Bola.com, Kudus – Ada alasan mengapa Srikandi Merdeka Cup Persembahan Caffino terasa lebih besar daripada sekadar sebuah turnamen sepak bola putri.
Digelar di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 14-23 Agustus 2026, turnamen yang diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation ini hadir di tengah geliat baru sepak bola putri Indonesia.
Di lapangan, delapan tim dari tujuh negara bertanding untuk menjadi yang terbaik. Di luar lapangan, ribuan masyarakat Kudus datang menyaksikan pertandingan secara langsung.
Sementara melalui siaran digital, ratusan ribu hingga lebih dari satu juta penonton mengikuti perjalanan Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara.
Namun, ada satu hal yang membuat turnamen ini memiliki arti lebih penting: Srikandi Merdeka Cup dirancang bukan hanya untuk mencari juara, melainkan menjadi bagian dari proses panjang membentuk pemain putri Indonesia.
Program Director Caffino Srikandi Merdeka Cup, Teddy Tjahjono, mengungkapkan gagasan turnamen internasional putri U-16 ini bahkan sudah muncul sejak Oktober 2025.
Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)
Berawal dari Keinginan Memberi Panggung untuk Pemain Muda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326255/original/083789600_1786970931-FOTO_4__33_-Indonesia_vs_Singapura.jpg)
Ide Srikandi Merdeka Cup bermula dari evaluasi terhadap program pembinaan sepak bola putri yang sudah berjalan melalui MilkLife Soccer Challenge dan HYDROPLUS Soccer League.
Bakti Olahraga Djarum Foundation sebelumnya telah membangun kompetisi berjenjang untuk pemain putri usia muda.
MilkLife Soccer Challenge hadir untuk anak-anak KU8, KU10, dan KU12. HYDROPLUS Soccer League kemudian memberikan ruang lebih besar bagi pemain U-15 dan U-18 untuk berkompetisi secara rutin.
Konsepnya bahkan dilengkapi dengan menggelar turnamen All-Stars seperti MilkLife Soccer Challenge.
Tim-tim terbaik dari masing-masing regional dikumpulkan untuk mendapatkan pengalaman bertanding yang lebih tinggi di HYDROPLUS Soccer All-Stars.
Namun, Teddy dan timnya kemudian menghadapi sebuah pertanyaan. Setelah pemain-pemain terbaik terkumpul, mereka harus bermain di mana?
“Setelah kami lihat, kok tidak ada turnamen yang pas, karena AFF U-16 itu digelar di tahun ganjil, sehingga tercetus, kenapa enggak kita bikin sendiri,” kata Teddy saat diwawancara Bola.com di Supersoccer Arena, Kudus, Sabtu (22/8/2026).
Dari situlah gagasan turnamen internasional mulai dibicarakan dengan PSSI. Sekitar Oktober atau awal November 2025, proses persiapan mulai berjalan.
PSSI kemudian memberikan dukungan, sementara penyelenggara mulai berkomunikasi dengan calon negara peserta.
Artinya, Srikandi Merdeka Cup yang berlangsung pada Agustus 2026 bukanlah sebuah event yang lahir secara tiba-tiba. Ada proses hampir satu tahun di belakangnya.
Dan yang lebih penting, ada tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar menghadirkan pertandingan internasional di Kudus.
Dari Liga Domestik ke Panggung Internasional
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325678/original/021368100_1786898818-Foto_3__23_-Indonesia_vs_Malaysia.jpg)
Teddy menjelaskan Srikandi Merdeka Cup dirancang agar menjadi bagian dari jalur pembinaan pemain menuju tim nasional.
Dua tim Indonesia yang tampil di turnamen itu, Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara, berasal dari proses panjang HYDROPLUS Soccer League.
Setelah bertanding di Srikandi Merdeka Cup, para pemain terbaik kembali diseleksi untuk membentuk satu tim yang diproyeksikan memperkuat Indonesia pada Kualifikasi Piala AFC U-17 2027 di Singapura pada Oktober 2026.
Di sinilah arti penting turnamen tersebut terlihat.
Pemain yang sebelumnya bertanding di kompetisi domestik mendapatkan kesempatan menghadapi lawan internasional.
Pelatih timnas bisa melihat kemampuan mereka dalam pertandingan dengan intensitas dan karakter yang berbeda.
“Jadi ini secara jadwal pelaksanaannya sangat pas. Memang kita set karena target sebenarnya adalah untuk Kualifikasi AFC U-17,” ujar Teddy.
Dengan kata lain, Srikandi Merdeka Cup berfungsi seperti jembatan.
Pemain tidak langsung dilempar ke level internasional tanpa persiapan. Mereka terlebih dahulu mendapatkan pengalaman melalui kompetisi usia muda, bermain secara rutin, kemudian naik ke pertandingan dengan level yang lebih tinggi.
Proses tersebut juga memungkinkan PSSI mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kualitas generasi berikutnya.
Teddy menyebut pemilihan negara peserta dilakukan dengan pertimbangan tertentu. Tim lawan yang diundang diharapkan memiliki level yang mampu memberikan ukuran untuk melihat kemampuan pemain Indonesia.
Perkembangan tidak akan maksimal jika pemain hanya menghadapi lawan yang jauh di bawah level mereka.
“Karena kita juga harus mengukur kemampuan tim nasional kita,” kata Teddy.
Maka ketika Garuda Pertiwi mampu melangkah hingga final dan menghadapi Thailand, pertandingan tersebut bukan hanya perebutan gelar. Itu adalah ujian.
Seberapa jauh perkembangan pemain Indonesia setelah menjalani kompetisi domestik secara rutin selama berbulan-bulan?
Jawabannya mulai terlihat dari performa para pemain di lapangan.
Menurut Teddy, salah satu kekuatan utama sistem pembinaan yang berjalan saat ini adalah kesempatan bagi pemain untuk bertanding secara konsisten.
Pemain yang berasal dari HYDROPLUS Soccer League telah menjalani latihan dan pertandingan selama sekitar 9 hingga 10 bulan.
“Jadi sudah pasti akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kemampuan mereka,” ujar Teddy.
Perkembangan tersebut bukan hanya soal kemampuan mengolah bola. Pemain belajar membaca pertandingan, menghadapi tekanan, bekerja sama, memahami taktik, sekaligus membangun mental kompetitif.
Inilah yang sering kali sulit diperoleh jika pembinaan hanya mengandalkan latihan tanpa pertandingan yang cukup.
Hasilnya mulai terlihat ketika para pemain muda tersebut mendapatkan kesempatan bermain di panggung internasional. Mereka tidak lagi sekadar menjadi anak-anak yang bermain sepak bola. Mereka mulai belajar menjadi pesepak bola putri profesional.
Ketika Stadion Penuh dan Jutaan Orang Menonton dari Layar Digital
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,565,20,0)/kly-media-production/medias/9325629/original/014320200_1786886234-WhatsApp_Image_2026-08-16_at_20.09.42__1_.jpeg)
Ada satu sisi lain yang membuat Srikandi Merdeka Cup penting: respons masyarakat. Teddy menceritakan pertandingan-pertandingan di Supersoccer Arena mendapatkan perhatian besar dari masyarakat Kudus.
Penonton bahkan harus mengantre berjam-jam untuk mendapatkan kesempatan menyaksikan pertandingan secara langsung.
Di luar stadion, Srikandi Fair juga menghadirkan aktivitas yang membuat turnamen ini menjadi bagian dari hiburan masyarakat Kudus. “Penonton penuh sampai depan layar besar,” ujar Teddy.
Yang lebih menarik terjadi di dunia digital. Pertandingan semifinal ketika Indonesia menghadapi Yordania disebut mendapatkan lebih dari satu juta penonton melalui live streaming.
Angka tersebut memberikan pesan bahwa sepak bola putri memiliki pasar dan penonton yang terus berkembang.
Masyarakat ternyata bersedia datang, menunggu, menonton, dan mengikuti pertandingan ketika diberikan akses serta kompetisi yang menarik.
Turnamen seperti Srikandi Merdeka Cup tidak hanya memberikan manfaat kepada pemain, tapi juga membantu menciptakan ekosistem.
Semakin sering pertandingan putri digelar dengan kemasan yang baik, kian banyak masyarakat yang mengenal pemainnya.
Semakin banyak yang menonton, semakin besar pula peluang sepak bola putri mendapatkan perhatian dan dukungan yang lebih luas.
PSSI Melihat Hasil dari Sebuah Proses
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,565,20,0)/kly-media-production/medias/9330162/original/084467300_1787327583-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_22.28.12-Indonesia_vs_Yordania.jpg)
Exco PSSI, Vivin Cahyani, melihat apa yang terjadi di Kudus sebagai buah dari proses pembinaan yang telah dimulai beberapa tahun terakhir.
Ia memberikan apresiasi kepada Bakti Olahraga Djarum Foundation karena sudah membangun kompetisi yang berjenjang dan konsisten.
“Usaha tidak mengkhianati hasil,” kata Vivin.
Menurutnya, meskipun program tersebut baru memasuki tahun ketiga, hasilnya sudah mulai bisa dinikmati.
Permainan para pemain muda Indonesia semakin berkembang. Mereka mulai tampil di panggung yang lebih besar dan mendapatkan pengalaman menghadapi lawan internasional.
Namun, Vivin juga tidak menutup mata bahwa perjalanan tersebut masih panjang.
“Kita memang masih jauh dari sempurna, kita masih harus terus berusaha untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.
Pesan tersebut penting. Srikandi Merdeka Cup bukan bukti semua persoalan sepak bola putri Indonesia telah selesai.
Justru sebaliknya, turnamen ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Namun setidaknya, Indonesia kini memiliki sebuah jalur yang semakin jelas.
Membangun Piramida dari Bawah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9327273/original/057541200_1787090211-Foto_1.jpg)
Teddy Tjahjono melihat perkembangan sepak bola putri Indonesia dalam tiga tahun terakhir sebagai sesuatu yang sangat positif.
Indikatornya bisa dilihat dari meningkatnya jumlah anak perempuan yang tertarik mengikuti kompetisi.
MilkLife Soccer Challenge, misalnya, terus berkembang. Dari semula digelar di delapan kota, jumlahnya akan bertambah menjadi 15 kota pada musim 2026/2027.
Sementara HYDROPLUS Soccer League yang sebelumnya memiliki empat regional juga akan berkembang menjadi lima regional.
Setelah itu, pemain memiliki jalur untuk melanjutkan karier ke level senior melalui Indonesia Women’s League.
Dengan demikian, sebuah piramida mulai terbentuk. Mulai dari kelompok usia U-8, U-10, U-12, U-15, U-18 hingga senior.
Dan di tengah piramida tersebut, Srikandi Merdeka Cup memiliki fungsi yang cukup unik, menjadi ruang untuk mempertemukan hasil pembinaan domestik dengan kompetisi internasional.
Bukan akhir dari perjalanan, melainkan salah satu anak tangga.
Srikandi Merdeka Cup Harus Menjadi Tradisi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310408/original/036699200_1785316287-Foto_1.jpg)
Teddy mengungkapkan Srikandi Merdeka Cup rencananya digelar setiap dua tahun.
Pemilihan nama Srikandi Merdeka Cup pun bukan tanpa alasan. Turnamen itu dirancang sebagai bagian dari perayaan kemerdekaan Indonesia, sekaligus memberi panggung kepada para srikandi muda yang sedang membangun masa depan sepak bola putri.
Jika konsistensi tersebut terjaga, manfaatnya bisa jauh lebih besar daripada satu edisi turnamen.
Pemain akan memiliki target. Pelatih memiliki bahan evaluasi. PSSI mendapatkan gambaran pemain potensial. Masyarakat mendapatkan tontonan. Sepak bola putri mendapatkan ruang untuk terus tumbuh.
Pada akhirnya, pentingnya Srikandi Merdeka Cup bukan semata-mata karena siapa yang mengangkat trofi. Nilai terbesarnya justru terletak pada apa yang terjadi setelah turnamen berakhir.
Pemain yang beberapa hari lalu bertanding di Supersoccer Arena, Kudus, akan kembali ke klub dan menjalani latihan.
Sebagian mungkin terpilih menuju Kualifikasi AFC U-17. Sebagian lainnya mungkin membutuhkan waktu lebih panjang.
Namun, mereka semua membawa pulang sesuatu yang tidak bisa diberikan hanya melalui latihan, yaitu pengalaman bermain di panggung internasional.
Dan mungkin, beberapa tahun dari sekarang, ketika salah satu dari mereka berdiri mengenakan jersey Timnas Indonesia di turnamen besar, perjalanan itu akan kembali mengarah ke satu tempat: Kudus.
Di sanalah salah satu bab penting dalam perjalanan generasi baru sepak bola putri Indonesia mulai ditulis.