagi bagaimana membuat para pekerja dapat tetap produktif dari mana saja. Namun, bagaimana membuat mereka tetap hidup secara utuh di tengah dunia kerja yang semakin efisien, bagaimana menjadi pekerja hibrida yang efektif tanpa kehilangan kesehatan mental dan kualitas hidup.
Pertama, manusia perlu menciptakan kembali batas hidup yang hilang. Banyak yang melakukan rapat daring dengan kamera tertutup karena belum cukup rapi sehingga tidak nyaman menunjukkan wajahnya di depan kamera. Walaupun bekerja dari rumah, kita perlu berdisiplin untuk mandi dan berdandan sehingga dapat tampil profesional dengan kamera menyala.
Berbicara dengan kamera menyala juga membuat rapat lebih hidup karena kita merasa benar-benar berbicara dengan manusia lain, bukan sekadar bulatan-bulatan dengan inisial nama. Disiplin juga untuk menjaga fokus bekerja dalam jendela waktu sebagaimana layaknya jam kantor. Sedapat mungkin cari ruang kerja yang terpisah dari anggota keluarga lain sehingga perhatian tidak mudah teralihkan.
Hindari makan di depan layar, optimalkan waktu makan siang untuk menikmati waktu berkualitas bersama keluarga di rumah, sebelum kembali berfokus pada pekerjaan. Kelihatannya sederhana, tetapi ini membantu otak memisahkan kerja dan kehidupan pribadi.
Kedua, jangan menunggu koneksi sosial terjadi otomatis. Dulu hubungan terbentuk alami di kantor. Sekarang hubungan harus disengaja. Buat coffee catch-up kecil. Telepon teman kerja tanpa agenda formal. Sesekali bekerja dari kafe atau coworking space. Bergabung dengan komunitas olahraga, volunteering, atau kelompok hobi. Banyak pekerja hibrida yang sehat ternyata aktif membangun ekosistem sosial di luar layar.
Ketiga, atur energi, bukan hanya waktu. Dunia hibrida membuat banyak orang terjebak multitasking tanpa akhir. Padahal, otak manusia lelah tidak hanya karena bekerja keras, tetapi juga karena terlalu sering berpindah fokus. Konsep “timeboxing” mulai banyak digunakan: memberi blok waktu khusus untuk deep work, rapat, cek e-mail atau HP, olahraga sampai istirahat untuk recovery. Di luar alokasi waktu yang sudah dibuat, berhenti. Tidak semua notifikasi harus dijawab saat itu juga.
Keempat, bergerak dengan sengaja. Berdiri. Stretching. Jalan kaki. Taici. Yoga. Berenang. Berkebun. Apa saja. Tubuh manusia membutuhkan pergerakan untuk menjaga kejernihan pikiran dan kestabilan emosi. Banyak ide terbaik justru muncul saat berjalan, bukan saat duduk menatap layar. Tubuh akhirnya mulai memberi sinyal.
Menurut Bryan Robinson, ketika pekerja hibrida bergerak terlalu sedikit karena hidupnya berpindah hanya beberapa langkah dari tempat tidur ke meja kerja, mereka mengalami pandemic posture. Punggung mulai sakit, bahu tegang, mata lelah, tubuh terasa kaku. Tubuh manusia ternyata tidak dirancang duduk berjam-jam menatap layar tanpa bergerak.
Kelima, perusahaan juga perlu berubah. Kantor harus berubah fungsi menjadi tempat brainstorming, mentoring, membangun trust, dan memperkuat rasa belonging. Pekerjaan individual bisa dilakukan di rumah, tetapi kreativitas, energi sosial, dan rasa memiliki sering tumbuh saat manusia bertemu manusia lain.
Saat WFO bersama diisi dengan beragam kegiatan yang meningkatkan interaksi bersama. Inilah fokus dari bekerja pada era hibrida, teknologi memang berhasil membuat manusia menghubungi siapa saja. Namun, teknologi belum otomatis membuat manusia merasa lebih terhubung.
Baca juga: Phubbing, Pemicu Distraksi
HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob
Character Building Assessment & Training EXPERD
EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.