
Stasiun Cimahi | Jauhsekali/WikimediaCommons
Stasiun Cimahi (CMI) adalah stasiun kelas I yang terletak di kawasan Baros, Kota Cimahi. Stasiun ini dioperasikan pada 17 Mei 1884 oleh perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial, Staatsspoorwegen (SS).
Berada di ketinggian +723 meter di atas permukaan laut, peresmian Stasiun Cimahi dilakukan bersamaan dengan pembukaan jalur kereta api yang menghubungkan wilayah Padalarang dan Bandung. Stasiun ini berada di bawah Daerah Operasi (Daop) II Bandung.
Bangunan ini merupakan bagian penting dari proyek besar “Kalung Besi” yang membentang dari Bogor hingga Cicalengka sepanjang 181 kilometer. Jalur ini sangat vital karena menghubungkan Bumi Priangan dengan pelabuhan utama di Batavia.
Uniknya, dulunya Stasiun Cimahi pernah menjadi pusat militer terpadu. Pemerintah Belanda sengaja memilih lokasi ini karena hawanya yang sejuk dan lingkungan yang sehat bagi para tentara KNIL.
Dukung Ambisi Jadikan Cimahi Kota Militer
Sebagai penopang kawasan militer eksklusif, Stasiun Cimahi mendapatkan perhatian lebih dalam penyediaan fasilitas publik yang modern. Salah satu fasilitas yang dibuka di stasiun ini adalah toilet tertutup.
Stasiun Cimahi menjadi stasiun kereta api pertama di zaman Hindia Belanda yang memiliki fasilitas toilet tertutup. Konon, bangunan tersebut dibuka pada 16 Maret 1905.
Dahulu, Cimahi memang ingin dikembangkan sebagai pusat pendidikan, pelatihan, dan tangsi militer untuk mendukung pusat militer di Bandung. Belanda turut membangun berbagai fasilitas pendukung, seperti perumahan militer, rumah sakit militer, lapangan tembak, gereja, bioskop, dan lain sebagainya untuk memfasilitasi para tentara dan keluarganya.
Selain itu, Stasiun Cimahi juga memiliki ciri khas unik berupa menara pengisian air untuk lokomotif uap yang jarang dimiliki stasiun lain di jalur Bandung-Cianjur. Meskipun beberapa bagian talang airnya sudah tidak utuh, bangunan ini menjadi saksi bisu kejayaan kereta api di Hindia Belanda.
Arsitektur Unik yang Ramah untuk Negara Tropis
Stasiun Cimahi menampilkan tampak selayaknya bangunan stasiun yang dibangun SS lainnya, yakni karakter vernakular tropis Hindia Belanda. Bangunannya didominasi oleh jendela klasik yang dilengkapi dengan jalusi besi berbentuk ornamen geometris setengah lingkaran pada bagian ventilasi.
Jalusi ini berfungsi sebagai pengatur sirkulasi udara alami. Hal ini membuat suasana di dalam ruangan tetap terasa sejuk tanpa bantuan pendingin.
Dinding ruang tunggu dilapisi oleh material keramik asli dengan motif tumbuhan dan sulur yang memberikan kesan elegan serta mewah.
Lantai tegel asli bermotif bunga di beberapa ruangan yang masih dipertahankan hingga saat ini. Tak hanya itu, kusen dan daun pintu yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi pun masih terjaga dengan sangat baik
Bangunan Cagar Budaya
Pada 10 Mei 2022, Pemerintah Kota Cimahi secara resmi menetapkan Stasiun Cimahi sebagai Bangunan Cagar Budaya tingkat Kota. Penetapan ini sesuai dengan SK Nomor
430/Kep.1692-Disbudparpora/2022.
Pemerintah Kota Cimahi juga melakukukan modernisasi fasilitas, seperti penataan ulang alur penumpang demi kenyamanan bersama.
Kini, Stasiun Cimahi sudah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti jembatan penyeberangan Sky Bridge yang menghubungkan berbagai peron. Ada pula layanan kereta feeder yang menjadi penghubung utama menuju Kereta Cepat Jakarta-Bandung.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.
Tim Editor