Sistem tanam paksa atau cultuurstelsel Tanaman tebu (Wikimedia Commons)
Ketika kita menyusuri kanal-kanal megah di Amsterdam atau mengagumi arsitektur klasik stasiun kereta api di Rotterdam, kita sedang melihat hasil pembangunan yang didanai dari sumber yang jauh dari Eropa. Kemakmuran luar biasa itu tidak lahir dari industri domestik Belanda semata. Sebagian besar fondasinya berasal dari cairan manis yang diperas dari batang-batang tebu di tanah Jawa. Sepanjang abad ke-19 dan awal abad ke-20, gula tebu Jawa menjadi salah satu sumber pendapatan paling penting yang menopang keuangan Kerajaan Belanda.
Hubungan ini bermula dari kondisi kas negara Belanda yang kritis pada awal 1830-an. Belanda baru saja kehilangan wilayah Belgia yang memisahkan diri, sekaligus menanggung kerugian finansial yang besar akibat Perang Jawa melawan Pangeran Diponegoro (1825-1830).
Di tengah ancaman kebangkrutan, Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch menerapkan sistem Cultuurstelsel atau Tanam Paksa pada 1830. Di antara semua komoditas yang diwajibkan untuk ditanam, tebu menjadi penghasil devisa paling besar bagi pemerintah kolonial.
Jawa sebagai Perkebunan Raksasa
Pilihan Belanda untuk memprioritaskan tebu Jawa bukan tanpa perhitungan. Pada abad ke-19, konsumsi gula di Eropa meningkat pesat seiring tren minum teh dan kopi di kalangan masyarakat luas. Gula bukan lagi barang mewah kaum bangsawan, melainkan kebutuhan harian jutaan pekerja industri di Eropa. Jawa memiliki semua prasyarat untuk menjadi pemasok utama: tanah vulkanis yang subur, iklim tropis yang stabil, dan tenaga kerja petani dalam jumlah besar yang bekerja dengan upah yang sangat rendah.
Belanda kemudian mengubah bentang alam Jawa menjadi kompleks produksi gula yang sistematis. Lahan-lahan pertanian rakyat dialihfungsikan menjadi perkebunan tebu. Puluhan pabrik gula dengan mesin uap didirikan di sepanjang pesisir utara dan pedalaman Jawa. Sistem kerja paksa ini memaksa para petani menanam, merawat, dan memanen tebu dengan mengorbankan ketahanan pangan mereka sendiri.
Hasilnya adalah lonjakan produksi gula yang luar biasa. Setelah sistem Cultuurstelsel digantikan oleh sistem produksi komersial pada 1870-an, Jawa melangkah menjadi eksportir gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba, dan posisi ini dipertahankan selama lebih dari empat dekade hingga 1920-an. Antara 1870 dan 1920, Kuba dan Jawa bersama-sama mengendalikan separuh dari perdagangan gula dunia.
Mengalirkan Kemakmuran ke Eropa
Keuntungan dari perdagangan gula Jawa dikelola melalui mekanisme yang disebut Batig Slot, yaitu surplus pendapatan koloni yang ditransfer langsung ke kas negara Belanda. Dana dari penjualan gula di pasar internasional digunakan untuk melunasi utang nasional Belanda, membangun jaringan kereta api modern di Eropa, dan mendanai pembangunan pelabuhan-pelabuhan besar yang menjadi tulang punggung perdagangan Barat.

Amsterdam yang megah | canals of Amsterdam
Ironi sejarahnya sangat tajam. Kesejahteraan warga di Den Haag atau Utrecht sebagian besar dibangun di atas penderitaan, kelaparan, dan kemiskinan ekstrem para petani di pelosok Jawa. Industri gula yang memperkaya Belanda justru menghancurkan sistem pertanian lokal dan ketahanan pangan masyarakat Nusantara.
Kejayaan industri tebu Jawa pada abad ke-19 adalah bukti nyata bagaimana sebuah komoditas dari alam Indonesia mampu mengubah lanskap ekonomi negara di belahan bumi lain. Gula tebu Jawa bukan sekadar pemanis secangkir teh para borjuis di Amsterdam. Ia adalah salah satu fondasi finansial yang ikut membentuk wajah dunia modern Barat. Jejak manis yang pahit itu menjadi pengingat bahwa kemakmuran global sering kali dibangun dari keringat dan penderitaan di ladang-ladang Nusantara.
**
Referensi:
- R.E. Elson, Javanese Peasants and the Colonial Sugar Industry: Impact and Change in an East Java Residency, 1830-1940 (Oxford University Press, 1984)
- Cornelis Fasseur, The Politics of Colonial Exploitation: Java, The Dutch, and the Cultivation System, diterjemahkan oleh R.E. Elson dan Ary Kraal (Cornell University, 1992)
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News