1. News
  2. Berita
  3. Sundaland, Pasundan, dan Tatar Sunda

Sundaland, Pasundan, dan Tatar Sunda

sundaland,-pasundan,-dan-tatar-sunda
Sundaland, Pasundan, dan Tatar Sunda

Pegunungan yang sejuk di Jawa Barat | Kerildoank Wikimedia


Tiga nama itu sering dianggap sama. Padahal ketiganya lahir dari zaman, tujuan, dan cara pandang yang berbeda sama sekali.

Saya baru paham ini setelah menelusuri asal katanya satu per satu. Ternyata orang sering tertukar karena ketiganya kedengaran mirip: sama-sama menyebut “Sunda”. Tapi kalau ditelusuri, yang satu istilah geologi, yang satu istilah geobudaya dengan jejak politik, dan yang satu lagi istilah budaya murni. Ketiganya sama-sama berakar dari kata “Sunda”, hanya dibentuk dalam bahasa dan untuk tujuan yang berbeda.

Sundaland, nama dari dasar laut

Sundaland bukan nama yang dibuat orang Sunda. Nama ini diciptakan tahun 1919 oleh Gustaaf Adolf Frederik Molengraaff, ahli geologi asal Belanda. Ia meneliti dasar laut di Asia Tenggara dan menemukan sesuatu yang aneh: kedalaman lautnya hampir rata di banyak tempat. Ia menyimpulkan, dulu ini bukan laut. Ini daratan yang tenggelam.

Molengraaff menyebutnya Soendaland, gabungan kata “Sunda” dengan “land” dari bahasa Belanda yang berarti tanah. Kata “Sunda” itu sendiri sudah dipakai jauh sebelum Molengraaff lahir. Ahli geografi Claudius Ptolemaeus sudah menyebut kepulauan bernama Sunda di timur India dalam catatannya sekitar tahun 150 M. Ketika Portugis tiba di Nusantara sekitar 1500 M dan mendarat di wilayah Kerajaan Sunda di ujung barat Jawa, mereka lalu menyimpulkan seluruh kepulauan yang mereka datangi adalah Sunda: pulau-pulau besar di barat disebut Soenda Mayor (Sunda Besar), pulau-pulau kecil di timur disebut Soenda Minor (Sunda Kecil). Istilah ini masih dipakai dalam literatur geologi-geografi sampai sekarang. Jadi ketika Molengraaff memilih nama “Soendaland” pada 1919, ia mengambil kata yang sudah beredar hampir empat abad, bukan istilah yang ia ciptakan sendiri.

Daratan yang dimaksud Molengraaff menyatukan Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, dan Kalimantan menjadi satu hamparan luas, sekitar 1,8 juta kilometer persegi, hampir sama besar dengan luas Indonesia sekarang. Ini terjadi berulang kali selama zaman es, terutama pada periode 110.000 hingga 12.000 tahun lalu, saat permukaan laut turun 30 sampai 40 meter. Begitu es mencair dan laut naik lagi, daratan itu tenggelam, dan yang tersisa adalah pulau-pulau yang kita kenal sekarang.

CRekonstruksi garis pantai Sundaland pada puncak zaman es, ketika Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaka masih menyatu sebagai satu daratan. (Sumber: Coastlines of the Ice Age)  

info gambar

CRekonstruksi garis pantai Sundaland pada puncak zaman es, ketika Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Semenanjung Malaka masih menyatu sebagai satu daratan. (Sumber: Coastlines of the Ice Age)  


Peta ini menggambarkan Sundaland pada puncak zaman es, saat permukaan laut turun jauh lebih rendah dari sekarang. Yang tampak bukan lagi Sumatra, Jawa, dan Kalimantan sebagai tiga pulau terpisah, melainkan satu daratan raksasa yang menyatu, dengan Semenanjung Malaka menempel langsung ke bagian utaranya. Laut Jawa yang sekarang memisahkan Jawa dan Kalimantan, di peta ini hanya tampak sebagai cekungan kecil di tengah daratan, jauh dari bentuknya yang sekarang.

Bentuk ini bukan bentuk tetap. Sundaland berubah-ubah ukurannya sepanjang 2 juta tahun terakhir, mengikuti naik-turunnya muka laut akibat siklus zaman es. Peta ini menunjukkan salah satu momen ketika daratannya paling luas, bukan potret satu waktu yang permanen.

Nama itu dipakai lagi tahun 1949 oleh geolog lain, Reinout van Bemmelen, dalam bukunya tentang geografi Indonesia. Menurut Bemmelen, kata “Sunda” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, “Cuddha”, yang berarti putih. Ceritanya, di utara Bandung dulu berdiri gunung raksasa yang disebut Gunung Sunda Purba. Gunung ini meletus hebat dan menutupi kawasan sekitarnya dengan abu putih. Daerah itu lalu disebut Negeri Putih, dan penduduknya disebut Orang Sunda.

Jadi kalau ditanya, Sundaland itu istilah geologi. Nama itu sudah beredar berabad-abad, dipakai ulang untuk konteks ilmu bumi, dan tidak berhubungan langsung dengan suku, bahasa, atau politik. Ia menjelaskan sejarah bumi, bukan sejarah manusia.

Pasundan, nama untuk tanah dan cara hidup

Berbeda dengan Sundaland, Pasundan lahir dari bahasa Sunda atau Indonesia sendiri. Kata ini dibentuk dari kata dasar “Sunda” dengan imbuhan “pa-” dan “-an”, pola umum untuk membentuk nama wilayah.

Tapi Pasundan bukan sekadar nama tempat. Ia adalah istilah geobudaya, yang merujuk pada wilayah bagian barat Pulau Jawa sebagai pusat kebudayaan suku Sunda, sekaligus mencakup nilai dan filosofi hidup masyarakatnya. Secara wilayah, Pasundan umumnya mencakup Jawa Barat, Banten, dan kawasan kebudayaan di sekitarnya. Secara filosofis, ia dimaknai sebagai kumpulan pandangan hidup masyarakat Sunda yang menjunjung kesopanan, keramahan, dan kelestarian alam. Nama ini juga lekat dengan akar sejarah Kerajaan Sunda dan kepercayaan Sunda Wiwitan, meski beberapa sumber membedakannya dari “Padjadjaran”, yang lebih merujuk pada simbol takhta kerajaan itu sendiri.

 Upacara seren taun kasepuhan Malasari, Bogor, Sumber poto : Ade Zaenal Mutaqin  CC BY-SA 4.0

info gambar

 Upacara seren taun kasepuhan Malasari, Bogor, Sumber poto : Ade Zaenal Mutaqin  CC BY-SA 4.0


Nama Pasundan juga masih hidup dalam berbagai lembaga masyarakat Sunda hari ini, misalnya Yayasan Perguruan Tinggi Pasundan yang menaungi Universitas Pasundan di Bandung.

Dari makna geobudaya yang luas inilah, nama Pasundan pernah dipakai untuk sesuatu yang jauh lebih sempit dan berumur pendek: Negara Pasundan, negara bagian federal bentukan Belanda yang berdiri pada era Republik Indonesia Serikat. Negara ini dibubarkan dan bergabung ke Republik Indonesia setelah menimbulkan kecurigaan sebagai bagian dari usaha Belanda memecah Republik yang baru berdiri lewat sistem federal.

Karena sejarah itu, sebagian orang mengasosiasikan nama Pasundan dengan memori tentang negara federal yang berumur pendek dan dianggap bagian dari upaya Belanda memecah Republik. Padahal itu hanya satu babak kecil dari makna Pasundan yang jauh lebih tua dan lebih luas, sebagai nama untuk tanah, budaya, dan cara hidup orang Sunda.

Ini yang membuat Pasundan berbeda dari Sundaland. Yang satu istilah asing untuk fenomena geologi purba, meski memakai kata “Sunda” yang sudah lama beredar. Yang satu lagi istilah asli berbahasa Sunda/Indonesia yang mengandung wilayah, filosofi hidup, dan sejarah politik sekaligus.

Tatar Sunda

Lalu di mana beda Pasundan dengan Tatar Sunda, kalau keduanya sama-sama menyebut ruang budaya Sunda? Bedanya ada pada bobot maknanya. Tatar Sunda lebih sederhana, sebatas penunjuk wilayah budaya, tempat bahasa dan adat Sunda hidup. Pasundan membawa muatan lebih penuh: bukan cuma wilayah, tapi juga nilai hidup, sejarah kerajaan, dan pernah pula sejarah politik modern lewat Negara Pasundan. Keduanya tumpang tindih di wilayah, tapi Pasundan memuat lapisan makna yang lebih tebal.

Adapun Tatar Sunda, istilah ini yang paling sering dipakai orang Sunda sendiri untuk menyebut kampung halamannya, dalam arti budaya. “Tatar” berarti wilayah atau daerah, jadi Tatar Sunda secara harfiah berarti “wilayah Sunda”. Tatar Sunda menunjuk pada kawasan budaya, tempat bahasa, adat, dan tradisi Sunda hidup dan berkembang, tanpa membawa muatan filosofis atau sejarah politik seperti Pasundan.

Secara kasar, kawasan yang dianggap sebagai Tatar Sunda hari ini meliputi sebagian besar Jawa Barat, dari Bandung, Bogor, Sukabumi, Priangan, hingga sebagian Banten. Yang biasanya dikeluarkan dari kawasan ini adalah wilayah pesisir utara timur seperti Cirebon dan Indramayu, tempat budaya Jawa punya kehadiran yang kuat, terlihat dari bahasa Cirebon yang menyerap banyak unsur Jawa, dan sejarah wilayah ini yang pernah menjadi bagian dari lingkup kekuasaan Kesultanan Mataram.

Bekasi di ujung utara juga sering dikeluarkan, karena kedekatannya dengan Jakarta membuat budaya Betawi lebih dominan, ditambah sejarah migrasi penduduk Jawa Tengah ke wilayah ini pada masa lalu. Ini gambaran umum, bukan garis batas resmi, karena identitas budaya jarang punya batas yang setegas batas administratif.

Nama lama, wacana baru

Kata “Tatar Sunda” ini pula yang belakangan muncul lagi dalam wacana publik, setelah ada usulan mengganti nama Provinsi Jawa Barat. Usulan ini bermula dari surat sebuah komunitas pengkaji kepada DPRD Jawa Barat pada awal 2025, yang kemudian ditindaklanjuti lewat beberapa audiensi. DPRD menyetujui adanya kajian atas usulan itu, tapi Gubernur Jawa Barat dan pimpinan DPRD sendiri menegaskan belum ada usulan resmi untuk benar-benar mengubah nama provinsi. Yang berjalan sejauh ini masih sebatas pengkajian, bukan keputusan.

Terlepas dari bagaimana wacana ini akan berakhir, satu hal yang menarik untuk direnungkan: nama “Tatar Sunda” yang diusulkan itu sebenarnya sudah dipakai orang Sunda sendiri sejak lama, jauh sebelum ada provinsi bernama Jawa Barat. Bedanya, dulu nama itu dipakai untuk menyebut ruang budaya, sekarang diusulkan untuk menyebut ruang administratif.  

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Sundaland, Pasundan, dan Tatar Sunda
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us