1. News
  2. Berita
  3. Nusantara Bertutur, Si Biawak Cilik Tak Bertelinga

Nusantara Bertutur, Si Biawak Cilik Tak Bertelinga

nusantara-bertutur,-si-biawak-cilik-tak-bertelinga
Nusantara Bertutur, Si Biawak Cilik Tak Bertelinga

Di hutan pulau Kalimantan yang tenteram, semua anak hewan bermain bersama. 

Namun, setiap kali Biah, si biawak cilik datang, mereka berbisik, “Biah aneh, ya. Dia tidak punya telinga. Bagaimana dia bisa bermain bersama kita?”

Biah sedih, tetapi ia tak menggubris dan tetap bermain. Ia tahu dirinya bisa mendengar suara angin, gemericik air, bahkan bisikan kecil. 

Biawak cilik berkulit cokelat kemerahan itu memang berbeda. Di kepalanya tak ada telinga seperti anak-anak hewan lain.

“Meski telinga kita tidak terlihat, kita tetap bisa mendengar. Caranya saja yang unik. Bukan artinya kurang.” Biah teringat perkataan ibu saat ia menangis karena diejek oleh Oriana, si orang utan cilik.

Pada suatu hari, anak-anak hewan bermain di pinggir sungai. 

Bento, si beruang madu berbisik kepada Oriana. “Aku mau coba sesuatu. Lihat baik-baik, ya.”

Bento kemudian berjingkat mendekati dan tiba-tiba saja ia berteriak dari belakang. “Hei, Biah! Kalau kau bisa dengar, coba jawab ini!”

Biah tetap tenang. Perlahan ia memutar badannya dan berkata, “Bento, aku bisa dengar, kok. Aku memang tidak punya telinga seperti kalian, tapi aku bisa dengar. Caranya saja tidak sama.”

Anak-anak lain tak percaya, mereka malah menertawakan dan menganggap kelakuan Bento lucu.

Biah berjalan menjauh sambil menunduk dan duduk di tepi sungai. Ia merasa sendirian.

Karena udara yang panas, anak-anak memutuskan untuk bermain air. 

Tanpa diduga, arus deras datang dengan cepat. 

Kuna, si kucing merah yang berbadan kecil hampir terseret. Untungnya ia sempat memegang ranting pohon. Anak-anak lain panik dan tak mendengar suara gemuruh dari jauh.

Biah segera siaga, ia mendengar suara itu lebih dahulu. Getaran tanah membuat tulang khusus dalam badannya bergetar. “Ayo, semua, keluar dari sungai! Gelombang besar datang!” Ia berteriak sambil menarik Kuna ke tepi.

Setelah selamat, semua anak hewan terdiam. Mereka berpelukan, masih kaget dengan arus besar yang sekarang memenuhi sungai. 

“Biah, kau hebat. Kau mendengar suara-suara yang kami tidak bisa,” kata Beruang madu cilik.

Oriana, si orang utan menunduk malu lalu berkata pelan, “Maaf Biah, aku sudah mengejekmu. Kau berbeda, tapi itu membuatmu istimewa. Maaf, ya.”

Biah tersenyum lebar. Ia senang anak-anak lain sekarang bisa menerima dirinya apa adanya. 

Sejak hari itu, mereka bermain bersama dengan hati gembira tanpa memikirkan siapa yang berbeda.*

logo baru nusantara bertutur

Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: May Wagiman
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Nusantara Bertutur, Si Biawak Cilik Tak Bertelinga
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us