Di Desa Muria, hiduplah dua bersaudara bernama Ana dan Debi. Ana merupakan kakak yang baik hati, yang selalu menyayangi adik perempuannya. Sementara itu, Debi, adiknya, sangat imut, lucu, dan menggemaskan.
Suatu hari ketika pulang sekolah, hujan turun dengan lebatnya. Hampir setiap hari, Ana dan Debi selalu pulang bersama. Namun, hari ini berbeda, Debi kecil tak terlihat, di luar hujan turun sangat lebat.
Ana sangat bingung mencari keberadaan adiknya. Dia berjalan menuju kelas Debi belajar. Namun, di sana Debi tidak ditemukan. Dengan raut muka yang sangat khawatir, Ana berjalan cepat menyusuri satu per satu kelas di sekolah.
Dia buka setiap pintu kelas, dia tengok satu per satu. Dia cari adiknya sambil bertanya kepada teman-temannya. “Apa kamu lihat adikku?”
Namun, setiap teman yang dia tanya, hampir semuanya bilang tidak melihat adiknya.
“Debi, ke mana kamu? Apa kamu tak melihat di luar hujan deras? Kamu pergi ke mana?” Ana terus bergumam dalam hatinya.
Sampai pada akhirnya Ana bertemu Anggun, teman baik adiknya.
“Apa kamu lihat Debi?” tanya Ana dengan cemasnya.
“Apa kakak mencari Debi?” Anggun mencoba memastikan
“Iya, aku dari tadi cemas mencari adikku, kamu tahu dia di mana?” Ana mencoba mencari tahu keberadaan adiknya.
“Debi sudah pulang dari tadi, Kak, saat rintik-rintik hujan mulai turun. Dia tampak senang. Dia berlari pulang sambil menari riang gembira di bawah tetesan air hujan,” jelas Anggun.
“Ahh, apakah benar apa yang kamu katakan?” Ana mencoba memastikan.
“Benar kak, tadi aku lihat sendiri” jawab Anggun.
Mendengar adiknya bermain hujan-hujanan, tampak raut wajah Ana berubah sangat cemas. Dia tahu, setiap kali adik kesayangannya itu bermain air hujan, badannya pasti demam.
Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya hujan reda. Ana bergegas, berlari pulang. Dia cari adiknya, benar saja Debi tampak menggigil kedinginan di kamar.
Ahhh, rasa bersalah, menyelimuti hatinya. Ana merasa gagal menjaga adik kesayangannya.
Ana melihat ibu dengan telaten merawat Debi. Untung saja demamnya cepat reda.
Keesokan harinya, ketika berangkat sekolah bersama, Ana berkata, “Adik, jangan diulangi lagi, ya, kamu hujan-hujanan seperti kemarin? Kakak sangat khawatir. Kakak tidak mau adik kesayangan Kakak yang imut ini sampai sakit lagi.”
“Iya kakak, Debi janji tidak akan nakal lagi. Debi minta maaf sudah membuat kakak khawatir. Debi sangat menyesal,” jawab Debi.
Mendengar adiknya sudah menyadari kesalahannya. Ana merasa lega, spontan dia memeluk adik kesayangannya.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Rina Noviana
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
