
Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) dikenal karena ukurannya yang besar dan aroma khas saat mekar. Namun, di balik itu tumbuhan endemik Sumatera ini menghadapi persoalan penting dalam upaya konservasi, yakni bagaimana mempertahankan keragaman genetik ketika jumlah koleksi tanaman masih terbatas.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menyiapkan strategi untuk menjawab persoalan tersebut. Kebun Raya Cibodas BRIN, yang menjadi salah satu institusi pelaksana konservasi ex situ flora Indonesia, mulai memfokuskan program konservasi A. titanum pada studi keanekaragaman genetik dan pembangunan bank polen pada 2026.
Menjaga Keragaman Genetik
Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup KKI Kebun Raya Cibodas BRIN, Destri, menjelaskan bahwa salah satu persoalan dalam pengembangbiakan koleksi bunga bangkai adalah bibit yang dihasilkan selama ini masih memiliki hubungan kekerabatan dekat atau sibling.
Kondisi tersebut membuat persilangan antar tanaman yang masih berkerabat menjadi perhatian dalam program konservasi. Karena itu, bank polen atau pollen banking disiapkan untuk menyimpan serbuk sari dari populasi bunga bangkai yang berasal dari lokasi berbeda.
Polen dari populasi liar yang berjauhan, misalnya dari Aceh, nantinya dapat digunakan untuk melakukan persilangan dengan koleksi bunga bangkai yang tumbuh di Jawa.
“Pollen banking ini sangat penting untuk mencegah persilangan antar kerabat dekat. Dengan menyimulasikan jarak populasi yang jauh, maka kita akan bisa memiliki koleksi-koleksi dengan variasi genetik yang tinggi,” jelas Destri dalam Webinar Koleksi Ilmiah, Senin (7/9).
Strategi ini penting karena konservasi tidak hanya bertujuan memperbanyak jumlah tanaman. Variasi genetik juga perlu dipertahankan agar populasi hasil konservasi memiliki keragaman yang lebih baik.
Persilangan Tidak Bisa Menunggu
Upaya memperbanyak bunga bangkai juga menghadapi persoalan biologis yang cukup spesifik. Bunga betina dan bunga jantan pada satu tanaman tidak matang pada waktu yang sama.
Bunga betina matang lebih dahulu. Fase ini ditandai dengan munculnya aroma menyerupai bau bangkai. Sementara itu, serbuk sari dari bunga jantan baru dilepaskan pada hari berikutnya, ketika bunga betina sudah menutup.
Akibatnya, serbuk sari dari tanaman yang sama tidak dapat secara alami membuahi bunga betina tersebut. Tim konservasi kemudian melakukan polinasi buatan dengan memanfaatkan serbuk sari yang telah disimpan.
“Karenanya, kita melakukan polinasi buatan. Polen yang kita panen dari tanaman tahun sebelumnya disimpan di freezer pakai aluminium foil. Sebulan kemudian waktu ada bunga mekar berikutnya, kita kawinkan,” papar Destri.
Teknik tersebut telah menunjukkan hasil. Dalam proses persilangan tertutup, tim juga melakukan pencegahan terhadap jamur dan bakteri dengan penyemprotan cairan antijamur dan antibakteri setiap pagi. Persilangan berhasil menghasilkan buah dan biji yang kemudian dapat berkecambah menjadi bibit baru sekitar tiga bulan setelah ditanam menggunakan media kompos.
Dimulai dari Konservasi
Konservasi A. titanum di Kebun Raya Cibodas tidak hanya berfokus pada penyimpanan koleksi. Sejumlah spesimen juga menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik.
Pada 2016, salah satu spesimen bunga bangkai di Cibodas disebut berhasil mekar hingga mencapai 3,7 meter, diukur dari tangkai daun. Menurut Destri, ukuran tersebut melampaui catatan Guinness Book of Records yang saat itu mencapai 3,1 meter.
“Tanaman ini seharusnya berbunga lagi tahun 2020, tapi dia berbunga di tahun 2017 dan masih tinggi 3,4 meter. Kemudian tahun 2020 dia secara normal berbunga lagi,” ungkapnya.
Keberhasilan mempertahankan koleksi tersebut tetap membutuhkan penanganan rutin. Salah satu tantangannya adalah gangguan satwa seperti babi yang dapat merusak tanaman. Tim memasang pagar kawat untuk mencegah babi memasuki area koleksi.
Persoalan lain adalah umbi A. titanum yang dapat membusuk di dalam tanah tanpa mudah terdeteksi. Karena itu, pemeliharaan koleksi harus dilakukan secara hati-hati untuk memastikan tanaman tetap hidup dan dapat digunakan dalam program perbanyakan.
Program konservasi ini melibatkan kolaborasi Pusat Riset Sistem Biota, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Pusat Riset Botani Terapan, serta Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN. Program tersebut juga bekerja sama dengan peneliti dari Chicago Botanic Garden dan mendapat pendanaan dari institusi tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor