Pernahkah kamu membeli pakaian baru karena sedang tren, lalu beberapa bulan kemudian baju tersebut mulai jarang dipakai? Lemari semakin penuh, tetapi tetap merasa tidak punya cukup pakaian untuk dikenakan. Fenomena seperti ini menjadi bagian dari gaya hidup modern, terutama di kalangan anak muda yang hidup berdampingan dengan tren fashion yang berubah sangat cepat.
Fast fashion membuat pakaian baru terasa semakin mudah dijangkau. Dengan harga yang relatif murah dan model yang selalu berganti, membeli pakaian kini bukan hanya soal kebutuhan, tetapi juga cara mengekspresikan diri. Namun, di balik pakaian yang terlihat sederhana, ada masalah lingkungan yang tidak terlihat oleh mata: microplastic atau mikroplastik yang berasal dari serat pakaian sintetis.
Banyak orang mengenal plastik sebagai botol, kantong belanja, atau kemasan sekali pakai. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa plastik juga bisa hadir dalam bentuk pakaian yang kita gunakan sehari-hari. Material sintetis seperti polyester, nylon, dan acrylic merupakan jenis serat berbahan dasar plastik yang banyak digunakan dalam industri fashion karena murah, kuat, dan mudah diproduksi.
Menurut Earth.Org, sekitar 70% pakaian dalam industri fast fashion menggunakan bahan sintetis, terutama polyester. Masalahnya, bahan tersebut tidak mudah terurai secara alami dan dapat melepaskan serat mikroplastik ketika diproduksi, digunakan, bahkan saat dicuci menggunakan mesin cuci. Serat-serat kecil tersebut kemudian terbawa bersama air limbah dan berpotensi mencemari lingkungan.
Bayangkan satu aktivitas sederhana seperti mencuci pakaian. Kita mungkin berpikir bahwa setelah pakaian bersih, masalah selesai. Padahal, tanpa disadari, proses tersebut dapat menjadi salah satu jalan masuk mikroplastik menuju sungai dan laut. Partikel yang ukurannya sangat kecil ini sulit terlihat, tetapi dampaknya dapat menyebar luas karena mikroplastik telah ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk ekosistem perairan.
Persoalan ini menjadi semakin besar ketika dikaitkan dengan budaya fast fashion yang mendorong konsumsi cepat. Pakaian dibuat dalam jumlah besar, mengikuti tren yang terus berubah, lalu sering kali tidak digunakan dalam waktu lama. Ketika pakaian dengan bahan sintetis terus diproduksi dan dibuang, jumlah limbah tekstil serta potensi pencemaran mikroplastik juga ikut meningkat.
Bagi Gen Z, isu ini bukan berarti harus berhenti mengikuti fashion atau tidak boleh membeli pakaian baru. Saatnya mengambil peran dengan menjadi konsumen yang lebih sadar. Pilihan kecil seperti membeli pakaian yang benar-benar dibutuhkan, memperpanjang usia pakaian, memilih bahan yang lebih ramah lingkungan, atau mendukung gerakan pakaian bekas dapat menjadi langkah nyata untuk mengurangi dampak industri fashion.
Selain itu, penting untuk memahami bahwa tren tidak selalu harus diikuti dengan membeli sesuatu yang baru. Mengubah cara pandang terhadap pakaian juga menjadi bagian dari perubahan. Sebuah baju tidak kehilangan nilai hanya karena sudah pernah digunakan sebelumnya.
Karena pada akhirnya, masalah lingkungan tidak selalu berasal dari keputusan besar yang terlihat jelas. Terkadang, dampaknya muncul dari kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari tanpa banyak berpikir.
Satu pakaian mungkin terlihat tidak berarti.
Namun, jika jutaan orang melakukan hal yang sama, dampaknya bisa menjadi cerita berbeda.
Jadi, sebelum membeli pakaian berikutnya, mungkin pertanyaannya bukan hanya “Apakah saya suka modelnya?”
Tetapi juga, “Apa dampak yang tertinggal setelah pakaian ini selesai saya gunakan?”