Legenda Sonar Paku Bugis yang Jadi Petunjuk bagi Para Nelayan, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara | Magnific AI
Legenda Sonar Paku Bugis adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Legenda ini menceritakan tentang tiga paku keramat yang ditemukan oleh nahkoda dari Bugis dulunya.
Namun sayang paku keramat ini terlempar ke muara Sungai Badiri dan muara Sungai Lumut. Konon paku-paku ini dipercaya terkadang masih mengeluarkan sinar di malam hari dan menjadi petunjuk bagi para nelayan yang hendak bersandar ke daerah tersebut.
Bagaimana kisah di balik legenda Sonar Paku Bugis tersebut?
Legenda Sonar Paku Bugis yang Jadi Petunjuk bagi Para Nelayan, Cerita Rakyat dari Sumatera Utara
Dikutip dari buku Bunga Rampai Cerita Rakyat Tapanuli Tengah, dikisahkan pada zaman dahulu daerah Sibolga Tapaian Nauli hanya masih berupa rawa. Di seberang daerah ini adalah sebuah pelabuhan yang ramai bernama Poncan.
Di sana semua pelaut dari berbagai daerah berkumpul. Pelabuhan Poncan menjadi pusat perekonomian masyarakat yang ada di sana waktu itu.
Pada suatu hari, ada sebuah kapal dari Bugis yang pergi menuju Pelabuhan Poncan. Namun saat mendekat, sang nahkoda justru menyuruh awaknya menyandarkan kapal ke seberang pelabuhan itu, yakni daratan Sibolga Tapaian Nauli.
Sesampainya di sana, para awak menjadi heran. Sebab daerah itu hanya berupa rawa dan hanya sedikit orang yang tinggal di sana.
Ternyata ada sesuatu hal yang menarik perhatian sang nahkoda hingga mengambil keputusan itu. Dari kejauhan, sang nahkoda melihat ada kilauan cahaya emas yang berasal dari Sibolga Tapaian Nauli.
Menurut keyakinan sang nahkoda, di sana pasti ada emas yang sangat berharga. Emas itulah yang mengeluarkan cahaya dan bisa dia lihat dari kejauhan.
Begitu kapal bersandar, sang nahkoda langsung bergegas menelusuri asal cahaya itu. Ternyata cahaya ini berasal dari sebuah gubuk tua yang ada di tengah rawa.
Setelah menemui pemiliknya, nahkoda ini menawar agar bisa membeli gubuk itu. Bahkan sang nahkoda mengeluarkan uang yang banyak dan membayar gubuk itu dari pemiliknya.
Begitu berpindah tangan, sang nahkoda langsung membongkar gubuk itu. Benar saja, dia menemukan tiga buah paku bercahaya emas yang ada di dalam gubuk itu.
Sang nahkoda langsung menyimpan paku emas itu. Dia langsung bergegas kembali ke kapal dan menyuruh anak buahnya untuk berlayar.
Dirinya tidak peduli lagi dengan barang dagangan yang dibawa sebelumnya. Dia sudah puas dengan tiga paku emas yang didapatkannya.
Menurut ilmu yang pernah dipelajari oleh sang nahkoda, ketiga paku ini akan mendatangkan untung untuknya. Oleh sebab itu, nahkoda Bugis ini begitu gembira saat mendapatkan paku emas tersebut.
Di sisi lain, awak kapal hanya bisa heran begitu saja. Mereka tidak mengerti maksud dari perilaku sang nahkoda.
Namun malang terjadi tidak lama kemudian. Ketika sedang asik mengagumi paku itu, badai kencang tiba-tiba datang dan mengguncang kapal Bugis itu.
Akibatnya ketiga paku keramat itu terpental ke luar. Paku itu jatuh di muara Sungai Badiri dan muara Sungai Lumut yang ada di hadapan Kampung Jagojago.
Sang nahkoda langsung memerintahkan anak buahnya untuk turun ke sungai dan mengambil paku itu. Namun karena badai tengah terjadi, tidak ada satupun yang berani menjalankannya.
Amarah sang nahkoda pun memuncak. Dia tidak peduli lagi dengan perjalanannya.
Tidak lama kemudian, gelombang besar menghantam kapal Bugis itu. Semua awak kapal bersama sang nahkoda tenggelam dan tidak ditemukan keberadaannya.
Konon ketiga paku tersebut masih ada di kedua muara itu hingga saat ini. Ada kalanya paku-paku tersebut akan mengeluarkan cahaya terang pada saat malam tiba.
Cahaya ini seakan menjadi pedoman bagi para nelayan yang hendak bersandar ke Tapian Nauli dan Teluk Sibolga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News