Selokan Mataram | Edogang1/WikimediaCommons
Ada yang pernah mendengar soal Selokan Mataram di Yogyakarta?
Selokan Mataram adalah sebuah kanal irigasi yang membentang sepanjang lebih dari 30 km di Yogyakarta. Fungsi utama sekolan ini adalah sebagai saluran irigasi yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak untuk mengairi ribuan hektar lahan pertanian, khususnya di Sleman.
Infrastuktur ini sebetulnya memiliki sejarah unik, di mana pembangunannya dilakukan di masa kependudukan Jepang. Selokan Mataram disebut sebagai cara diplomasi ala Sri Sultan Hamengku Buwono IX agar rakyat Yogyakarta terhindar dari romusha.
Sejarah Selokan Mataram
Selokan Mataram aslinya adalah sebuah parit yang sudah ada sejak zaman Belanda. Konon, parit ini sudah ada sejak tahun 1914.
Kemudian, setelah Belanda meninggalkan Indonesia, giliran Jepang yang masuk dan ingin menguasai Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang, rakyat Indonesia banyak yang menderita akibat diberlakukannya romusha.
Sistem kerja paksa ini dilakukan oleh Jepang selama Perang Dunia II, di mana rakyat Indonesia dipaksa bekerja tanpa upah untuk membangun berbagai infrastruktur penunjang perang.
Kala itu, Sri Sultan Hamengkubuwono IX merasa sangat prihatin dengan sistem yang sangat tidak manusiawi itu. Demi menyelamatkan rakyatya, ia segera menyusun strategi diplomasi.
Disadur dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan melaporkan kepada pihak militer Jepang bahwa wilayah Yogyakarta merupakan daerah kering. Tak hanya itu, ia menyebut bahwa daerahnya miskin dan hanya mampu menghasilkan tanaman singkong serta gaplek.
Sultan kemudian mengusulkan pembangunan saluran irigasi besar. Hal ini bertujuan agar produktivitas pertanian dapat meningkat drastis dan bisa menyumbangkan hasil bumi bagi kepentingan militer Jepang.
Walhasil, Jepang setuju. Mereka juga rela mengucurkan dana pembangunan daripada memobilisasi rakyat Yogyakarta ke luar daerah sebagai romusha.
Pembangunan dimulai pada 20 Juli 1944 dan melibatkan jutaan tenaga kerja lokal yang dikoordinasikan langsung oleh pihak Keraton Yogyakarta. Melalui proyek ini, penduduk tetap dapat berada di wilayah mereka dan terhindar dari pengiriman ke medan perang Pasifik.
Selokan Mataram yang “Mengairi” Hidup Masyarakat
Struktur Selokan Mataram memiliki panjang total mencapai 34,5 km yang melintasi wilayah dua provinsi, yakni Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Saluran ini berfungsi menghubungkan Sungai Progo di sebelah barat dengan Sungai Opak di sebelah timur.
Bagian hulu atau pintu pengambilan air utamanya berada di Bendung Karangtalun, Magelang, sementara ujung hilirnya berada di Desa Tamanmartani, Sleman. Lebar selokan ini bervariasi antara 4 hingga 18 meter dengan bentuk potongan melintang trapesium di sebagian besar jalurnya.
Di sepanjang alirannya, terdapat infrastruktur pendukung yang kompleks, seperti 22 talang air (akuaduk) untuk melintasi sungai, 5 bangunan sipon bawah tanah, serta ratusan jembatan penyeberangan.
Pada masa pembangunannya, proyek ini dikenal dengan nama resmi Gunsei Yosuiro. Konon, saluran ini dipropagandakan sebagai sistem irigasi terbesar di Pulau Jawa pada saat itu.
Sejak awal, selokan ini memang difungsikan sebagai jaringan irigasi teknis untuk mengairi lahan pertanian seluas lebih dari 15.000 hektar. Selokan ini berperan untuk memastikan ketersediaan air tetap terjaga meskipun di musim kemarau, sehingga para petani dapat memanen padi secara berkelanjutan.
Seiring dengan perkembangan zaman, manfaat selokan ini pun menjadi semakin beragam. Saat ini, aliran airnya juga digunakan oleh masyarakat untuk pengairan kolam ikan guna mendukung sektor perikanan.
Di Desa Bligo, terdapat fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang memanfaatkan arus selokan ini untuk menghasilkan energi listrik. Selain itu, berbagai titik di sepanjang aliran selokan juga sudah berkembang menjadi objek wisata sejarah dan ruang publik yang produktif bagi masyarakat Yogyakarta.
Saat ini, pengelolaan dan kepemilikan Selokan Mataram berada di bawah wewenang Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Lebih lanjut, Selokan Mataram juga resmi ditetapkan sebagai Struktur Cagar Budaya melalui SK Bupati Sleman pada tahun 2023. Penetapan status ini bertujuan untuk memastikan kelestarian aset bersejarah tersebut agar tetap menjadi sumber kemakmuran dan kehidupan bagi generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News