Bagi masyarakat di luar Sulawesi, mendengar nama depan Andi mungkin terdengar biasa saja, paling mentok dikira nama panggilan cowok Jawa. Namun bagi kami masyarakat Bugis Makassar, empat huruf itu adalah sebuah takdir, kehormatan, sekaligus beban moral yang cukup melekat.
Sebagai wanita keturunan Kerajaan Tulang yang menanggung gelar tersebut, hidup ini rasanya seperti berjalan di bawah lampu sorot ekspektasi publik. Ada kebanggaan besar karena secara tidak langsung kita meneruskan garis keturunan leluhur. Tetapi di balik itu ada stereotip sosial yang sering kali bikin elus dada.
Tuntutan untuk menjadi manusia sempurna tanpa cela adalah hal pertama yang paling menguras energi. Saya pernah bercanda terlalu keras saat acara keluarga, lalu bukannya ikut tertawa, ada saja yang berkomentar, “Masa Andi begitu sekali kelakuannya?” Sejak saat itu saya sadar, ternyata nama depan saya ikut dinilai setiap kali saya membuka mulut.
Padahal selayaknya manusia biasa, apalagi kalau umur masih muda dan masih dalam fase proses mendewasakan diri. Tolong catat ya, kami ini sekadar keturunan raja, bukan makhluk tanpa cela yang turun dari langit.
Masa depan penyandang gelar Andi yang berat
Keresahan itu makin lengkap kalau sudah bergeser ke ranah masa depan, terutama ketika gelar adat bersanding dengan pencapaian akademik. Ada anggapan tak tertulis di masyarakat kalau perempuan bergelar Andi itu uang panainya otomatis harus meroket tinggi. Apalagi kalau posisinya seperti saya sekarang yang insyaallah sebentar lagi akan menggandeng gelar Sarjana. Wah, siap-siap saja kuping jadi merah karena diledek orang-orang sekitar yang mengira angka panainya pasti tembus ratusan juta.
Padahal yang menentukan angka adalah kesepakatan keluarga, tapi yang sibuk membuat kalkulasi fiktif justru orang luar.
Selain urusan panai, perihal jodoh untuk perempuan Andi juga memiliki dinamika psikologis tersendiri. Memang sih, zaman sekarang keluarga sudah jauh lebih terbuka dan tidak kaku menuntut kita harus mendapatkan pasangan yang bergelar Andi juga. Namun, secara adat, jika perempuan Andi menikah dengan pria yang bukan Andi, maka gelar bangsawan itu otomatis akan berhenti di kita dan tidak bisa diturunkan ke anak-anak.
Hal inilah yang memicu perasaan mengganjal yang halus. Seolah-olah kita adalah ujung jalan dari sebuah silsilah panjang. Padahal masa depan dan pernikahan kan urusan kecocokan dua kepala, bukan sekadar sinkronisasi gelar di KTP.
“Cuma nama saja, tidak perlu dibawa-bawa”
Makanya, setiap kali ada obrolan keluarga atau diskusi tetangga yang mulai menyerempet soal keturunan raja, pandangan orang-orang pasti langsung mengarah ke saya. Seolah-olah saya adalah juru bicara resmi kerajaan masa lalu yang tahu segala hal tentang silsilah.
Kalau sudah begitu, respons andalan saya yang paling aman dan paling sering dikeluarkan adalah, “Andi-ku cuma nama, tidak usah dibawa-bawa.” Kalimat sakti ini adalah tameng terbaik untuk menurunkan ekspektasi orang-orang, sekaligus kode halus kalau kami juga ingin berinteraksi biasa tanpa sekat feodal yang kaku.
Pada akhirnya, menyandang gelar ini adalah tentang bagaimana kita berdamai dengan masa lalu dan masa kini. Saya tetap bangga menjadi perempuan Bugis bergelar Andi, tapi saya lebih ingin dikenal sebagai orang yang bermanfaat daripada sekadar cucu siapa. Menjadi keturunan bangsawan Bugis bukan berarti kita harus hidup kaku di dalam museum ekspektasi orang lain. Nama depan memang diwariskan oleh leluhur, tapi nama baik harus kita perjuangkan sendiri.
Penulis: Andi Nur’ Afiat Rusdi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 2 Juli 2026 oleh