1. News
  2. Berita
  3. Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

kisah-perjodohan-yang-salah-kaprah,-cerita-rakyat-dari-sulawesi-selatan
Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

9 September 2026 13.00 WIB • 2 menit

Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

images info

Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan | Magnific AI


Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang mengisahkan kisah perjodohan salah kaprah di daerah Rura. Daerah Rura ini dikenal sebagai salah satu tempat yang subur dulunya.

Hal ini membuat masyarakat yang ada di sana hidup dengan makmur dan tentram. Namun sayang, kenyamanan ini membuat mereka mulai meninggalkan norma yang sudah berlaku sejak lama.

Akibatnya masyarakat yang ada di sana mendapatkan teguran dari perbuatan tersebut. Lantas bagaimana kisah dari cerita rakyat Sulawesi Selatan tersebut?

Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan

Dikutip GNFI dari buku Kumpulan Cerita Legenda dari Tanah Duri, alkisah pada zaman dahulu daerah Rura dikenal sangat subur tanahnya. Banyak sekali hasil bumi yang dihasilkan dari daerah tersebut.

Hal ini membuat masyarakat yang ada di Rura hidup serba kecukupan. Tidak hanya dikaruniai hasil alam yang melimpah, mereka pun bisa mendapatkan kekayaan dari sana.

Tidak heran banyak orang-orang di Rura memiliki harta berlimpah sejak dulu. Akibatnya ada segelintir masyarakat yang mulai melupakan norma-norma yang berlaku sejak lama.

Karena memiliki kekayaan berlimpah, sering kali orang-orang Rura melakukan pesta secara besar-besaran. Bahkan pesta tersebut bisa mereka lakukan selama berhari-hari lamanya.

Pada waktu itu, hiduplah sebuah keluarga di Rura. Keluarga ini dipimpin oleh Londong dan istrinya, Kombong.

Londong dan Kombong memiliki dua orang anak. Anak sulungnya adalah laki-laki.

Di sisi lain, anak bungsunya adalah perempuan. Setelah sekian lama, kedua anaknya ini mulai tumbuh dewasa.

Ketika mereka dewasa, muncul sebuah keinginan dari Londong dan Kombong. Mereka ingin menjodohkan kedua anaknya itu untuk saling menikah antara satu sama lain.

Masyarakat yang ada di sana memaklumkan hal itu begitu saja. Sebab sudah lama norma-norma tidak diterapkan di sana.

Akibatnya pernikahan antara dua orang saudara dianggap wajar begitu saja. Bahkan pesta pernikahan pun dipersiapkan secara besar-besaran.

Semua masyarakat diundang oleh Londong dan Kombong untuk menghadiri pernikahan anak mereka. Tepat pada hari yang sudah direncanakan, pesta pernikahan pun diselenggarakan dengan sangat meriah.

Pesta ini berlangsung selama berhari-hari lamanya. Pada awalnya tidak terjadi apa-apa dan pesta tersebut berjalan dengan normal.

Namun keanehan muncul saat hari terakhir pesat digelar. Pesta ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian acara.

Saat pesta tengah berlangsung, tanah tempat pesta tersebut diadakan tiba-tiba tenggelam. Akibatnya ada beberapa orang yang menghadiri pesta tersebut tidak bisa selamat dan menemui akhir hidupnya di sana.

Londong dan Kombong selamat dari peristiwa itu. Kabar ini tersiar cepat ke seluruh masyarakat yang ada di Rura.

Mereka pun menduga jika kejadian ini terjadi akibat perilaku keluarga tersebut. Londong dan Kombong yang menjodohkan kedua anaknya diduga memancing amarah dari Tuhan.

Akhirnya masyarakat bermusyawarah untuk mencari solusi dari kejadian itu. Mereka kemudian mengundang pemuka masyarakat yang berada di daerah utara.

Beberapa hari kemudian, datangkan dua orang pemuka masyarakat ke Rura. Mereka kemudian menjelaskan apa yang dilakukan di sana sudah melanggar norma dan aturan adat yang berlaku sejak lama.

Kedua pemuka masyarakat ini kemudian meminta mereka untuk mengadakan pesta pengorbanan. Pesta ini menjadi wujud permohonan ampun kepada tuhan.

Akhirnya masyarakat yang ada di Rura mengikuti perkataan dari kedua pemuka masyarakat tersebut. Mereka pun sudah mulai takut kepada Tuhan dan menerapkan kembali norma-norma yang ada di sana.

Sejak saat itu, kesuburan tanah Rura makin bertambah. Masyarakat yang ada di sana pun makin hidup makmur dan aman bersama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Kisah Perjodohan yang Salah Kaprah, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us