Ezra Adinugroho menjalani dua kehidupan yang sama-sama ia tekuni: sebagai drummer Enamore dan pegiat anggrek yang telah mewakili Indonesia di ajang internasional.
![]()
Ezra Adinugroho di tengah deretan anggrek yang sedang mekar di DD Orchid Nursery, Kota Batu / Dok. Puti Cinintya Arie Safitri
Saya hampir tidak jadi ke Batu.
Tiket kereta pertama sudah terbeli, jadwal sudah tersusun, satu hari istirahat di Malang sebelum wawancara sudah terbayang. Tapi ada satu hal yang tidak terbayang: bahwa saya akan berdiri di peron dengan nafas setengah, menyaksikan kereta itu berangkat tanpa saya. Tiket hangus. Rencana buyar.
Saya beli tiket lagi.
Kereta berikutnya berangkat besoknya, jam 11 siang. Saya duduk di kursi yang sama selama berjam-jam, menatap pemandangan yang berganti dari kota ke sawah ke kota lagi, sampai akhirnya tidak ada lagi yang menarik untuk dilihat. Perjalanan itu terasa seperti menunggu tanpa tahu persis apa yang ditunggu. Jam 2 pagi, kereta akhirnya berhenti. Malang. Gelap, sepi, dan saya belum tidur.
Jam 6 pagi, saya sudah di jalan menuju Batu.
Mungkin terdengar berlebihan, merelakan semua itu hanya untuk mewawancarai seseorang yang belum pernah saya temui. Tapi ada sesuatu dalam deskripsi singkat yang saya baca sebelumnya yang membuat saya penasaran: seorang drummer band post-hardcore yang sehari-harinya menjual anggrek. Bukan sebagai sampingan yang diucapkan dengan nada malu-malu, tapi sebagai identitas utama yang ia sebut pertama kali ketika memperkenalkan diri.
DD Orchid Nursery terletak di Kota Batu, di antara udara pagi yang masih dingin dan deretan pot yang tersusun rapi hingga ke sudut-sudut yang hampir tidak terjangkau mata. Saya yang tiba duluan. Beberapa menit kemudian, suara motor masuk ke halaman, dan dari sanalah Ezra Adinugroho turun: seorang pria dengan long sleeve hitam bertuliskan nama bandnya, Enamore, dengan artwork yang begitu bagus sampai saya sempat memperhatikannya sebelum sempat menyapa. Ironi yang tidak ia rencanakan, tapi terasa tepat: orang yang akan mengaku lebih suka memperkenalkan diri sebagai penjual anggrek, datang dengan band yang tercetak di dadanya.
![]()
Ezra memegang botol berisi bibit anggrek (seedling) di antara rak-rak flasking DD Orchid Nursery, Kota Batu / Dok. Puti Cinintya Arie Safitri
Kami saling memperkenalkan diri di antara deretan pot anggrek, saya dengan rokok di tangan, ia dengan kesopanan yang tidak dibuat-buat. Setelah sesi foto di nursery, tempat ia bergerak di antara tanaman-tanamannya seperti orang yang hafal setiap sudut rumahnya sendiri, kami baru beranjak ke kafe. Memesan kopi, pastri, dan mulai berbicara.
“Kalau misalkan dari musik, mungkin nggak banyak orang yang tahu,” kata Ezra, ketika saya tanya dari mana ia biasanya memulai ketika memperkenalkan diri. “Jadi aku lebih mengenalkan diriku sebagai penjual anggrek.”
Ezra Adinugroho adalah drummer Enamore, band post-hardcore asal Kota Batu yang sejak 2017 telah menavigasi skena alternatif Jawa Timur dengan sound emosional dan atmosferik. Tapi di luar panggung dan ruang latihan, ia menjalankan Orchid of Eden, usaha anggrek yang ia rintis pada Januari 2021, di tengah pandemi yang sedang menggerus hampir segalanya, termasuk dunia musik.
Awalnya sederhana. Ia hanya ingin berjualan. Tapi ia merasa ada yang kurang, sesuatu yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan memajang tanaman dan menunggu pembeli datang. Maka ia mendaftar ke sekolah juri anggrek, sebuah program selama kurang lebih sepuluh hari yang membawanya masuk lebih dalam ke dunia yang ternyata jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan: nama-nama ilmiah, jenis-jenis spesies, asal-usul, karakteristik perawatan masing-masing varietas.
“Pengennya sih cuma jualan,” katanya. “Tapi ternyata kurang brandingnya aja.”
![]()
Ezra merapikan tanaman anggrek yang digantung di area nursery / Dok. Puti Cinintya Arie Safitri
Dari sekolah juri itulah sesuatu berubah. Berjualan anggrek bukan lagi sekadar mencari penghasilan. Dan pengetahuan yang ia serap dari sana tidak hanya membentuk caranya berdagang, tapi juga, secara tak terduga, caranya mendengarkan musik. “Dari aku tahu semua jenis ini, aku mulai ngulik ke musik juga,” katanya. Dua dunia yang tampak tidak berhubungan ternyata saling memberi sinyal, meski dalam frekuensi yang tidak selalu mudah dijelaskan.
Sebelum mandiri dengan Orchid of Eden, Ezra bekerja selama kurang lebih dua tahun di sebuah kebun anggrek, dari 2022 hingga Februari 2025. Di sana ia tidak hanya belajar teknis perawatan, tapi juga memahami seluk-beluk komunitas anggrek yang ternyata punya ekosistemnya sendiri yang ketat dan serius. Anggrek, ia jelaskan, bukan tanaman sembarang. Segmentasinya spesifik: orang-orang yang sudah punya rumah, punya halaman, punya stabilitas untuk merawat sesuatu yang tidak bisa dipaksa tumbuh. Kebanyakan berusia di atas empat puluh tahun. Dan anak-anak mereka, hampir selalu, tidak tahu cara merawatnya.
Di situlah celah yang Ezra masuki.
![]()
Ezra memeriksa pot anggrek di tengah area nursery DD Orchid Nursery, Kota Batu / Dok. Puti Cinintya Arie Safitri
“Rata-rata waktu ketemu aku kaget, terus malah tanya perawatan,” katanya, tertawa kecil. Reaksi orang ketika tahu ia menjual anggrek hampir selalu sama: kaget, lalu penasaran, lalu bercerita tentang anggrek di rumah orang tua mereka yang tidak ada yang bisa merawat. Percakapan yang dimulai dari keterkejutan berakhir menjadi konsultasi perawatan tanaman. Bahkan seorang vokalis band yang ia kenal, yang usianya jauh di atasnya, pernah bereaksi sama: “Kamu jualan anggrek? Kok unik?” Lalu mereka menghabiskan sisa pertemuan itu membicarakan anggrek di rumah sang vokalis yang selama ini hanya dirawat orang tuanya.
Ezra tidak tersinggung dengan reaksi-reaksi itu. Ia justru menikmatinya. Karena dari titik itulah percakapan yang sesungguhnya dimulai.
Pada 2023, ia berangkat ke Singapura sebagai delegasi Malang Orchid Society, PAI Malang Raya, untuk mengikuti Asia Pacific Orchid Conference di Singapore Expo. Ia ikut lomba landscape anggrek dengan ukuran tiga kali tiga meter, sekaligus bertugas sebagai steward dan observer dalam sesi penjurian. Setahun kemudian, ia kembali mewakili Indonesia, kali ini ke Taiwan, untuk World Orchid Conference and Taiwan International Orchid Show, salah satu ajang anggrek berskala dunia.
Semua ini datang dari seseorang yang latar belakang pendidikannya adalah ilmu komunikasi, jurusan jurnalistik, di Universitas Muhammadiyah. “Sangat jauh berbeda,” katanya, dengan nada yang tidak menyesal, hanya kontemplatif. Seperti orang yang sudah lama berhenti merasa perlu menjelaskan mengapa hidupnya tidak berjalan sesuai jalur yang paling logis.
Tapi Enamore tidak pernah benar-benar pergi.
Band yang ia dirikan bersama temannya Niko pada 2017 itu telah melewati beberapa pergantian personil sejak awal berdirinya. Vokalis terbaru mereka, Aditia Pramana Putra, baru bergabung pada 2025, dan single perdana dengan formasi baru itu, “Circle”, dirilis pada Januari 2026 melalui Haum Entertainment. Sebuah lagu tentang siklus emosi yang berulang, tentang upaya bergerak maju yang kerap berakhir kembali ke titik awal. Band sedang naik, kata Ezra. Dan ia tahu itu.
![]()
Foto hitam putih Ezra sedang main drum di panggung, mendongak / Dok. Mochammad Ardiansyah Dwi Putra
Namun ketika saya tanya apa yang ia dapatkan dari bermusik, jawabannya tidak seperti yang biasanya orang harapkan dari seorang musisi. “Di band aku cuma dapat senangnya, jalan-jalan, punya koneksi, itu aja,” katanya. Bukan keluhan. Bukan pula kebanggaan yang direndah-rendahkan. Hanya kejujuran yang jarang terucap di skena musik manapun, di mana mengakui bahwa musik tidak memberi makan sering terasa seperti kekalahan.
Bagi Ezra, itu bukan kekalahan. Itu pembagian yang jelas.
Yang menarik adalah bagaimana ia mengelola keduanya, bukan dengan memisahkan dua dunia itu sepenuhnya, tapi dengan menerapkan satu prinsip yang sama di keduanya: tepat waktu. Baginya ini bukan soal etika kerja yang kaku. Ini soal menghormati waktu orang lain, dan menghormati kesibukan masing-masing. Gitaris Enamore adalah seorang guru. Kegiatannya dari pagi sampai sore sudah terjadwal ketat. Maka ketika mereka sepakat ngopi jam tujuh malam, semua datang jam tujuh. Jam sembilan sudah pulang. Tidak ada yang perlu menunggu, tidak ada yang perlu merasa bersalah.
“Kebanyakan anak muda yang aku tau itu nggak tepat waktu,” katanya. “Untungnya di Enamore, semua playernya tepat waktu. Dan mereka tau toleransi temennya, kegiatannya apa, pekerjaannya apa.”
![]()
Ezra menyiram tanaman anggrek di pagi hari, bagian dari rutinitas harian di DD Orchid Nursery / Dok. Puti Cinintya Arie Safitri
Di kebun, ritme itu sama ketatnya. Menyiram mulai jam enam, selesai jam tujuh. Jam tujuh harus ganti kegiatan. Setiap slot waktu punya tugasnya sendiri, dan tidak ada yang boleh menggeser tanpa alasan. Bagi sebagian orang ini mungkin terdengar melelahkan. Bagi Ezra, ini adalah cara satu-satunya ia tahu untuk menjaga dua dunia tetap berjalan tanpa yang satu mengorbankan yang lain.
Waktu pandemi, keseimbangan itu sempat goyah. Dunia musik sedang di titik terendahnya, panggung tutup, dan tidak ada yang tahu sampai kapan. Di saat itulah anggrek masuk, tidak hanya sebagai hobi atau eksperimen, tapi sebagai sesuatu yang lebih mendasar. “Mungkin aku di anggrek ini salah satu jalanku untuk bisa tetap hidup,” katanya. Kalimat itu tidak diucapkan dengan dramatisasi. Tidak ada jeda untuk efek. Hanya fakta yang disampaikan dengan tenang, seperti orang yang sudah lama berdamai dengan ceritanya sendiri.
Saya tanya kepada Ezra: apakah ada momen ketika dua dunia itu, kebun dan panggung, terasa sedang membicarakan hal yang sama tapi dengan bahasa yang berbeda?
Ia tidak perlu berpikir lama. “Sama sih, kayak kedisiplinan juga, toleransi juga. Bahasanya sama tapi kegiatannya berbeda.”
Di komunitas anggrek, Ezra adalah salah satu yang termuda. Rata-rata anggotanya berusia di atas empat puluh tahun, orang-orang yang sudah punya rumah, punya halaman, punya waktu untuk merawat sesuatu yang tidak bisa dipaksa tumbuh. Anggrek tidak mekar sesuai keinginan. Kebanyakan justru baru berbunga antara September hingga November, dan tidak ada cara untuk mempercepat itu. Komunitas yang merawatnya, dengan sendirinya, adalah komunitas yang sudah belajar bersabar.
Di Enamore, rata-rata anggotanya jauh lebih muda. Dunia yang berbeda, ritme yang berbeda, bahasa sehari-hari yang berbeda. Tapi Ezra menavigasi keduanya dengan cara yang sama: tahu posisi, tahu batas, tahu waktu. Di kebun ia belajar peka terhadap detail yang tidak kasat mata, bagaimana membaca kondisi tanaman, membedakan satu spesies dari yang lain hanya dari bentuk daun atau tekstur akarnya. Di band ia belajar membaca orang, tahu kapan seorang personil sedang tidak bisa diganggu, kapan mereka bisa dikumpulkan.
Kepekaan yang sama, diterapkan pada objek yang berbeda.
Ada satu hal yang ia sebut, hampir sambil lalu, yang menurut saya justru paling mengungkapkan sesuatu tentang dirinya. Ia bercerita tentang seorang musisi, dari Bandung atau Jakarta, ia tidak ingat pasti, yang juga mencintai anggrek. Orang itu sudah meninggal. Ezra tahu karena ada foto yang diposting, seseorang berdiri di depan anggrek, di sebuah greenhouse, dan dari cara tanaman itu dirawat, Ezra bisa langsung mengenali varietasnya: Anggrek Bulan. Ia tidak kenal orangnya secara langsung. Tapi ia mengenali dunianya.
“Berarti tadinya sebenarnya kamu tidak satu-satunya,” kata saya.
“Ada,” jawabnya. “Tapi untuk sementara ini, mungkin aku jadi salah satunya.”
Ia mengatakannya tanpa pretensi. Tidak seperti orang yang sedang mengklaim sesuatu, tapi seperti orang yang sedang mencatat fakta dengan hati-hati.
Menjelang akhir obrolan kami, saya tanya satu pertanyaan yang mungkin paling sulit: jika ia harus memilih satu, mana yang akan ia lepas?
Ezra diam sebentar. “Agak susah,” katanya. “Kalau misalkan memang bandku biasa-biasa aja, aku kayaknya bakalan milih tetap di anggrek. Tapi karena bandku yang sekarang ini lagi naik, jadi sebenarnya sama-sama profitnya.”
Lalu ia menambahkan sesuatu yang terasa seperti kesimpulan yang tidak ia sadari sedang ia ucapkan: “Sama-sama suka.”
Tiga kata yang sederhana, tapi bagi saya itulah inti dari semua yang kami bicarakan pagi itu. Ezra tidak sedang menjalani dua hidup yang saling bertarung. Ia sedang menjalani satu hidup yang kebetulan punya dua pintu masuk, dan ia tahu cara membuka keduanya di waktu yang tepat.
Ketika saya tanya bagaimana ia membayangkan dirinya sepuluh tahun dari sekarang, ia menjawab tanpa ragu: “Aku punya greenhouse yang besar, bandku juga besar. Dan aku menjadi suami yang baik untuk istriku nanti.”
Tidak ada yang ambisius secara berlebihan di situ. Tidak ada target angka, tidak ada rencana ekspansi yang muluk. Hanya tiga hal yang ia sebut dalam urutan yang, bagi saya, sudah bicara banyak tentang siapa Ezra Adi Nugroho: tempat yang lebih besar untuk anggrek-anggreknya, musik yang terus tumbuh, dan seseorang untuk pulang.
![]()
Di luar panggung bersama Enamore, Ezra Adi Nugroho menghabiskan waktunya di antara ratusan koleksi anggrek, hobi plus penghasilan yang kemudian membawanya menjadi delegasi Indonesia di ajang anggrek internasional / Dok. Puti Cinintya Arie Safitri
Saya meninggalkan DD Orchid Nursery dan kafe itu dengan kepala yang masih belum sepenuhnya terjaga setelah perjalanan panjang semalam. Tapi ada sesuatu yang terasa lebih ringan dari sebelumnya, semacam kepuasan pelan yang datang ketika sebuah pertanyaan tidak sepenuhnya terjawab, tapi justru karena itu terasa lebih jujur. Ezra tidak punya jawaban tunggal tentang siapa dirinya. Ia punya dua, dan keduanya benar.
Tiket kereta yang hangus itu, rasanya, sudah lebih dari terbayar.