
IRAN melaporkan telah mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak mentah sejak Amerika Serikat (AS) mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran. Ketua Parlemen sekaligus negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibafmenyatakan bahwa saat ini Iran menjual minyak dengan harga sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan periode sebelum perang.
Lonjakan ekspor ini terjadi setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni 2026 untuk mengakhiri konflik yang berlangsung selama hampir empat bulan. Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan penetapan masa negosiasi selama 60 hari guna menyusun perjanjian damai permanen.
Pemulihan Jalur Logistik Energi
Gencatan senjata ini memicu lonjakan pengiriman minyak mentah melalui jalur air vital tersebut, yang sebelumnya sempat terhenti total selama konflik. “Sejak hari blokade laut diangkat, kami mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak,” ujar Ghalibaf dalam wawancara televisi yang disiarkan melalui saluran Telegram-nya, Selasa (30/6).
Ghalibaf menambahkan bahwa selama dua bulan blokade berlangsung sebelum kesepakatan tercapai, Iran sama sekali tidak mampu mengekspor satu barel pun minyak. Sementara itu, firma pelacak tanker TankerTrackers.com memberikan estimasi yang lebih tinggi, yakni mencapai 50 juta barel dalam dua minggu terakhir, berdasarkan pemantauan citra satelit dan sistem identifikasi otomatis (AIS) real-time.
Dinamika Harga Minyak Global
Di pasar global, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di kisaran US$73 per barel pada Rabu (1/7). Angka ini menunjukkan penurunan hampir 40% dari puncak harga saat perang yang mencapai US$118 pada April lalu. Penurunan harga dipicu oleh kemajuan diplomatik dan ekspektasi kembalinya pasokan dari Teluk.
Analis senior Eurasia Group, Gregory Brew, mencatat bahwa sebelum perang, minyak mentah Iran biasanya dijual dengan diskon US$10 hingga US$15 di bawah harga Brent untuk mengompensasi risiko sanksi bagi pembeli. Namun, kondisi saat ini menunjukkan penguatan posisi tawar Iran di pasar energi.
Kedaulatan Selat Hormuz
Berdasarkan MoU, Iran setuju mengizinkan kapal melintasi Hormuz bebas biaya tol selama 60 hari. Namun, Ghalibaf menegaskan bahwa kendali administrasi tetap berada di tangan Teheran. “Kedaulatan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan Oman. Lalu lintas di selat tunduk pada pengaturan yang ditentukan oleh Iran,” tegasnya.
Status Aset yang Dicairkan
Selain masalah minyak, Ghalibaf membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut bahwa aset Iran yang dicairkan akan digunakan untuk membeli produk pertanian Amerika. Dari total sekitar US$24 miliar aset yang dibekukan di luar negeri, Ghalibaf menyatakan US$12 miliar (sekitar Rp196 triliun) akan diserahkan ke bank sentral Iran.
“Dana tersebut akan digunakan untuk membeli barang apa pun yang dibutuhkan negara, dengan harga berapa pun dan dalam mata uang apa pun di dunia,” pungkas Ghalibaf.
Hingga saat ini, mekanisme tata kelola Selat Hormuz setelah masa transisi 60 hari berakhir masih belum menemui titik terang. Kapal-kapal saat ini melintasi selat melalui koridor selatan di sepanjang pantai Oman atau melalui jalur utara yang dikendalikan Iran. (CNBC/I-2)