1. News
  2. Kombitainment
  3. Ulasan Album Danilla Candramawa: Bujuk, Resah, Tenang, hingga Menguatkan

Ulasan Album Danilla Candramawa: Bujuk, Resah, Tenang, hingga Menguatkan

ulasan-album-danilla-candramawa:-bujuk,-resah,-tenang,-hingga-menguatkan
Ulasan Album Danilla Candramawa: Bujuk, Resah, Tenang, hingga Menguatkan

Saat ingin memulai tulisan ini, saya juga mengetikkan nama dan judul album penyanyi perempuan muda yang lebih dulu mengeluarkan materi. Perilisan mereka berdua tak sampai satu bulan. Alasan mengapa album penuh ini karena mengenal Danilla lebih dulu, yang seharusnya saya bisa lebih mudah membuat ulasan dari kenalan pertama.

Danilla Riyadi bukan teman akrab, bukan juga teman lama, apalagi idola saya. Dia hanya musisi yang saya selalu ingat pernah menemuinya untuk sesi wawancara di tempat ngopi yang saat itu menjadi ruang banyak pekerja kreatif berkumpul, namanya Coffeewar. Danilla menyanyikan lagu-lagu album Telisik di tahun perilisannya, 2014.

Malam itu, Danilla tak sendirian, didampingi Lafa Pratomo untuk menjawab satu per satu pertanyaan saya sebagai anak baru di dunia media massa. Bahkan tak pernah terpikirkan oleh saya menjalani kegiatan pencatatan musik lebih dari satu dasawarsa ini, sampai pula mengetikkan ulasan kedua karya yang dihasilkan Danilla. Yang pertama album Fingers untuk halaman situs webnya.

Oke, mari mulai mendengarkan. “Pertunjukan Terakhir” hadir membujuk. Sebagai lagu pembuka, liriknya sudah berupa imbauan, “Coba coba tenang tenangkanlah dulu.” Dianjurkan mendengarkannya dengan mata terpejam, dan iya, musiknya mengusahakan hening itu. Bunyi gitar yang muncul bikin resah, apalagi setelahnya, “Selamat datang” yang diakhiri “Kenanglah aku.” Danilla resah membuat lagu, saya gelisah mengulas buatannya.

Lanjut trek kedua, “Prasangka”, kolaborasi bareng pria “Niscaya”. Sejak awal mendengarkan, resah sekali. Saya tanya langsung dulu sebentar via teks ke Danilla. Apa ini album tentang keresahan atau tenang? Sambil menunggu jawaban, bakar rokok dan membiarkan bibir basah anggur merah. Nah, terjawab, “Apa ya… kalau di aku jadi album resah dan tenang di saat bersamaan, Kak. Kayak pasrah gitu, hehe.”

Belakangan saya baru tahu, menurut KBBI, candramawa berarti hitam bercampur putih, tentang warna bulu kucing. Barangkali itu pula yang saya rasakan sejak trek pertama. Album ini tak pernah membuat saya benar-benar berada di satu rasa. Resah dan tenang bercampur begitu saja.

Aransemen memburu di trek ketiga, “Kata Siapa?”. Tanpa menyimak penuh liriknya, ini memang membawa saya berputar-putar entah ke mana sampai kelelahan. Hidup belakangan ini melelahkan, dan trek selanjutnya, “Anaking”, pun muram. Danilla bilang, “Waktu bikin album ini memang kebayang sinematiknya lebih-lebih lagi.”

Saya memang sedang sedih. Bukan bertambah-tambah sedih saat mendengarkan album ini, tapi saya merasa kalah sama diri sendiri. Apakah tidak apa-apa kalah sama diri? Saya sambil bertanya lagi ke yang punya album. “Hmm… mungkin lebih ke jangan berkompetisi sama diri sendiri kali ya, Kak, kalau aku. Supaya lebih ke memahami daripada menang atau kalah.”

Dihantam lagi ternyata sama “Cinta Pertama”. Makin berengsek nadanya. Dan saya menyudahi percakapan dengan sang pemilik album. Coba mengingat kembali, apa itu cinta pertama? Tidak ada. Buram, bahkan musnah dalam ingatan. Danilla bilang, “Tinggallah seorang bocah yang hilang arah.” Itu saya saat ini.

Masuk ke trek “Lembar Biru”, hati seakan perlahan melunak. Tadinya menyangka tidak bisa dihancurkan, ternyata kini tak lagi berbentuk. “Oh, sepertinya diriku sakit terlampau jauh.” Berengsek perasaan-perasaan ini jika ditutup permohonan maaf, sebenarnya.

Tuhan, di mana batas kesanggupan manusia tentang perasaannya? Berat sekali menghadapi. Tapi percaya bisa lega, buktinya ada album ini. Kemudian “Dasawarsa” mengalun tenang di antara yang tak tenang di latarnya yang sedikit berisik. Tak mampu membayangkan berpisah 10 tahun. Sungguh. Teringat mendengarkan lagu ini begitu serius ketika bersamanya, ruangannya gelap. Dia mengatakan, Danilla di lagu ini seperti terbagi menjadi fase. Dia menyukai lagu ini, dia yang menghancurkan hati saya. Kalau boleh spontan berkomentar, album ini akhirnya seperti penyempurnaan dari sekian banyak lubang di perjalanan musik dan pribadi Danilla.

Ada garis memulai, ada garis untuk mengakhiri. Selalu begitu hidup dan mati. Begitu juga album penuh, sepenuh apa pun gizinya, tiba waktu muntah atau selesai dengan semestinya. Hingga penutup “Setitik”, kolaborasi bareng dua penyanyi perempuan, membuktikan bahwa bukan harus, namun kita manusia-manusia bisa saling menguatkan. Kalau besok tak baik sendirian, berduaan, ulangi lagi tidur yang benar.

Terima kasih, Danilla, sudah hadir di hidup banyak orang, termasuk saya yang bukan pendengarmu, mengagumi pengalaman panjangmu.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Ulasan Album Danilla Candramawa: Bujuk, Resah, Tenang, hingga Menguatkan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us