Foto oleh wd toro 🇲🇨 di Unsplash
Di tengah deretan bangunan tua yang menjadi wajah Kota Lama Semarang, sebuah gedung berdiri membawa cerita dari masa yang jauh. Bangunan yang kini dikenal sebagai gedung eks Jiwasraya itu bukan sekadar konstruksi tua, tetapi saksi perkembangan Kota Semarang pada masa Hindia Belanda.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meninjau langsung bangunan tersebut. Dari balik dinding dan elemen arsitektur yang masih bertahan, terlihat jejak sebuah bangunan yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pada zamannya.
Fadli memperkirakan gedung tersebut dibangun oleh Belanda pada abad ke-19 atau awal abad ke-20. Menurutnya, karakter bangunan menunjukkan bahwa konstruksi tersebut tergolong modern untuk ukuran zamannya.
“Bangunan ini diperkirakan dibangun oleh Belanda pada abad ke-19 atau awal abad ke-20. Bangunannya cukup modern untuk zamannya,” ujar Fadli.
Sejarah gedung
Gedung tersebut dahulu bernama De Nederlandsche Indies Levensverzekering en Lijfrente Maatschappij. Bangunan tiga lantai ini menjadi salah satu bagian dari lanskap Kota Lama Semarang yang dipenuhi peninggalan arsitektur masa kolonial.
Namun, yang membuat bangunan ini semakin menarik bukan hanya usianya. Di dalam gedung masih terdapat sejumlah elemen lama yang menjadi saksi perkembangan teknologi pada masanya. Salah satunya adalah lift buatan Otis Elevator Company yang hingga kini masih berada di dalam bangunan, meski sudah tidak digunakan.
Lift tersebut seolah menjadi pengingat bahwa pada masa lalu, bangunan ini telah mengadopsi teknologi yang tergolong maju. Keberadaan elemen-elemen asli semacam itu memberikan gambaran bagaimana arsitektur, teknologi, dan aktivitas ekonomi berkembang di Kota Semarang pada masa Hindia Belanda.
Dari Bangunan Tua Menjadi Ruang Kebudayaan
Bagi Fadli Zon, menjaga bangunan cagar budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk fisiknya. Bangunan tersebut juga perlu memiliki pemanfaatan yang tepat agar keberadaannya tetap terjaga sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, gedung eks Jiwasraya dinilai memiliki peluang untuk dihidupkan kembali sebagai ruang kebudayaan.
Salah satu gagasan yang muncul adalah menjadikannya museum. Bahkan, museum fotografi menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan.
Konsep tersebut menarik karena gedung tua dengan karakter arsitektur kolonial dapat dipadukan dengan ruang untuk menyimpan, memamerkan, dan menceritakan kembali sejarah melalui fotografi.
“Kita berharap dalam rangka pemanfaatan gedung-gedung cagar budaya, gedung ini bisa menjadi satu museum, semacam museum fotografi, atau pemanfaatan yang lain sehingga ini bisa terselamatkan,” tambahnya.
Gagasan itu sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian tidak selalu berarti membiarkan bangunan berdiri tanpa aktivitas. Sebaliknya, pemanfaatan yang sesuai dapat menjadi cara untuk membuat warisan sejarah tetap hidup.
Jika kelak diwujudkan sebagai museum, gedung eks Jiwasraya berpotensi menjadi ruang yang mempertemukan masa lalu dan masa kini. Pengunjung tidak hanya melihat dinding tua atau ornamen bangunan, tetapi juga dapat memahami cerita yang pernah berlangsung di baliknya.
Peninjauan Fadli didampingi Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari.
Kementerian Kebudayaan pun terus mendorong pelestarian cagar budaya melalui pemanfaatan yang tetap menghormati nilai sejarah dan karakter asli bangunan.
Sebab, sebuah bangunan tua pada akhirnya bukan hanya tentang usia. Di dalamnya tersimpan jejak manusia, teknologi, perubahan zaman, dan identitas sebuah kota. Dan di Kota Lama Semarang, gedung eks Jiwasraya masih menyimpan semuanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.
Tim Editor