Sebagai orang yang nggak cari duit di dalam pabrik Cikupa, saya sebenarnya aman. Saya cuma tamu yang sebulan sekali datang ke wilayah barat Kabupaten Tangerang ini. Tapi, walaupun cuma sebulan sekali, sisa-sisa trauma jalanannya selalu sukses membekas di kepala.
Bayangkan, saya yang cuma sesekali lewat saja sudah merasa tensi darah melonjak drastis. Apalagi mereka yang harus bertaruh nyawa di jalur ini setiap hari? Menatap Cikupa di jam berangkat atau pulang kerja itu kayak melihat penderitaan yang nggak ada habisnya.
Cikupa Tangerang di antara truk gede dan kepulan asap hitam
Begitu masuk Jalan Raya Serang atau keluar dari kawasan industri Cikupa Mas di jam sibuk, lupakan bayangan Tangerang yang rapi dan estetik seperti BSD. Cikupa adalah dunia nyata yang keras. Di sini, penguasa jalanan yang sesungguhnya bukan motor Beat atau Scoopy. Melainkan truk-truk raksasa bermuatan beton dan kontainer yang bannya saja lebih tinggi dari tinggi badan kita.
Selap-selip di antara truk gede ini butuh keterampilan setingkat pembalap MotoGP dan keberanian luar biasa. Di jam pulang kerja, ribuan buruh pabrik yang pakai seragam langsung tumpah ke jalan, menyatu dengan asap knalpot hitam yang pekat. Debu Cikupa itu luar biasa tebal.
Jangankan yang malas merawat muka. Yang pakai skincare mahal pun pasti menangis melihat pori-porinya setelah lima belas menit naik motor di sini.
Bengong di atas kendaraan, resign atau bertahan?
Melihat lautan manusia yang macet total di depan Pasar Cikupa atau pertigaan Bitung, saya sering membayangkan isi kepala para pekerja itu. Kerja di pabrik ngejar target, berdiri berjam-jam, belum lagi kalau kena omel bos sudah capek banget. Di jam pulang malah ditambah bertarung dengan macet di jalanan.
Pas mesin motor mulai panas di selangkangan dan moncong truk kontainer pas banget di belakang spion, di situlah momen pasrah itu muncul. Ini dilema abadi pekerja Cikupa Tangerang. Bertahan artinya pelan-pelan mengorbankan kesehatan mental, tapi kalau nekat resign tanpa persiapan, status gembel sudah melambai-lambai di depan mata.
Jalan keluar dari macet Cikupa
Macet parah begini nggak boleh terus-menerus dianggap biasa. Harus ada solusi dari pemerintah dan pekerja itu sendiri.
Untuk Pemerintah Kabupaten Tangerang, kuncinya ada pada ketegasan aturan jam jalan truk besar. Truk kontainer harus dilarang lewat jalur utama pada jam padat berangkat dan pulang kerja. Misalnya jam 6 sampai 8 pagi, dan jam 4 sore sampai 7 malam. Selain itu, pemerintah sudah harus menyediakan bus umum yang nyaman dari area perumahan ke kawasan pabrik biar jumlah motor di jalan bisa berkurang.
Sedangkan untuk para pekerja, strategi bertahan hidupnya harus diatur. Kalau perusahaan menyediakan bus jemputan karyawan, mending ikut bus itu saja buat menghemat tenaga. Kalau terpaksa naik motor, cobalah berangkat 30 menit lebih awal biar nggak barengan sama puncak macet.
Atau pas pulang kerja, jangan langsung maksa nembus macet, melipir dulu ke Citra Raya buat sekadar ngopi dan mendinginkan kepala.
Pada akhirnya, kalau ada orang yang bisa bertahan bertahun-tahun kerja di Cikupa dan tiap hari pulang-pergi lewat jalanan itu tanpa jadi gila, mereka layak disebut manusia terkuat di bumi. Kalian hebat, tapi ingat, kewarasan kalian tetap ada batasnya.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Terlahir sebagai Orang Tangerang Adalah Anugerah, sebab Saya Bisa Wisata Murah Tanpa Banyak Drama
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 11 Juni 2026 oleh