1. News
  2. Berita
  3. Ikigai, Menemukan Alasan untuk Bangun Pagi

Ikigai, Menemukan Alasan untuk Bangun Pagi

ikigai,-menemukan-alasan-untuk-bangun-pagi
Ikigai, Menemukan Alasan untuk Bangun Pagi

Apa yang membuat kita bangun pada pagi hari? Apakah karena alarm, adanya tugas yang harus diselesaikan, atau antusiasme untuk mengerjakan sesuatu pada hari ini?

Jepang memiliki konsep ikigai sejak abad ke-9 dan masih populer sampai sekarang, bahkan menyebar ke seluruh dunia. Iki berarti hidup dan gai artinya nilai. Ikigai adalah nilai yang membuat hidup berarti, a reason to get up in the morning.

Banyak peneliti berusaha mempelajari rahasia hidup yang membuat Okinawa memiliki banyak lansia aktif berusia di atas 100 tahun. Hector Garcia melihat umur panjang ini merupakan kombinasi dari beberapa pola hidup, antara lain aktif bergerak, menikmati hidup saat ini dengan ritme lebih lambat, makan secukupnya dengan bahan dari kesegaran alam, memiliki sahabat dan komunitas yang baik, bersyukur, serta adanya sense of purpose.

Bukan daftar yang rumit, melainkan justru kesederhanaannya yang membuatnya bertahan berabad-abad.

Jatuh cinta pada pekerjaan

Di Barat, ikigai divisualisasikan sebagai diagram Venn dengan empat lingkaran: apa yang kita cintai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang menghasilkan penghidupan. Ikigai menjadi titik tengah keempatnya bertemu.

Chef Jiro Ono, mengelola restoran sushi kecil di Tokyo. Dengan hanya 10 kursi tersembunyi di stasiun kereta bawah tanah, orang harus memesan jauh-jauh hari untuk mendapatkan meja di restoran tiga bintang Michelin ini.

Jiro telah membuat sushi selama lebih dari 60 tahun. Di usianya yang melampaui 80 tahun, ia masih hadir setiap hari dan mengerjakan sendiri setiap detailnya. Dalam buku Jiro Dreams of Sushi, ia mengatakan, “Anda harus jatuh cinta pada pekerjaan… dedikasikan hidup Anda untuk mengasah keahlian… Saya akan terus berusaha mencapai puncak, tapi tak ada yang tahu di mana letak puncak itu.”

Di sini ikigai menjadi sesuatu yang hidup dan bergerak, bukan karena ia sudah di puncak, justru karena keyakinan bahwa tidak ada puncak yang final. Yang penting adalah proses untuk melakukan sesuatu dengan sesempurna mungkin.

Jane Goodall sejak muda sudah terobsesi pada kehidupan primata. Ini bukan obsesi populer yang menjanjikan karier gemilang. Tapi, mengikuti rasa ingin tahunya, ia memulai penelitian kera liar di hutan Afrika bersama antropolog Louis Leakey. Dari sana lahirlah gerakan perlindungan primata yang diperjuangkannya.

Kabin kebun hadir dari keinginan Ukke R Kosasih dan suaminya untuk membangun kehidupan yang lebih sederhana: mengurangi konsumsi berlebih, kembali pada aktivitas yang lebih dekat dengan tanah, dan menata ulang keseharian agar tidak lagi didikte oleh kecepatan kota.

Di tengah kebun dan lanskap perbukitan Cisarua, mereka mulai membangun rumah yang awalnya hanya menjadi ruang tinggal, menjadi beberapa kabin sederhana, bukan untuk ekspansi bisnis besar, melainkan menampung orang-orang yang ingin merasakan pengalaman tinggal dekat alam.

Rumah tidak sekadar properti, tetapi juga sebagai ruang hidup. Tempat ini berkembang secara organik, sebagai perpanjangan dari cara mereka hidup yang mengutamakan kesederhanaan, keberlanjutan, dan keterhubungan dengan alam.

Mereka menemukan ikigai dalam pekerjaannya dengan melakukan apa yang mereka cintai dan bermanfaat bagi dunia.

Sebuah cara memandang hidup

Dalam pengertian aslinya, ikigai jauh lebih sederhana dari itu. Ia bukan tentang menemukan karier sempurna, melainkan tentang “menikmati kebahagiaan dari hal-hal kecil, menikmati momen saat ini, mengenang kenangan bahagia pada masa lalu”.

Dalam survei terhadap 2 ribu orang Jepang, hanya 31 persen yang menganggap pekerjaan sebagai ikigai mereka. Sebagian besar menemukannya dalam keluarga, pertemanan, atau ritual sehari-hari yang kecil tapi bermakna.

Ikigai tidak bisa diberikan oleh orang lain. Ia didapatkan melalui proses refleksi mengenai hal-hal apa yang ketika dilakukan membuat kita merasa waktu cepat sekali berlalu, apa yang membuat kita ingin lebih baik bukan karena takut gagal, tapi karena kita peduli. Ini adalah pertanyaan yang dapat menuntun kita untuk menemukan ikigai pribadi.

Menemukan ikigai juga bukan berarti kita akan menyukai setiap aspek dalam pekerjaan kita. Namun, berarti bahwa kita bersedia menerima bagian-bagian yang tidak sempurna sekalipun karena kita melakukan apa yang kita sukai, apa yang menjadi tanggung jawab kita, dan apa yang dibutuhkan dunia.

Menemukan ikigai memberikan energi untuk menghadapi beragam kesulitan yang kita temui dan terus menantang diri untuk mencari cara melakukan lebih baik lagi dari yang sudah pernah kita lakukan.

Ikigai kolektif

Ikigai bukan hanya urusan pribadi. Ia juga menjadi tanggung jawab pemimpin. Peneliti Jonathan Westover menyebutnya ikigai kolektif ketika ikigai individu bertemu tujuan besar organisasi. Keduanya lalu saling menguatkan dalam sebuah shared quest, perjalanan bersama yang lebih dari sekadar mencapai angka.

Ada tiga area yang bisa digarap organisasi. Pertama, ciptakan ruang bagi karyawan untuk menjelajahi passion-nya, lewat coaching, rotasi jabatan, atau proyek pribadi yang memanfaatkan keahlian mereka. Komatsu memberikan lima persen waktu kerja untuk proyek pilihan karyawan sendiri. Hasilnya, motivasi yang tumbuh dari dalam, bukan dari instruksi.

Kedua, tunjukkan dampak dari pekerjaan mereka pada dunia. Patagonia memfasilitasi perjalanan bersama organisasi konservasi bagi para karyawannya. Ketika pekerjaan terhubung dengan sesuatu di luar diri sendiri, ia berubah dari kewajiban menjadi misi.

Ketiga, tunjukkan bahwa ikigai juga memberikan penghidupan. Denica Riadini-Flesch, pendiri Sukkha Citta, memastikan para perempuan pengrajin yang membuat batik dan menenun kain menjadi subyek penting dalam ekosistem bisnisnya dengan memastikan mereka mendapatkan upah yang layak dan adil.

Mereka bahkan mengembangkan sistem kerja yang memungkinkan perempuan tetap bekerja dari desa mereka sendiri, tanpa harus meninggalkan keluarga atau komunitas.

Yang perlu dipahami, “ikigai thrives in supportive communities”. Ia tidak tumbuh dalam tekanan tanpa ruang bernapas, atau dalam budaya saat orang takut jujur tentang apa yang mereka cari. Psychological safety, rasa aman untuk bertanya, mencoba, bahkan gagal adalah tanah paling subur bagi ikigai.

Di dunia yang bergerak semakin cepat, kesempatan untuk memahami apa yang benar-benar membuat hari ini layak untuk dijalani menjadi sangat penting. Karena itulah yang membuat seseorang bangun pagi bukan karena terpaksa, melainkan ada sesuatu yang memanggil.

Baca juga: Mudah Menghakimi, Sulit Memahami

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Ikigai, Menemukan Alasan untuk Bangun Pagi
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us