Kalau Anda mendengar nama Kota Cimahi, hal pertama yang bakal menyergap isi kepala adalah deretan pria latihan baris-berbaris, baju loreng hijau, dan potongan rambut cepak yang presisi. Julukan “Kota Hijau” atau “Kota Tentara” itu bukan sekadar citra kosmetik di brosur pariwisata.
Di kota sekecil ini, belasan pusat pendidikan TNI, markas komando, sampai asrama tentara bertebaran dengan rapat. Ada anekdot lokal yang bilang, kalau Anda melempar batu secara acak di Kota Cimahi, kemungkinan batunya kalau tidak kena atap barak, ya pasti mendarat di kepala serdadu.
Namun, hukum tak tertulis tentang kota Cimahi ini mendadak pupus dan menguap tanpa sisa begitu Anda melipir ke arah Cimahi bagian selatan. Begitu melewati batas wilayah Kecamatan Cimahi Selatan, atmosfer disiplin yang kaku itu langsung lenyap.
Kecamatan Cimahi Selatan adalah sebuah anomali. Sepetak wilayah yang memilih membangkang dari identitas hijau loreng khas TNI. Lalu menjelma menjadi kawasan yang steril dari bau-bau mesiu dan persenjataan perang.
Ketimpangan wilayah hijau di Kota Tentara
Cimahi itu Kota di Jawa Barat yang minimalis dan mungil seluas 40,47 km persegi. Saking mungilnya kota di Jawa Barat ini, secara administratif Cimahi hanya punya tiga kecamatan. Yaitu Cimahi Utara, Cimahi Tengah, dan Cimahi Selatan. Tapi urusan bagi-bagi fasilitas negara, porsinya jomplang bukan main.
Cimahi Tengah memborong semua fasilitas elite dan megah. Mulai dari Pusdikif, Pusdikarmed, Pusdik Bekang, Pusdikpom, Brigif 15 Kujang, sampai Rumah Sakit Dustira yang bersejarah itu. Pemandangan di sana begitu rapi, tertib, dan dijaga oleh benteng-benteng kokoh.
Lantas, Cimahi Selatan dapat apa? Mereka kebagian ampasnya alias nihil urusan militer. Begitu roda motor Anda melewati batas wilayah dan masuk ke selatan, lanskap berganti total 180 derajat. Alih-alih disambut gapura hijau khas dengan ornamen patung tentara memegang senapan, Anda akan langsung ditampar oleh pemandangan khas wilayah sipil pinggiran yang padat, berdebu, dan bising. Selamat datang di dapur industri garmen dan tekstil Jawa Barat.
Kecamatan Cimahi Selatan adalah dapur industri, kepulan polusi dan deru mesin pabrik
Sejak zaman Orde Baru sekitar tahun 1970-an hingga 1980-an, kawasan Cimahi Selatan yang dulunya masih ikut Kabupaten Bandung ini memang didesain untuk menjadi mesin penggerak ekonomi non-militer. Maka jangan heran kalau di sini Anda tidak akan menemukan lapangan tembak atau mes perwira yang rindang.
Di Kecamatan Cimahi Selatan, khususnya daerah Cibaligo, Melong, dan Leuwigajah, pemandangan sehari-hari didominasi oleh kepulan asap dari cerobong pabrik raksasa dan deretan truk kontainer yang gemar bikin macet jalanan sempit.
Denyut nadi di wilayah ini tidak diatur oleh suara terompet apel pagi. Melainkan oleh alunan bising mesin tenun dan klakson kendaraan logistik. Di sinilah tempat di mana ribuan pasang kaki buruh pabrik bergegas mengejar absen shift pagi. Kontras ini makin terasa perih kalau kita bicara realitas.
Sementara wilayah tengah dan utara sibuk merawat estetika kota tentara yang bersih dan berwibawa, wilayah selatan harus ikhlas mencium bau limbah industri, menembus kabut polusi udara, dan bertarung dengan macetnya jalanan setiap kali jam keluar pabrik tiba.
Pembagian kasta, yang selatan ke atas jaga kedaulatan, yang selatan ke bawah jaga Isi perut warganya
Simbiosis di Kota Cimahi ini pada akhirnya melahirkan pembagian kasta yang unik sekaligus ironis. Ketika wilayah tengah sibuk mencetak prajurit tangguh untuk menjaga kedaulatan negara, wilayah selatan dipaksa mandiri untuk memutar roda ekonomi, menyediakan lapangan kerja, dan memastikan urusan isi perut warga tetap aman terkendali dengan upah minimum regional.
Kecamatan Cimahi Selatan adalah bukti nyata, bahwa sekokoh-kokohnya sebuah kota benteng pertahanan militer, harus selalu ada satu sudut luas yang dibiarkan tetap “sipil”. Tempat di mana keringat kaum buruh, asap cerobong pabrik, dan geliat ekonomi bawah berputar demi menopang hajat hidup orang banyak.
Jadi, kalau kebetulan Anda main atau berniat menetap di Cimahi, jangan kaget saat berkunjung ke wilayah selatan. Agak membingungkan memang, katanya Kota Tentara, tapi begitu kaki melangkah ke selatan, Anda justru lebih akrab dengan aroma kain garmen, masker penutup debu, dan deru mesin pabrik yang tidak ada gagah-gagahnya sama sekali.
Penulis: Acep Saepulloh
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Cimahi Terbuat dari Kesalahpahaman yang Perlu Diluruskan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2026 oleh