Bola.com, Jakarta – Pada 22 Juni 2027, Jakarta akan genap berusia 500 tahun. Momen bersejarah itu tentu ingin dirayakan Persija Jakarta dengan cara istimewa, yakni mempersembahkan gelar juara BRI Super League 2026/2027 kepada ibu kota.
Demi mewujudkan target tersebut, manajemen Macan Kemayoran melakukan perubahan di kursi pelatih kepala. Mauricio Souza, yang baru semusim menangani tim, digantikan oleh mantan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong.
Keputusan itu cukup mengejutkan. Pasalnya, jika melihat pencapaian tim, performa Persija di bawah Souza tergolong lebih baik dibandingkan era Carlos Pena. Bersama pelatih asal Brasil tersebut, Persija menutup musim BRI Super League 2025/2026 di posisi ketiga klasemen akhir.
Adapun pada musim sebelumnya, saat masih ditangani Pena, Macan Kemayoran hanya finis di peringkat ketujuh.
Pergantian pelatih itu turut mengejutkan mantan Ketua Umum The Jakmania, Tauhid Indrasjarief, atau yang akrab disapa Bung Ferry.
Dalam diskusi bertajuk “Evaluasi Akhir Musim Bersama Bung Ferry” di kanal YouTube “Gue Anak Jakarta”, Ferry mengaku tidak menyangka Persija memutuskan untuk tidak melanjutkan kerja sama dengan Souza.
Hebohnya suporter Brasil, saat Starting XI Selecao untuk menghadapi Maroko dalam laga Piala Dunia 2026 di Metlife Stadium, New Jersey, Minggu (14/6/2026) dini hari WIB diumumkan.
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
Terkejut Penunjukkan STY
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8062498/original/038920300_1780906901-1.jpg)
Saat diskusi berlangsung, nama Shin Tae-yong memang sudah santer disebut sebagai kandidat kuat pengganti. Beberapa hari kemudian, pelatih asal Korea Selatan itu resmi ditunjuk menangani Rizky Ridho dkk.
“Ya, saya sebenarnya jujur agak kaget. Walaupun urusan tim memang bukan ranah saya, saya cukup terkejut karena beberapa hari sebelumnya saya dapat informasi kalau kontraknya akan diperpanjang,” kata Ferry.
“Persija juga sudah memperpanjang kontrak beberapa pemain pilihan Souza seperti Van Basty Sousa dan Fabio Calonego. Jadi, saya pikir Souza masih bertahan karena pemain-pemain itu kan pilihan dia semua. Tiba-tiba muncul kabar Souza tidak diperpanjang. Jujur saya kaget dan itu di luar ekspektasi saya,” lanjutnya.
Meski begitu, Ferry berharap keputusan pergantian pelatih tersebut merupakan bagian dari rencana besar manajemen untuk memperbaiki kekurangan tim musim lalu.
“Saya berharap ketika kontraknya habis dan tidak diperpanjang, Persija memang sudah punya skenario yang lebih dahsyat untuk menutupi kekurangan musim kemarin. Harapan saya sih seperti itu. Itu yang sedang saya tunggu,” ujarnya.
Kelemahan Souza
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,565,20,0)/kly-media-production/medias/5519388/original/086174500_1772553401-20260303IQ_Persija_Jakarta_vs_Borneo_Fc-3.jpg)
Menurut Ferry, ada setidaknya tiga kelemahan Maurício Souza yang patut menjadi bahan evaluasi.
“Kalau bicara ke depan, kita harus lihat kekurangan Souza apa. Menurut saya, ada tiga,” kata Ferry.
“Kekurangan pertama adalah komunikasi. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan selalu menyampaikan semuanya menggunakan bahasa Portugis.”
Namun, Ferry melihat persoalan itu belum tentu teratasi dengan kedatangan Shin Tae-yong.
“Kalau diganti STY, ya sama. Dia juga tidak bisa bahasa Inggris. Berarti persoalannya masih sama, yaitu komunikasi.”
Ferry kemudian menyoroti aspek kedua, yakni soal emosi.
“Yang kedua, kekurangan Souza adalah emosi. Ketika dia emosi, pemainnya ikut emosi. STY juga emosional, temperamennya tinggi, darahnya panas juga. Jadi,=, dua hal ini menurut gua mirip,” lanjutnya.
Adapun poin ketiga berkaitan dengan keluhan Souza terhadap kondisi lapangan Jakarta International Stadium (JIS).
“Nah, yang ketiga ini yang saya ingin cari tahu. Setiap kali main di JIS selalu ada komplain. Alasannya, permainan tidak berjalan karena kondisi lapangan. Padahal, yang bermain di JIS bukan cuma Persija, lawan juga main di lapangan yang sama,” ujar Ferry.
Kondisi Lapangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4099279/original/006994300_1658709937-20220724-FOTO_-_GRAND_LAUNCHING_JIS-Herman_9.jpg)
Ia mengaku sempat berencana bertemu langsung dengan Souza untuk membahas persoalan tersebut, tetapi rencana itu urung terlaksana karena kontrak sang pelatih tidak diperpanjang.
“Jawabannya yang sering muncul adalah permainan Souza tidak cocok diterapkan di lapangan JIS. Nah, permainan seperti apa yang dimaksud? Itu yang sebenarnya ingin saya tahu,” ucapnya.
“Beberapa pertanyaan sudah saya siapkan kalau kontraknya diperpanjang. Saya ingin datang, mau podcast atau apa pun, pokoknya pengin ngobrol langsung dengan Souza tentang rencananya di tahun kedua, termasuk soal strategi.”
Ferry juga menilai kondisi lapangan di Indonesia secara umum tidak jauh berbeda dengan JIS.
“Kalau memang strateginya tidak cocok dengan kondisi lapangan seperti itu, lapangan di Indonesia hampir sama semua. Coba lihat beberapa stadion di daerah lain. Banyak juga yang permukaannya tidak sempurna dan terdapat bercak-bercak.”
Menurutnya, citra JIS sebagai lapangan bermasalah terlanjur melekat sejak proses pergantian rumput beberapa waktu lalu.
“Image JIS sudah terlanjur kuat. Rumput dianggap sebagai masalah utama. Akhirnya itu menjadi alasan ketika tim kalah atau hanya seri di sana.”
Apresiasi Era Souza
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,565,20,0)/kly-media-production/medias/5461780/original/003353700_1767441214-20260103AA_BRI_Super_League_Persija_Jakarta_vs_Persijap_Jepara-1.JPG)
Itulah mengapa, Ferry ingin mengetahui apakah Souza sebenarnya memiliki rencana untuk menyesuaikan pendekatan taktiknya dengan kondisi lapangan yang ada.
“Kalau memang strateginya tidak cocok dengan lapangan seperti itu, apakah strateginya akan berubah atau tidak? Itu yang ingin saya tahu.”
Di sisi lain, Ferry mengakui permainan Persija pada era Souza mendapat apresiasi dari banyak pencinta sepak bola, termasuk dari luar Jakarta.
“Dari banyak orang yang saya ajak bicara, termasuk di Bandung, mereka suka melihat permainan Persija karena berani bermain terbuka.”
“Mau sedang unggul 2-0 atau tertinggal 0-1, Persija tetap berani menyerang. Model permainan seperti itu sekarang jarang,” ucapnya.
Ia menambahkan, banyak pihak berharap Persija terus mengembangkan identitas permainan yang berbeda dibandingkan beberapa musim sebelumnya.
“Banyak yang berharap Persija menang karena ingin melihat perubahan. Setelah sekian tahun, sejak era juara bersama Teco (Stefano Cugurra), pola permainannya terasa mirip-mirip saja.”
Harapan ke Manajemen
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325173/original/065439800_1755933046-20250822AA_Persija_Jakarta.jpg)
Karena itu, jika Persija memang memutuskan mengganti Souza, Ferry berharap manajemen benar-benar memiliki arah yang jelas.
“Nah, kalau memang Souza diganti, berarti jangan cari pelatih yang sama. Cari pelatih dengan gaya bermain berbeda.”
“Tapi, ketika mencari gaya bermain yang berbeda, harus dipikirkan juga bagaimana dengan pemain-pemain yang sudah ada sekarang,” ulasnya.
“Jadi, kalau mau menentukan kriteria pelatih, lihat dulu karakter pemain yang dimiliki Persija. Lalu cari pelatih dengan strategi yang berbeda dari Souza. Itu saja sebenarnya. Tinggal cari siapa orang yang tepat,” imbuh Ferry Indrasjarief.