
DANANTARA menegaskan pengelolaan risiko menjadi fondasi utama lembaga itu dalam menjaga aset BUMN sekaligus memperkuat kepercayaan investor. Pemisahan fungsi pengelolaan aset dan investasi disebut menjadi desain awal agar aktivitas investasi tidak mengganggu kesehatan perusahaan negara.
Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Doni Oscar mengatakan Danantara sejak awal dibangun dengan mekanisme perlindungan risiko yang jelas. Mekanisme itu diwujudkan melalui pemisahan antara Danantara Asset Management dan Danantara Investment Management.
“Dari awal kita sudah mendesain, kita pecah. Di Danantara itu ada dua. Danantara Asset Management sebagai konsolidator BUMN, dan Danantara Investment Management sebagai investment arms-nya,” kata Dony, Rabu (24/6).
Menurut Dony, pemisahan tersebut penting untuk memastikan risiko investasi tidak langsung berdampak pada aset-aset BUMN yang dikelola. Ia menegaskan dana investasi Danantara bukan berasal dari aset pokok BUMN, melainkan dari dividen hasil pengelolaan BUMN yang sehat.
“(Aset) yang diinvestasikan adalah dividen. Dividen yang dihasilkan oleh Danantara Asset Management itu selanjutnya diinvestasikan untuk hal yang produktif seperti mempercepat pertumbuhan ekonomi kita,” ujarnya.
Dony menilai tata kelola atau governance perusahaan negara harus dijalankan dengan benar. Dengan fondasi tersebut, Danantara diharapkan dapat menjadi instrumen pengelolaan aset negara yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Investor Global Minati Obligasi Danantara
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani menyatakan kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih tinggi. Hal itu tercermin dari penerbitan obligasi global perdana Danantara berbasis dolar AS yang mengalami kelebihan permintaan lebih dari tiga kali lipat.
Rosan mengatakan Danantara semula menargetkan penghimpunan dana sebesar US$1 miliar. Namun, permintaan investor dalam proses book building mencapai sekitar US$4,6 miliar sehingga penerbitan ditingkatkan menjadi US$1,5 miliar.
“Ini adalah hasil yang sangat baik dan ini membuktikan juga bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia ini tinggi. Dan ini real,” ujar Rosan.
Dana hasil penerbitan obligasi tersebut terbagi dalam tenor 5 tahun dan 10 tahun, masing-masing senilai US$750 juta. Imbal hasil obligasi tenor 5 tahun ditetapkan 5,35%, sedangkan tenor 10 tahun sebesar 5,95%.
Rosan menyebut komposisi pembeli obligasi didominasi investor Amerika Serikat serta Eropa dan Timur Tengah. Menurutnya, hal itu menunjukkan akses pendanaan Indonesia di pasar internasional masih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Danantara juga mendorong percepatan transformasi digital BUMN melalui penguatan model bisnis, pengalaman pelanggan, model operasi, infrastruktur teknologi, serta tata kelola dan pemanfaatan data. Transformasi itu akan dijalankan bertahap, dimulai dari pengukuran kesiapan digital seluruh BUMN dan pembangunan fondasi kolaborasi dalam enam bulan pertama. (Z-10)