Dahulu, saya pikir cuma guru-guru yang belum punya ijazah sarjana yang kuliah di Universitas Terbuka (UT). Maklum, pernah ada masa seseorang bisa bekerja sebagai guru hanya dengan ajazah D3. Lalu, muncul UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen yang secara teratur tegas menetapkan bahwa kualifikasi minimal untuk seorang pendidik adalah lulusan Sarjana (S1) atau Diploma Empat (D4).
Akan tetapi, setelah saya mendaftar ke UT pada 2013, saya sadar bahwa ternyata yang kuliah di UT itu datang dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa lulusan baru lulusan SMA, pekerja kantoran, wirausaha, hingga karyawan pabrik.
Nah, kelompok pekerja ini nih yang menarik perhatian saya. Maksud saya begini, sebagai pekerja, mereka itu kan pasti sudah riweuh dengan urusan di kantor atau di pabrik. Lha, kok, masih sempat-sempatnya mengejar pendidikan? Hebat sekali mereka. Perusahaan atau industri tempat mereka bekerja pasti bangga.
POV industri tentang Universitas Terbuka
Di mata dunia industri, punya karyawan yang mau mengembangkan diri itu suatu hal yang bagus. Soalnya, perusahaan juga yang akan mendapatkan manfaatnya. Cuma ya, dalam hal ini manajemen perusahaan seringkali dibuat dilema. Di satu sisi mereka ingin karyawannya meningkatkan diri, tapi di sisi lain, mereka tidak mau kehilangan produktivitas.
Untungnya, ada UT.
Sistem perkuliahan di UT yang fleksibel, bisa penuh daringmemang memiliki karakteristik yang sangat cocok dengan kebutuhan ekosistem kerja hari ini. Sehingga, UT dianggap sebagai jalan ninja perusahaan untuk mengejar efisiensi.
Bayangkan kalau pekerja mengambil izin kuliah di kampus konvensional. Otomatis, jam kerja mereka akan sering terpotong karena jadwal kelas yang tabrakan. Saya jadi ingat pernah ada rekan kerja saya yang melanjutkan studi bukan di UT.
Alhasil, tiap sabtu dia terpaksa izin tidak berangkat karena harus kuliah. Ya jelas merepotkan pemberi kerja jadinya. Belum di hari biasa juga dia kadang-kadang izin pulang cepat untuk urusan kuliah, hmmm.
Dari Agung Sedayu hingga BPJS Kesehatan
Itu mengapa, sekarang saya sudah nggak heran kalau banyak perusahaan langsung mengarahkan karyawannya yang ingin kuliah, supaya ke UT saja.
Kalian tahu perusahaan raksasa Agung Sedayu Group? Ah, harusnya sih tahu, ya. Minimal, pasti pernah dengar namanya.
Nah, Agung Sedayu Group ini, termasuk perusahaan yang percaya dengan kapabilitas dan kualitas UT. Buktinya, melalui anak perusahaannya di kawasan PIK2, Agung Sedayu Grup dengan suka hati merogoh kocek hingga Rp2,98 miliar untuk memberikan beasiswa penuh bagi ratusan karyawan internal dan masyarakat sekitar agar bisa menempuh studi di UT.
Setali tiga uang, ada pula PT Samudera Indonesia Tangguh. Dengan mobilitas pegawai lapangannya yang luar biasa tinggi di bidang logistik dan pelayaran, manajemen melihat sistem belajar jarak jauh UT sebagai jawaban paling logis untuk menaikkan kualifikasi SDM mereka. Itu sebabnya, mereka mengarahkan karyawannya untuk kuliah di UT saja.
Dan, kalau kalian rajin buka-buka arsip lama, kalian juga pasti akan menemukan berita bahwa sepanjang tahun 2024, BPJS Kesehatan telah memberi kuliah kepada 436 petugasnya di UT,
Melihat? Sebesar itulah kepercayaan perusahaan kepada UT.
Pengalaman pribadi di sekitar penulis
Nggak usah jauh-jauh Agung Sedayu atau BPJS Kesehatan, deh. Pengawas sekolah saya, tadinya hanya guru mapel biasa. Kemudian, dia mengambil S1 di UT sehingga bisa melebarkan karirnya menjadi pengawas SMK.
Ada pula teman akrab saya yang tadinya hanya bantu-bantu di administrasi sekolah, kini berujung jadi guru. Gara-garanya, saat itu sekolah sedang butuh tenaga guru baru. Alih-alih membuka lowongan, sekolah memilih untuk memberi kesempatan pada kawan saya untuk kuliah dulu di UT.
Ya jelas seneng banget lah dia. Apalagi, berkat statusnya yang sudah naik kelas jadi guru itu, dia jadi terpanggil untuk ikut Pendidikan Profesi Guru (PPG). Ending-nya, dia bisa dapat tambahan penghasilan sebesar 2 juta tiap bulannya. Mantab!
Pada akhirnya, cerita-cerita di atas adalah bukti sahih mengapa bagi perusahaan dan industri, sistem perkuliahan seperti di Universitas Terbuka-lah yang dicari. Sistem yang efisien, yang tidak menghambat roda operasional perusahaan, tapi kualitas SDM-nya di dalamnya bisa pelan-pelan terangkat.
Bahasa kerennya, Win win solution.
Kalau perusahaan saja melihat UT sebagai jalan masuk akal untuk membuat SDM-nya naik kelas tanpa mengorbankan produktivitas, rasanya kamu juga boleh mulai mempertimbangkannya untuk masa depanmu sendiri. Universitas Terbuka sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru-cek informasi dan mulai langkahmu melalui https://admisi-sia.ut.ac.id/.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA UT, Kampus Terbaik Tempat Mahasiswa Tangguh yang Diam-diam Berjuang dan Bertahan Demi Masa Depan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2026 oleh