1. News
  2. Berita
  3. Limbah Jaring Ikan Disulap Jadi Nanofiber, Buka Peluang Baru Ekonomi Sirkular

Limbah Jaring Ikan Disulap Jadi Nanofiber, Buka Peluang Baru Ekonomi Sirkular

limbah-jaring-ikan-disulap-jadi-nanofiber,-buka-peluang-baru-ekonomi-sirkular
Limbah Jaring Ikan Disulap Jadi Nanofiber, Buka Peluang Baru Ekonomi Sirkular

13 September 2026 21.00 WIB • 2 menit

Limbah Jaring Ikan Disulap Jadi Nanofiber, Buka Peluang Baru Ekonomi Sirkular

images info

Foto oleh Paolo Chiabrando di Unsplash


Jaring ikan berbahan nilon yang rusak dan tidak terpakai kerap kali berakhir di laut. Material tersebut kemudian terfragmentasi menjadi mikroplastik dan menambah pencemaran di wilayah perairan.

Pada sisi lain, industri tekstil menghasilkan limbah cair yang mengandung pewarna. Limbah tersebut membutuhkan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan.

BRIN mengembangkan material yang ditujukan untuk menangani kedua persoalan tersebut. Peneliti Pusat Riset Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN Muhamad Nasir bersama tim mengolah limbah jaring nilon menjadi nanofiber untuk mendegradasi limbah pewarna tekstil.

Jaring nilon menjadi sumber material baru

Nasir mengatakan jaring ikan berbahan nilon menjadi salah satu penyumbang besar fragmentasi mikroplastik di laut. Indonesia memiliki garis pantai lebih dari 81.000 kilometer dan menghasilkan limbah jaring ikan setiap tahun.

Tim tidak mengolah jaring nilon menjadi produk dengan nilai guna rendah. Tim menggunakan proses electrospinning untuk mengubah limbah tersebut menjadi material nano fungsional.

“Alih-alih mengubah limbah ini menjadi produk bernilai rendah, kami mengolahnya kembali atau upcycling menjadi material nano fungsional berkinerja tinggi melalui proses electrospinning,” kata Nasir dalam Forum e-Asia Joint Research Program 15th Joint Review Meeting & Annual Board Meeting 2026 pada Selasa, 8 September.

Proses electrospinning menghasilkan serat berukuran sangat kecil. Serat tersebut kemudian dikompositkan dengan nanopartikel Titanium Dioksida atau TiO2.

TiO2 memperkuat kemampuan nanofiber

Penambahan TiO2 memperkuat struktur nanofiber. Material tersebut juga meningkatkan kemampuan serat dalam menyerap air dan memperluas permukaan aktif.

Struktur nanofiber membantu mencegah partikel TiO2 menggumpal. Kondisi itu membuat partikel dapat menerima cahaya secara lebih optimal saat digunakan untuk mengolah limbah pewarna.

Tim menguji material tersebut pada limbah pewarna tekstil Methylene Blue atau MB dengan bantuan penyinaran ultraviolet.

Pada tingkat keasaman netral atau pH 7, nanofiber mampu mencapai efisiensi degradasi hingga 88,68 persen dalam waktu 60 menit.

Hasil pengujian nanofiber lebih tinggi dibandingkan nanopartikel TiO2 murni. Material TiO2 murni mencapai efisiensi degradasi sebesar 67,84 persen dalam pengujian yang sama.

Nasir menjelaskan struktur nanofiber membantu memaksimalkan penyerapan cahaya. Proses tersebut menghasilkan radikal bebas yang memecah molekul pewarna.

Molekul pewarna kemudian diuraikan menjadi air dan karbon dioksida.

“Ketika kami uji pada limbah pewarna tekstil Methylene Blue atau MB di bawah penyinaran sinar UV, hasilnya sangat memuaskan. Pada pH netral atau 7, material ini mencapai efisiensi degradasi hingga 88,68 persen hanya dalam waktu 60 menit,” ujar Nasir.

Satu riset untuk dua jenis limbah

Inovasi tersebut menggabungkan pemanfaatan limbah padat dan pengolahan limbah cair. Limbah jaring nilon tidak hanya dikurangi dari lingkungan laut, tetapi juga diolah menjadi material untuk mendegradasi pewarna tekstil.

“Dengan mengubah limbah jaring nilon menjadi nanofiber multifungsi, kami memberikan nilai tambah pada limbah laut sekaligus menciptakan produk berkelanjutan untuk mengatasi polusi limbah tekstil,” kata Nasir.

Penelitian ini merupakan kolaborasi BRIN, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Andalas. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Science: Advanced Materials and Devices pada 2025.

Dalam pengujian pada limbah Methylene Blue pada pH 7 dengan penyinaran ultraviolet selama 60 menit, nanofiber berbahan limbah jaring nilon dan TiO2 mencapai efisiensi degradasi 88,68 persen.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Limbah Jaring Ikan Disulap Jadi Nanofiber, Buka Peluang Baru Ekonomi Sirkular
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us