Oleh: Salma Ashfiya
Natural Forum
“Yang penting sampahnya dibawa turun.”
Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing bagi para pendaki. Bahkan, membawa turun sampah sering kali menjadi ukuran sederhana apakah seseorang dianggap peduli terhadap alam atau tidak.
Tidak salah. Sampah memang menjadi salah satu persoalan yang paling mudah terlihat di jalur pendakian. Plastik makanan, botol minuman, tisu, hingga sisa makanan dapat ditemukan ketika kesadaran pengunjung untuk menjaga kawasan masih rendah.
Namun, apakah menjaga alam hanya sebatas membawa turun sampah?
Jawabannya tentu tidak.
Bayangkan seorang pendaki yang membawa seluruh sampahnya turun, tetapi berjalan di luar jalur karena ingin mencari jalan yang lebih cepat. Atau seseorang yang mengambil bunga untuk foto, memindahkan batu untuk membuat dekorasi di sekitar tenda, memberi makan satwa karena dianggap lucu, atau memutar musik keras di tengah kawasan yang seharusnya tenang.
Tidak ada sampah yang ditinggalkan. Tetapi tetap ada jejak yang ditimbulkan.
Di sinilah Leave No Trace menjadi lebih dari sekadar slogan.
Leave No Trace merupakan pendekatan etika dalam berkegiatan di alam yang membantu seseorang memahami dan mengurangi dampak dari aktivitasnya. Prinsip ini mencakup berbagai hal, mulai dari persiapan perjalanan, penggunaan jalur dan tempat berkemah, pengelolaan sampah, perlakuan terhadap apa yang ditemukan di alam, penggunaan api, interaksi dengan satwa liar, hingga sikap terhadap pengunjung lain.
Namun, bagi pendaki, Leave No Trace seharusnya tidak berhenti sebagai tujuh poin yang dihafalkan.
Ia perlu berubah menjadi kebiasaan.
Alam Bukan Sekadar Latar Foto
Perkembangan media sosial membuat pengalaman mendaki semakin mudah dibagikan.
Puncak, matahari terbit, kabut, tenda, hingga secangkir kopi di ketinggian dapat menjadi sebuah cerita yang menarik untuk diunggah.
Tidak ada yang salah dengan mengabadikan perjalanan. Foto dan video justru dapat menjadi cara untuk berbagi pengalaman dan memperkenalkan keindahan alam kepada orang lain.
Masalahnya muncul ketika keinginan mendapatkan foto mulai mengalahkan kesadaran terhadap tempat yang sedang dikunjungi.
Berjalan keluar jalur demi mendapatkan sudut foto yang berbeda, berdiri di atas vegetasi, memindahkan benda-benda alam agar latar terlihat lebih bagus, atau membuat lokasi tertentu menjadi tempat berfoto bersama-sama mungkin terlihat sepele jika dilakukan satu orang.
Tetapi bagaimana jika hal yang sama dilakukan oleh ratusan orang?
Sesuatu yang awalnya hanya satu jejak kaki dapat berubah menjadi jalur baru. Tumbuhan yang awalnya hanya terinjak satu orang bisa kehilangan kesempatan untuk tumbuh ketika terus dilewati.
Karena itu, sebelum mengambil foto, ada baiknya kita bertanya sederhana:
“Apakah foto ini mengharuskan saya merusak sesuatu?”
Kalau jawabannya iya, mungkin foto tersebut tidak sepadan dengan dampaknya.
Jangan Mencari Jalan Pintas
Dalam pendakian, jalan pintas sering terlihat menggoda.
Jalur utama terasa lebih jauh, sementara di depan terlihat tanah yang seolah-olah bisa dilewati untuk memotong perjalanan.
“Cuma sedikit.”
“Yang lain juga lewat sini.”
Kalimat-kalimat sederhana seperti itu justru bisa menjadi awal terbentuknya jalur baru.
Tanah dan vegetasi di kawasan pegunungan memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi tekanan. Ketika banyak orang terus melewati area yang sama, vegetasi dapat rusak dan tanah menjadi lebih mudah mengalami erosi.
Karena itu, tetap berada di jalur yang telah ditentukan bukan hanya persoalan mengikuti aturan pengelola.
Itu adalah bentuk tanggung jawab.
Pendaki tidak harus membuat jalur baru hanya karena ingin lebih cepat sampai.
Kalau jalurnya sudah ada, untuk apa membuat jejak baru?
Apa yang Dibawa Naik, Bawa Turun Lagi
Bagian ini memang terdengar klasik.
Tetapi justru karena sering didengar, terkadang kita mulai menganggapnya biasa.
Sampah bukan hanya bungkus makanan atau botol plastik. Tisu, puntung rokok, kemasan kecil, sisa makanan, bahkan benda yang dianggap mudah terurai tetap perlu dipertimbangkan sebelum ditinggalkan.
Sisa makanan juga bukan berarti “aman” hanya karena bisa membusuk.
Aroma makanan dapat menarik perhatian satwa liar. Jika hal ini terus terjadi, satwa dapat terbiasa mencari makanan dari manusia dan perlahan mengubah perilaku alaminya. Prinsip Leave No Trace juga menekankan agar sampah dan sisa makanan dibawa kembali, bukan ditinggalkan di alam.
Maka, membawa satu kantong khusus untuk sampah pribadi seharusnya tidak dianggap merepotkan.
Justru sebaliknya.
Tas kita membawa makanan sampai ke gunung. Tidak ada alasan tas yang sama tidak sanggup membawa kembali bungkusnya.
Tidak Semua yang Indah Harus Dibawa Pulang
Pernah menemukan bunga yang cantik saat berjalan?
Atau batu dengan bentuk yang unik?
Mungkin muncul keinginan untuk mengambilnya sebagai kenang-kenangan.
Tetapi alam tidak dibuat sebagai toko suvenir.
Bunga, daun, batu, kayu, maupun benda lain yang kita temukan merupakan bagian dari lingkungan tempat benda tersebut berada. Mengambil satu benda mungkin terlihat tidak memberikan pengaruh berarti.
Namun, jika setiap orang melakukan hal yang sama, perlahan-lahan apa yang awalnya ada akan berkurang.
Hari ini satu batu.
Besok satu lagi.
Lusa mungkin sudah tidak ada.
Karena itu, cukup abadikan melalui kamera.
Ambil fotonya, bukan alamnya.
Leave No Trace juga mendorong pengunjung untuk membiarkan benda-benda alam maupun peninggalan yang ditemukan tetap berada di tempatnya.
Bertemu Satwa? Jangan Berubah Jadi Pawang
Pertemuan dengan satwa liar menjadi salah satu pengalaman yang membuat perjalanan di alam terasa istimewa.
Tidak semua orang bisa bertemu langsung dengan satwa ketika mendaki. Karena itu, ketika kesempatan tersebut datang, sebagian orang mungkin tergoda untuk mendekat, memotret dari jarak dekat, bahkan memberikan makanan.
Padahal, satwa liar bukan hewan peliharaan.
Kita tidak tahu bagaimana respons mereka ketika merasa terancam. Memberikan makanan juga dapat membuat satwa terbiasa mendekati manusia dan kehilangan perilaku alaminya.
Jadi, ketika bertemu satwa, cukup berhenti sejenak.
Amati dari jarak aman.
Ambil foto jika memungkinkan.
Lalu biarkan ia kembali menjalani kehidupannya.
Kita sedang berkunjung ke rumah mereka.
Gunung Tidak Selalu Butuh Suara Kita
Ada satu hal lain yang sering luput ketika berbicara tentang menjaga alam: suara.
Musik keras, teriakan, atau percakapan yang terlalu ramai mungkin tidak meninggalkan sampah. Namun, tetap dapat mengganggu pengalaman orang lain dan kehidupan satwa di sekitar.
Ada pendaki yang datang untuk bercengkerama bersama teman. Ada yang ingin menikmati perjalanan dalam kelompok. Ada pula yang sengaja mencari ketenangan setelah lelah menghadapi rutinitas sehari-hari.
Semua memiliki hak untuk menikmati alam dengan caranya masing-masing.
Karena itu, menjaga volume suara juga merupakan bagian dari etika.
Tidak semua tempat membutuhkan speaker.
Tidak semua puncak membutuhkan musik.
Dan tidak semua perjalanan harus terdengar sampai ke lembah sebelah.
Leave No Trace menempatkan sikap saling menghargai antarpengunjung sebagai bagian dari upaya menjaga pengalaman berkegiatan di alam.
Pendaki yang Baik Bukan yang Paling Banyak Puncaknya
Jumlah gunung yang sudah didaki memang bisa menjadi pencapaian.
Foto di puncak juga boleh menjadi kenangan.
Cerita perjalanan tentu sah untuk dibagikan.
Tetapi ada hal lain yang seharusnya ikut menjadi ukuran seorang pendaki: bagaimana ia memperlakukan alam selama perjalanan.
Sebab, alam tidak pernah meminta kita untuk menaklukkannya.
Kita hanya datang sebagai tamu.
Menikmati pemandangan yang tidak kita buat. Menghirup udara yang tidak kita hasilkan. Berjalan di atas tanah yang sudah ada jauh sebelum kita datang.
Lalu setelah beberapa hari, kita pulang.
Yang tersisa seharusnya bukan kerusakan karena kehadiran kita, melainkan pengalaman dan cerita.
Pada akhirnya, Leave No Trace bukan sekadar tentang membawa turun sampah.
Ia adalah tentang kesadaran sebelum melakukan sesuatu:
Apakah tindakan saya akan meninggalkan dampak?
Jika iya, apakah ada cara lain yang lebih baik?
Pertanyaan sederhana tersebut mungkin tidak membuat perjalanan menjadi lebih cepat. Bahkan, terkadang justru membuat kita sedikit lebih repot.
Namun, bukankah menjaga sesuatu memang membutuhkan sedikit usaha?
Karena menjadi pencinta alam bukan hanya soal seberapa tinggi kita mendaki atau seberapa banyak puncak yang berhasil dicapai.
Tetapi juga tentang bagaimana kita meninggalkan tempat yang telah kita kunjungi.
Datang sebagai tamu, menikmati dengan bijak, dan pulang tanpa meninggalkan masalah.
Sebab, gunung akan tetap ada setelah kita pulang.
Dan suatu hari nanti, mungkin kita akan kembali lagi ke tempat yang sama.
Pertanyaannya sederhana:
Apakah kita masih ingin menemukan alam yang sama indahnya?
Konsep Leave No Trace dalam tulisan ini merujuk pada prinsip-prinsip Leave No Trace yang dikembangkan oleh Leave No Trace Center for Outdoor Ethics sebagai panduan untuk meminimalkan dampak aktivitas manusia di alam.
Foto || Rahma Ashfiya
Editor || Wandi wahyudi, WI 200223
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)