1. News
  2. Mojok
  3. Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis

Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis

cerita-beli-kendaraan-pertama,-menabung-mati-matian-demi-honda-vario-techno-125-bekas.-dulu-prihatin-kini-jadi-kenangan-manis
Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis

Pengalaman beli kendaraan sendiri, Honda Vario Techno 125 bekas, tidak akan pernah terlupakan.

Tahun 2008 Secara resmi menandai titik balik dunia transportasi umum di Jogja. Kemunculan TransJogja pada waktu itu sedikit demi sedikit mulai menggeser keberadaan bus konvensional, seperti Kopata, Damri, Aspada, dan Kobutri yang pernah merajai jalanan Jogja. Tapi saya merasakan perubahan yang paling signifikan pada rentang tahun 2016-2018, ketika saya berada di SMA dan menuju kuliah.

Sejak SMP, sekitar tahun 2012-2015, saya terbiasa naik bus kota konvensional. Namun, dengan kondisi bus kota mulai menghilang sementara trayek TransJogja belum menjangkau seluruh wilayah Jogja membuat saya kesulitan untuk ke mana-mana. Padahal rumah saya masih berada di dalam Kota Jogja, tapi jalur TransJogja pada waktu itu nggak melintasi jalan manapun yang dekat dengan rumah saya.

Akhirnya, kendaraan pribadi menjadi kebutuhan baru saya, bukan lagi sekadar keinginan apalagi gaya hidup. Agar nggak merepotkan keluarga untuk mengantar-jemput, saya akhirnya membeli motor.

Motor yang saya beli bukan motor baru. Dan, saya berpikir bahwa motor bekas lebih nilai uang dibandingkan motor baru. Selain itu, budget saya, yang pada waktu itu belum bekerja dan menabung murni dari uang jajan hanya cukup untuk beli motor bekas saja.

Pilihan motor bekas yang sesuai dengan budget saya sebenarnya cukup banyak. Saya pun memilih motor dengan spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Sisa budget akhirnya saya pakai untuk bayar pajak, servis awal, dan beli perlengkapan berkendara, seperti helm dan jas hujan yang bagus.

Pilihan jatuh pada Honda Vario Techno 125

Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Honda Vario Techno 125 Helm-in. Alasannya sih ekonomis dan lumayan simple. Saya mau motor yang hemat bahan bakar dan bagasinya luas. Walaupun saya bukan anak otomotif, saya sempat mencari tahu beberapa opsi motor yang sesuai dengan spesifikasi yang saya cari dan cocok dengan budget yang saya punya.

Honda Vario yang satu ini memang sudah injeksi sehingga lebih irit dibanding generasi karburator. Bagasinya beneran gede banget yang nggak hanya muat jas hujan dan sandal jepit, tapi juga kotak bekal makan siang, botol minum, dan buku-buku pinjaman dari perpustakaan. Bahkan nasi kotak dari tempat magang pun muat di bagasi.

Jadi bisa dibilang bagasi dengan budget sebenarnya cukup cukup banyak. Tapi, selain memang harganya lebih murah dibandingkan motor baru, motor bekas punya lebih banyak sisi positif yang sangat saya pertimbangkan.

Saya dengar bahwa motor baru umumnya turun harga paling besar pada tahun-tahun awal, sehingga bisa dibilang penurunan harga terbesarnya sudah dialami pemilik sebelumnya. Motor bekas harganya sudah “stabil” karena saya sebagai pemilik selanjutnya nggak rugi-rugi amat jika saya mau menjualnya lagi.

Selain itu, daripada beli motor baru dengan spesifikasi mepet tapi makan budget besar, menu besar itu malah lebih bermanfaat untuk saya isi dengan benda-benda yang khas dengan kehidupan perkuliahan saya dibandingkan helm semata.

Motor, tiket menuju kemandirian

Dulu, hidup di Jogja tanpa motor itu nggak menyiksa. Ketika saya masih SMP, bus kota tiap beberapa menit sekali berseliweran mencari penumpang. Apalagi rumah saya itu termasuk daerah yang ramai dilintasi bus kota. Begitu turun dari bus, saya juga terbiasa jalan kaki dari jalan utama menuju rumah bersama penumpang yang lain.

Akan tetapi, semenjak bus kota menghilang, nggak ada jalur TransJogja di sekitar rumah saya, dan berjalan kaki nggak senyaman dulu. Saya pun mulai menabung untuk membeli motor untuk saya gunakan harian. Saya nggak mau merepotkan orang lain untuk mengantar saya ke mana-mana, apalagi untuk berangkat kuliah setiap hari.

Dan, benar saja, sekarang muncul pemikiran bahwa mahasiswa di Jogja akan kesulitan tanpa motor. Mengandalkan teman takut dikira benalu, naik ojol tiap hari bikin boros, dan belum bisa 100 persen bergantung pada transportasi umum.

Setelah punya Honda Vario Techno 125 saya bisa pergi ke mana-mana tanpa banyak pertimbangan. Misalnya, saat kuliah, ternyata jurusan saya punya banyak program praktik lapangan yang mengharuskan kami, para mahasiswa, untuk mengikuti perkuliahan di luar kelas. Dan, praktik lapangan ini nggak pernah dekat dari kampus. Kami pernah ke Sleman paling utara dan Bantul paling selatan.

Bahkan, pekerjaan yang saya dapatkan setelah lulus pun membuat saya makin bersyukur dengan keputusan beli motor bekas. Soalnya saya pernah dikirim untuk meneliti di Kapanewon Srandakan dan Kretek, Kabupaten Bantul, yang mana sudah pol daratan. Tanpa motor, bagaimana caranya saya berangkat dari Jogja Kota ke sana sekaligus berpindah dari satu dusun ke dusun yang lain?

Fase menabung yang bikin prihatin

Diingat-ingat lagi, fase menabung sebelum beli Honda Vario Techno125 itu memang lumayan bikin prihatin. Selama bertahun-tahun saya menahan diri untuk nggak jajan impulsif. Padahal banyak banget buku yang pengin saya beli, makanan yang pengin saya coba, hingga tempat yang pengin saya kunjungi pada waktu itu.

Akan tetapi, sekarang saya bangga sama kesabaran saya saat menabung. Investasi yang saya lakukan sudah dapat imbal hasilnya. Apalagi momen ketika saya memegang STNK yang sudah pakai nama saya sendiri setelah dibalik nama. Rasanya pertama kali punya “aset” atas nama sendiri tuh, wah banget. Nggak seberapa, tapi saya bahagia.

Sampai sekarang saya masih sulit menyebut motor saya sebagai kendaraan biasa. Buat saya, motor itu jadi saksi masa-masa saya belajar mandiri.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Mengandalkan Honda Win 100 di Tanah Air adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Masalah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Cerita beli kendaraan pertama, menabung mati-matian demi Honda Vario Techno 125 bekas. Dulu prihatin kini jadi kenangan manis
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us