Wahana Visi Indonesia menggelar gelar wicara dalam ajang Ideafest 2026 di JCC, Jakarta, Minggu (7/9/2026). (Foto: Wahana Visi Indonesia)
Mewujudkan generasi emas Indonesia pada 2045 mendatang tidak bisa hanya mengandalkan peran orang tua saja. Perlindungan dan tumbuh kembang anak perlu ditingkatkan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, organisasi keagamaan, hingga media.
Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi bertema “Be The Hope Maker: It Takes a Nation to Protect a Child” dalam gelaran Ideafest di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta pada (7/9/2026). Diskusi tersebut menghadirkan Angelina Theodora dari Wahana Visi Indonesia (WVI), Pastor Sidney Mohede, serta content creator dan penulis buku Samuel Ray.
Menurut Angelina, ungkapan “it takes a village to raise a child” perlu diperluas dalam konteks Indonesia. Bukan sekadar membutuhkan satu kampung untuk membesarkan seorang anak, tetapi satu negara atau bangsa untuk menciptakan generasi emas.
“It takes a nation to create a golden generation(butuh peran negara menciptakan generasi emas),” ujar Angelina dalam diskusi tersebut.
Angelina menilai setiap pihak memiliki tanggung jawab masing-masing dalam mencetak masa depan yang gemilang. Orang tua dan keluarga sendiri menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan karena inilah tempat perlindungan utama bagi anak. Namun, peran tersebut tidak berdiri sendiri. Masyarakat, tetangga, sekolah, pemerintah, media, organisasi sosial, serta organisasi keagamaan juga mempunyai kontribusi dalam memastikan anak dapat tumbuh dengan baik.
Persoalan anak di Indonesia pun sangat beragam. Anak-anak di perkotaan menghadapi tantangan seperti teknologi, media sosial, kecerdasan buatan, dan persoalan identitas. Sementara itu, anak-anak di daerah terpencil masih menghadapi persoalan mendasar seperti keterbatasan pendidikan, kesehatan, nutrisi, air bersih, sanitasi, dan perlindungan.
Kita Semua Punya Peran
Pastor Sidney Mohede yang telah menjadi relawan WVI sejak 2011 menilai keterlibatan masyarakat dalam perlindungan anak juga tidak terlepas dari kesadaran bahwa setiap manusia memiliki sesuatu yang dapat dibagikan kepada orang lain. Pernyataannya itu terdorong dari banyaknya pengalaman yang dirasakan saat bekerja sama dengan WVI di mana ia melihat banyaknya anak-anak Indonesia di daerah masih kekurangan dan perlu diberikan uluran tangan.

Angelina Theodora dari WVI beserta Pastor Sidney Mohede dan kreator konten Samuel Ray menjadi pembicara dalam gelaran Ideafest 2026. (Foto: WVI)
Sidney juga memiliki pengalaman pribadi yang membuat isu keluarga dan anak menjadi sesuatu yang dekat dengannya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh sejak kecil.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami betapa sulitnya seorang anak tumbuh tanpa keluarga yang utuh. Karena itu, ketika dewasa, ia merasa terdorong untuk melakukan sesuatu bagi anak-anak yang berada dalam kondisi lebih rentan. Namun, ia menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak mungkin diselesaikan oleh satu yayasan, satu agama, ataupun satu komunitas saja.
“Kita benar-benar membutuhkan satu kolektif sebagai komunitas untuk bisa membangun generasi muda, terutama di Indonesia,” kata Sidney.
Konten Harus Berdasarkan Pengalaman
Samuel Ray adalah kreator konten yang membahas seputar keuangan dan tengah menjadi relawan WVI. Sejak masih bekerja sebagai karyawan, ia telah menjadi bagian dari kegiatan WVI dan memilih untuk mendukung seorang anak melalui program pendampingan jarak jauh.
Melalui program tersebut, ia dapat berkomunikasi dengan anak yang didampinginya melalui surat serta mengikuti perkembangan pendidikannya. Samuel menyadari bahwa kontribusinya mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan anak secara langsung. Namun, menurutnya, bantuan dalam skala kecil tetap memiliki arti besar dalam memberikan perhatian kepada sesama manusia.
“Dalam skala kecil, cara kita bisa bantu,” katanya.
Akses Pendidikan dan Kesehatan Masih Jadi Tantangan
Apa yang dihadapi anak-anak Indonesia di daerah terpencil sunggulah banyak di antaranya akses pendidikan dan kesehatan yang layak. Menurut Angelina, kondisi layanan kesehatan masihlah terbatas. Di sejumlah wilayah, kegiatan posyandu banyak bergantung pada kader. Dalam salah satu kunjungannya, Angelina mengaku bertemu seorang ibu hamil yang usia kehamilannya telah memasuki empat bulan tetapi belum bertemu dokter karena ketika datang ke puskesmas, dokter tidak berada di tempat.
“Dokternya nggak ada. Nggak datang hari itu. Jadi memang di tempat-tempat yang lebih terpencil salah satu tantangan kita akses layanan dasar,” ungkap Angelina.

Peserta diskusi tampak memenuhi Nuri Room JCC. Salah satu yang hadir ialah Andy F. Noya yang dikenal sebagai pewara televisi acara Kick Andy. (Foto: WVI)
Persoalan anak, menurut Angelina, juga berkaitan erat dengan faktor sosial, budaya, dan ekonomi. Salah satunya adalah pernikahan anak. Dalam beberapa kasus, persoalan ekonomi maupun praktik sosial dan budaya dapat mendorong anak menikah pada usia yang masih terlalu muda.
Yang lebih memprihatinkan, ia menyebut terdapat kasus anak yang menjadi penyintas kekerasan seksual justru dinikahkan dengan pelaku karena keluarga menganggap hal tersebut sebagai jalan keluar terbaik.
“Jadi hal-hal seperti ini, kebiasaan atau praktik-praktik yang sangat menantang buat kita memberikan perlindungan bagi anak,” ucap Angelina lagi.
Wahana Visi Indonesia Beraksi Beri Bantuan di Tengah Bencana
Wahana Visi Indonesia yang merupakan yayasan sosial kemanusiaan berlandaskan kekristenan dan berfokus pada isu kesejahteraan anak, tanpa membedakan suku, agama, dan budaya, terus berupaya memberikan bantuan khususnya kala Indonesia diterpa bencana. Terbaru WVI ikut menggalang bantuan untuk korban gempa di Flores dan kebakaran hutan di Kalimantan.
Menurut data yang dilampirkan WVI, tercatat sebanyak 7.500 relawan dari orang dewasa dan 4.000 anak-anak ikut berpartisipasi melakukan tanggap darurat di enam kabupaten di Flores yakni Manggarai Barat, Manggarai Timur, Manggarai, Ende, Ngada, dan Nagekeo.
Sementara, untuk per 31 Agustus, relawan WVI ikut membagikan bantuan di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dengan mendistribusikan 10 ribu masker N95/KN95 dan 16 ribu liter air bersih. Rencananya WVI akan melakkan respons bencana serupa hingga Oktober mendatang di lima kabupaten di Kalimantan Barat, yaitu Kubu Raya, Landak, Sintang, Bengkayang, dan Sekadau.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News