TRIBUN-VIDEO.COM – Pendaki Yazid Ahmad Firdaus (26) akhirnya ditemukan pada Selasa (10/2/2026) selepas 23 hari dinyatakan hilang di Bukit Mongkrang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah Yazid, warga Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, ditemukan meninggal dunia di aliran Sungai Mitis, sekitar 1,7 kilometer (km) dari jalan setapak pendakian Bukit Mongkrang. Tim dari Wanadri menemukan Yazid sekitar pukul 08.54 WIB, di titik 07 41 00 LS dan 111 10 30 BT.
Menurut penuturan Wanadri, mereka tetap melakukan pencarian secara mandiri selepas Basarnas menutup operasi pencarian pada Sabtu (31/1/2026) petang. Sugiarto, anggota Search Rescue Unit Wanadri, mengatakan bahwa tim evakuasi sampai di titik penemuan subjek sekitar pukul 11.00 WIB.
Meski melalui medan yang sulit, subjek atau korban bisa dievakuasi pada pukul 18.00 WIB.
Berikut Wanadri ceritakan proses pencarian hingga detik-detik penemuan Yazid.
Kronologi pencarian Yazid diketahui mendaki Mongkrang pada Minggu, 18 Januari 2026, bersama ketiga rekannya, yaitu Salman, Sukma, dan Riyan. Pendakian tektok dimulai pada pukul 06.30 WIB. Saat perjalanan turun, Sukma terakhir melihat Yazid di area batuan di atas Pos 3.
Setelah itu, Salman dan Sukma melanjutkan perjalanan turun hingga tiba di basecamp (BC). Namun, Yazid tidak kunjung tiba.
Yazid sempat dicari oleh Sukma, yang memutuskan kembali naik untuk mencarinya. Namun hingga sore, keberadaan Yazid tetap tak diketahui, hingga pada hari yang sama Yazid pun resmi dinyatakan hilang. Pencarian dilakukan oleh Tim SAR Gabungan dan resmi ditutup pada 31 Januari 2026. Selepas ditutup, Wanadri berusaha melanjutkan pencarian secara mandiri yang resmi dimulai pada Sabtu (7/2/2026).
Sugiarto sendiri bergabung di tim pada Senin (9/2/2026). Dalam pencarian mandiri ini Wanadri dibantu SAR dari Surabaya. “Total, ada 11 orang dalam tim kami,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (11/2/2026).
Gunakan metode tracking mode
Dalam SAR lanjutan ini Wanadri menerapkan metode pelacakan atau tracking mode dalam upaya pencariannya. Mereka juga menerapkan flying camp untuk mempermudah pencarian.
Jadi dengan metode ini, tim tidak perlu naik-turun gunung setiap hari yang berpotensi menguras energi sehingga pencarian tak bisa maksimal.
“Kami ada grup WA untuk menganalisis kondisi lapangan. Di situ kami saling kasih masukan selepas mendeteksi kemungkinan-kemungkinan lintasan subjek ke arah mana saja,” ujarnya.
Kemungkinan-kemungkinan ini dipelajari lewat data subjek, kronologi pendakian hingga dinyatakan hilang, juga psikologi korban seperti perilaku dan tujuan subjek ke Mongkrang.
“Kemudian data itu kami masukkan ke dalam peta topografi, dan akhirnya kami bisa mendapatkan kemungkinan-kemungkinan lintasan yang dilalui subjek,” sambung Sugi. Selepas itu, pada Selasa pagi, mereka melakukan penyusuran kembali, dimulai sekitar pukul 08.00 WIB.
Area kali itu adalah aliran sungai yang dilalui pipa-pipa air penduduk. Mereka menyusuri sungai dari arah bawah menuju atas.
Mengenai tubuh korban yang tertutup pohon pisang, Wanadri juga memberikan analisisnya. “Ada dugaan saat ia terjatuh, ia sempat memegang pohon pisang. Namun sayang, pohon tak kuat dan justru ikut terjatuh ke dalam sungai.”
Titik penemuan Yazid berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl. Tertahan banyak pohon dan batuan, membuat tubuhnya tak hanyut ketika banjir datang.
Mengingat, musim hujan belum usai, dan di dekat sungai terdapat air terjun dengan aliran cukup deras. “Dari titik terakhir ia terlihat oleh temannya, Yazid sudah berjalan sekitar 3 kilometer hingga sampai di titik ia ditemukan,” pungkas Sugi.
Editor Video: Fathiya
#beritaterkini #beritaterbaru #beritaviral #kabarterkini #PendakiMongkrang #OrangHilang #Pendaki #YazidAhmadFirdaus #Yazid #BukitMongkrang #Evakuasi