Arif Satria. (Foto: YouTube/Good News From Indonesia)
Arif Satria adalah akademisi terkemuka Indonesia yang dikenal atas kontribusinya dalam bidang pendidikan tinggi, kebijakan kelautan, pembangunan pedesaan, dan inovasi. Namanya semakin dikenal luas setelah memimpin Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai rektor pada 2017 hingga 2025.
Selama masa kepemimpinan Arif, IPB mampu mempertahankan reputasi internasional, termasuk berada di jajaran universitas terbaik dunia pada bidang Agriculture and Forestry menurut pemeringkatan QS World University Rankings. Di samping memimpin perguruan tinggi, ia turut aktif menyuarakan pentingnya penguatan ekosistem riset dan inovasi di Indonesia.
Kiprahnya di dunia pendidikan dan penelitian membuat karier Arif menanjak. Ia kemudian dipercaya memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 10 November 2025 lalu.
Perkembangan BRIN Hari Ini
BRIN menjadi lembaga riset dari pemerintah yang terus bekerja dalam keheningan. Diam-diam berbagai pembangunan dan pengembangan institusi terus dilakukan sejak 2001. Dari situ, BRIN berharap perangkat regulasi hingga organisasi bisa tesusun dengan kuat sehingga hasil penelitian bisa membawa dampak bagi masyarakat.
“Jadi karena perangkat regulasi, perangkat aturan, perangkat organisasi sudah relatif establish meskipun kita akan tersempurnakan. Akan tetapi, kita sekarang fokus bagaimana program-program BRIN bisa membawa impact besar karena BRIN harus memberi harapan baru,” ucap Arif kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.
Arif meyakini bangsa yang maju di segala sektor ditopang berdasarkan research and development (R&D) yang kuat. Ia pun merasa BRIN dalam hal ini bisa diandalkan sebagai sumber inspirasi walaupun tidak menutup kemungkinan butuh banyak dukungan termasuk dari pihak swasta.
“BRIN harus menjadi inspirasi baru bagi bangsa ini. Karena kita tahu bahwa negara maju manapun kemajuan itu selalu ditopang R&D yang kita. Bisa oleh negara, bisa oleh swasta. Swasta sekarang sudah punya investasi sangat besar di berbagai negara maju untuk memperkuat R&D-nya,” kata Arif.
Pusat Kolaborasi Riset
Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa BRIN telah menggelar kolaborasi riset dengan perguruan tinggi di Indonesia. Program yang diberi nama Pusat Kolaborasi Riset (PKR) ini digalakkan demi mempermudah BRIN mendata penelitian secara tematik.
“Tema rumput laut di mana, tema untuk padi di mana. Nah, sekarang saya terbuka dengan perguruan tinggi untuk membangun PKR-PKR baru,” ucap Arif.
Berdasarkan penuturan Arif, BRIN siap memfasilitasi penelitian demi mewujudkan penemuan-penemuan baru. Sejauh ini dari kolaborasi tersebut BRIN sudah menghasilkan beberapa penemuan yang dimanfaatkan oleh negara, salah satunya bantalan jalur rel kereta api.
“Kita siapkan fasilitas perguruan tinggi yang ada di kampus. Kalau di BRIN bisa kolaborasi untuk memanfaatkan teknologi, peralatan yang ada di BRIN. Peralatan kita canggih-canggih. (Fasilitas) Genomik kita terbaik di Asia Tenggara. Sekarang tinggal apa? Ya tinggal bagaimana kedalaman riset sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kebutuhan industri. Makanya kita harus diskusi, banyak kolaborasi dengan industri. Sekarang kereta api misalnya kita sudah bisa menghasilkan bantalan kereta api dari teknologi karet kita. Bagus karetnya diolah dengan teknologi modern yang canggih,” kata Arif.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.
Tim Editor