
KETUA Umum Bang Japar sekaligus Anggota DPD RI Dapil DKI JakartaFahira Idris, menegaskan bahwa transformasi Jakarta menuju kota global tidak boleh meninggalkan akar budaya dan nilai sosial. Menurutnya, kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari kemegahan infrastruktur dan kecanggihan teknologi, tetapi juga dari kekuatan identitas budaya serta solidaritas antarwarganya.
Pernyataan tersebut disampaikan Fahira Idris dalam acara Festival Budaya dan Seni Betawi yang dirangkaikan dengan Lebaran Anak Yatim. Kegiatan yang diinisiasi oleh Bang Japar Komando Kecamatan Kalideres ini berlangsung pada Sabtu-Minggu, 4–5 Juli 2026, bertempat di Tembok Bolong, Kelurahan Semanan, Kalideres, Jakarta Barat.
“Jakarta sedang melangkah menuju usia lima abad dan terus bergerak menjadi kota global. Namun, kemajuan itu harus tetap berjalan bersama kekuatan budaya, semangat gotong royong, dan kepedulian sosial. Jakarta boleh terus berkembang, tetapi akar budaya dan rasa kemanusiaannya harus tetap kuat,” ujar Fahira Idris di Jakarta, Minggu (5/7).
Integrasi Budaya, Ekonomi, dan Sosial
Senator Jakarta ini memberikan apresiasi tinggi kepada keluarga besar Bang Japar Kalideres. Ia menilai festival ini sukses mengintegrasikan berbagai aspek positif, mulai dari pelestarian seni Betawi, penguatan silaturahmi, pemberdayaan UMKM, hingga aksi kemanusiaan bagi anak yatim.
Festival tersebut dimeriahkan dengan berbagai agenda, seperti lomba mewarnai anak, pentas seni budaya Betawi, penampilan Sueb Yang Terlahir Kembalipertunjukan lenong, hingga bazar kuliner khas Betawi. Fahira menekankan bahwa panggung budaya di tingkat akar rumput seperti ini sangat strategis untuk menjaga kohesi sosial di tengah kehidupan kota yang semakin individualis.
“Budaya Betawi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas dan kekuatan Jakarta. Seni, musik, lenong, hingga kuliner harus terus diberi ruang agar tetap hidup dan menarik bagi generasi muda,” tambahnya.
Pemberdayaan UMKM dan Kepedulian Sesama
Selain aspek budaya, Fahira menyoroti pentingnya keterlibatan UMKM lokal dalam setiap festival. Menurutnya, perputaran ekonomi di tingkat lingkungan sekitar menjadi bukti bahwa kegiatan budaya mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan warga.
Namun, bagi Fahira, momen yang paling menyentuh adalah pelaksanaan Lebaran Anak Yatim. Ia mengingatkan bahwa pembangunan kota yang inklusif harus memiliki keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan perhatian khusus.
“Anak-anak yatim adalah tanggung jawab kita bersama. Sebuah kota akan semakin kuat ketika warganya memiliki kasih sayang dan kepedulian kepada sesama. Ini sejalan dengan semangat Bang Japar: Berbuat dan Bermanfaat untuk Sesama,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Fahira Idris mengajak seluruh jajaran Bang Japar untuk terus konsisten menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, baik di bidang sosial, ekonomi, maupun keamanan lingkungan. Ia berharap ruang kebersamaan di kampung-kampung Jakarta terus tumbuh guna memperkuat rasa memiliki terhadap kota ini. (I-1)