1. News
  2. Berita
  3. Belajar Adil

Belajar Adil

belajar-adil
Belajar Adil

Euforia pesta bola dunia menyisakan banyak perbincangan hingga hari ini. Tidak hanya soal gol dan permainan cantik kaki-kaki lincah para pesepak bola, tetapi  juga soal sosok yang berdiri di tengah lapangan sepanjang 120 menit itu yang harus membuat keputusan di bawah tatapan ribuan mata.

Salah satunya, Slavko Vincic, wasit Slovenia yang penunjukannya sempat dikecam media Spanyol. Keputusannya menjatuhkan kartu-kartu berwarna kepada pemain Argentina, Enzo Fernandez dan Leandro Paredes, berkontribusi pada kekalahan tim ini yang harus meneruskan permainan dengan 10 orang. Ironisnya, tim yang sepanjang turnamen dituduh selalu “diistimewakan” wasit, justru mengakhiri perjalanannya karena keputusan wasit.

Kita mungkin tidak akan pernah tahu persis apa yang ada di kepala Vincic saat mengangkat kartu itu. Namun, ada satu hal yang pasti yaitu menjadi orang yang harus memutuskan di tengah tekanan jutaan pasang mata jelas pekerjaan yang tidak akan pernah mudah.

Riset neurosains menunjukkan otak kita memiliki respons otomatis terhadap perlakuan adil dan tidak adil, jauh sebelum kita sempat berpikir panjang. Ketika seseorang menerima bagian yang adil dari sebuah pembagian, area otak yang berkaitan dengan rasa senang akan menyala.

Namun, ketika mengalami ketidakadilan, yang menyala justru area yang sama dengan yang biasa bereaksi terhadap rasa jijik pada bau busuk. Penolakan terhadap ketidakadilan tidak sekadar mengecewakan, tetapi juga terasa menjijikkan.

Mungkin karena itu pula, Viktor Frankl dalam catatannya tentang masa-masa di kamp konsentrasi, menulis, perlakuan yang tidak adil terasa lebih menyakitkan dibandingkan rasa sakit fisik dari hukuman. Lapangan permainan tidak jarang berubah menjadi arena konflik akibat keputusan wasit yang dirasa tidak adil.

Ragam kerangka keadilan

Keadilan memiliki beberapa kerangka yang berbeda. Ada yang melihat keadilan sebagai perlakuan yang setara ketika semua pihak diberi bagian sama besar tanpa memandang kebutuhan maupun kontribusinya. Misalnya, pembagian bonus sama rata kepada semua karyawan. Bisa jadi ada yang merasa tidak adil bagi pihak yang merasa berkontribusi lebih.

Sementara itu, ada yang mengacu pada sistem imbalan harus sesuai dengan kontribusi, seperti sistem komisi sales. Meskipun demikian, sebenarnya ada saja kondisi yang membuat keadilan juga tidak 100 persen terjadi. Daerah yang masih minim kompetitor bisa membuat sales mencapai target dengan mudah.  

Ada juga yang menggunakan konsep social good, kompensasi bagi mereka yang kondisinya tidak diuntungkan, seperti kuota beasiswa untuk daerah tertinggal. Bagi mereka yang nilainya lebih tinggi tetapi berasal dari kota besar, bisa saja menganggapnya tidak adil ketika ia terlempar akibat sistem kuota tersebut.

Yang terakhir, konsep pemberian hukuman bagi mereka yang melanggar. Meskipun konsep ini terlihat sangat adil, penerapannya bisa penuh dengan bias. Dalam berbagai kajian di dunia peradilan di Amerika Serikat, ditemukan bahwa para hakim meyakini diri mereka sangat obyektif, 97 persen menilai diri di atas rata-rata dalam menghindari prasangka rasial. Namun, kepercayaan diri itu tidak berbanding lurus dengan hasil nyata.

Studi Carnegie Mellon Universitas Pittsburgh yang meneliti ratusan kasus pengadilan federal AS pada kasus pelecehan rasial di tempat kerja menemukan, hakim kulit hitam cenderung memberi keputusan yang memihak penggugat lebih dari dua kali lipat dibanding hakim kulit putih dan rata-rata keseluruhan. Ini berarti orang yang secara profesi dilatih untuk bersikap adil pun ternyata tidak kebal dari bias.

Lalu, sebagai pemimpin, baik dalam skala kecil maupun besar, memiliki tanggung jawab mengambil keputusan yang adil bagi orang-orang di sekitar kita, apa yang harus kita perhatikan?

Membangun rasa keadilan

David Price, CEO Peninsula Australia & New Zealand, merumuskan lima ciri keputusan yang kokoh, yakni tepat waktu, berlandaskan pemahaman yang benar bukan sekadar emosi sesaat, dikomunikasikan dengan jernih dan empati, terdokumentasi dengan baik, serta mendapat dukungan para ahli. Dokumentasi ini penting karena keputusan yang adil tetap bisa digugat sehingga keseluruhan proses harus terdokumentasi agar bisa dipertanggungjawabkan.

Pada riset yang dilakukan Harvard Business Review tentang proses keadilan, tampak bahwa orang tidak hanya peduli pada hasil akhir sebuah keputusan, tetapi juga bagaimana proses menuju keputusan tersebut diambil. Ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk membuat sebuah proses terasa adil.

Pertama, dari sisi keterlibatan. Individu akan merasa mendapatkan perlakuan yang adil ketika mereka diajak bicara dan didengarkan sebelum keputusan dijatuhkan. Kedua, penjelasan mengenai alasan di balik pengambilan keputusan yang ada sehingga ia memahaminya meskipun mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ketiga, kejelasan aturan main sehingga tidak ada yang merasa “ditikam dari belakang”.

Bila ketiga hal itu dipenuhi, pihak yang terlibat dalam sengketa biasanya cukup dapat menerima hasil yang ditetapkan, meskipun mengalami kekalahan karena ia merasakan telah menjalani proses yang cukup jelas. Sebaliknya, keputusan bagus pun bisa memicu kemarahan besar kalau prosesnya dirasa tidak terbuka dan adil.

Keadilan biasanya membutuhkan waktu dan banyak pertimbangan dengan proses yang panjang. Dengan kerangka keadilan yang bisa berbeda, perdebatan tentang keadilan, sekecil apa pun skalanya, hampir selalu terasa personal.

Keadilan karenanya bukan soal mencari rumus yang dapat memuaskan semua orang karena hasil seperti itu hampir mustahil. Barangkali yang bisa kita lakukan hanyalah memastikan untuk mendengar dan memahami terlebih dulu sisi pandang setiap pihak yang terlibat, menjelaskan dasar pengambilan keputusan diambil, serta mendokumentasikan keseluruhan proses sebagai bahan pertanggungjawaban. Terdengar sederhana, tetapi cukup sulit dijalankan.

Kita mungkin tidak akan pernah bisa membelah bayi untuk menguji siapa yang jujur seperti Nabi Sulaiman dan tidak akan pernah berdiri di tengah lapangan sambil ditonton jutaan orang. Namun, setiap kali kita berdiri di posisi untuk memutuskan siapa yang naik jabatan, siapa yang benar dalam sebuah perselisihan, pertanyaan yang perlu kita ajukan pada diri sendiri barangkali bukan, “apakah keputusan ini akan disukai?”, melainkan “apakah kita telah mendengar dari semua pihak yang terlibat dan melepaskan diri dari kepentingan pribadi?”

Sebab pada akhirnya, keadilan bukan soal siapa yang menang, melainkan soal apakah semua pihak percaya bahwa prosesnya setidaknya berjalan dengan jujur.

Baca juga: In This Economy…

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Belajar Adil
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us