Malang yang sekarang mungkin memang tidak sedingin dulu. Tapi dibanding Surabaya, panasnya Ngalam jadi terasa lucu
Beberapa waktu lalu, sebuah tulisan di Terminal Mojok sukses membuat saya mengelus dada. Penulisnya dengan sangat melankolis meratapi nasib Malang Raya yang katanya sekarang sudah kehilangan jati diri berubah jadi kota yang panas, sumuk, dan penuh polusi.
Jujur ya, membaca tulisan itu seperti melihat cermin masa lalu saya sendiri. Dulu, waktu masih tinggal di Malang, saya adalah tipe orang yang hobi banget mengeluhkan hal yang sama, “Aduh, Malang sekarang kok nggak kayak dulu ya? Malang kok makin panas ya?”
Namun, roda nasib itu berputar dengan kejam, kawan. Setelah lulus dan harus merantau demi sesuap nasi, takdir menuntun saya menyeberang ke arah utara lalu menetap di Surabaya. Dan di sinilah momen spiritual itu terjadi. Hanya butuh waktu beberapa bulan tinggal di Surabaya untuk membuat saya tobat. Serta, menyesali semua keluhan masa lalu saya tentang Malang.
Di Sini, Mbak Dhivia yang sedang bersedih, geser dikit ke Surabaya, yuk. Rasakan bagaimana rasanya napas megap-megap begitu keluar dari kamar kos. Setelah itu, Anda pasti akan langsung pulang ke Malang, sujud syukur di depan stasiun Kotabaru, dan meminta maaf kepada semesta karena sudah terlanjur kufur nikmat.
Demi apa pun, sepanas-panasnya Malang dan Batu hari ini, kota itu masih tergolong takdir yang adem ayem jika dibandingkan dengan Surabaya. Mengeluhkan Malang itu panas adalah sebuah kemewahan yang bikin kaum komuter Surabaya cuma bisa tersenyum kecut. Sebab dibanding Kota Surabaya, suhu Malang saat ini bisa dikatakan anget doang.
Mari kita bedah secara objektif. Kenapa warga Malang sebenarnya sedang berada di fase first world problem alias hobi mencari-cari alasan untuk mengeluh.
Pertama, soal hak asasi melihat pemandangan di Malang
Di Malang, sepadat dan semacet apa pun jalannya, Anda setidaknya masih bisa melihat siluet Gunung Arjuno, Welirang, atau Panderman meski kadang ketutup separo oleh kabut. Anak kos di Malang, bahkan yang bayar kosan murah sekalipun, asal kosannya ada akses ke rooftop, mereka masih bisa healing gratis melihat yang hijau-hijau sambil melamun sore hari.
Lah, kalau di Surabaya? Boro-boro mau lihat gunung. Bisa melihat langit cerah yang biru bersih tanpa ketutup polusi udara dan kepulan asap industri saja itu sudah sebuah keberuntungan tingkat dewa yang patut dirayakan dengan tumpengan. Pemandangan dari rooftop kosan murah di Surabaya itu kalau nggak jemuran tetangga yang belum kering, ya genteng seng milik pabrik yang memantulkan panas matahari langsung ke muka Anda. Estetik dari mana?
Kedua, ritual suci bernama “ngopi”
Kultur ngopi di Malang itu nikmatnya berlipat ganda karena disubsidi langsung oleh alam. Anda bisa duduk di cafe rooftop daerah Dau, Sudimoro, atau jalanan kota, memesan kopi susu seharga belasan ribu, dan langsung disuguhi view gunung serta angin sepoi-sepoi yang bikin mager.
Coba bandingkan dengan Surabaya. Di Surabaya, kalau Anda mau ngopi sambil menikmati pemandangan pohon rindang dan rumput hijau, harga kopinya langsung naik drastis, Bro!
Anda harus bayar mahal untuk membeli kemewahan ruang hijau di kafe-kafe estetik daerah barat atau timur. Di Malang hijau itu gratis, di Surabaya hijau itu ada tarifnya.
Ketiga, perihal harga diri air
Sesumuk-sumuknya kota Malang di siang bolong, air di sana itu tetap punya harga diri. Begitu Anda masuk kamar mandi dan memutar keran, air yang keluar tetap dingin, segar, murni terasa dari pegunungan. Mandi sore di Malang itu masih bisa bikin badan menggigil segar.
Sementara di Surabaya, jangankan siang hari, mandi jam 12 malam pun airnya kadang masih hangat kuku seperti air rebusan mi instan karena tandonnya seharian dijemur di atas atap tanpa ampun. Mandi di Surabaya itu bukan bikin segar, tapi bikin Anda merasa seperti sedang di dalam panci presto. Anget, ala sauna gratis versi tiap hari.
Terakhir, soal jalanan dan kemacetan Malang dan Surabaya
Di mana-mana, yang namanya macet itu memang bikin kesal dan memicu darah tinggi. Tapi, mari kita lihat vibes-nya. Di Malang, kemacetan itu setidaknya masih dinaungi oleh pohon-pohon peneduh yang rindang di sepanjang jalan. Kalau Anda lagi pengen vibing naik motor pelan-pelan sambil menikmati suasana kota yang asri, Anda nggak akan tiba-tiba dihujat massa lewat suara klakson, asal ya nggak jalan di lajur tengah juga.
Coba terapkan kelakuan menikmati suasana jalanan itu di Ahmad Yani atau Margorejo Surabaya. Anda jalan dengan kecepatan 40 km/jam di lajur tengah, dalam hitungan detik Anda akan langsung dihujani konser klakson dari pengendara di belakang yang bunyinya sudah kayak genderang perang.
Kehidupan di Surabaya itu serba cepat, agresif, dan penuh tekanan. Jarak antara klakson dan baku hantam itu setipis tisu dibagi dua.
Jadi, untuk warga Malang, dari saya, seorang mantan pengeluh yang sekarang sudah bertobat di tanah rantau, kurang-kurangilah meratapi kota kalian seolah-olah sudah berubah jadi Gurun Sahara. Malang yang sekarang mungkin memang tidak sedingin dekade 90-an karena konsekuensi logis dari sebuah kota yang berkembang.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Seandainya Stasiun Cikarang Nggak Pernah Ada, Ini yang Akan Terjadi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh