Skor kepuasan hubungan pertemanan di Indonesia paling tinggi| Wikimedia Commons | Pinerineks
Hubungan sosial menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Lewat pertemanan, keluarga, dan lingkungan sekitar, seseorang dapat berbagi cerita dan mendapatkan dukungan saat menghadapi berbagai hal.
Kedekatan dengan orang-orang di sekitar juga bisa membentuk pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang merasa memiliki teman untuk berbagi cerita, keluarga sebagai tempat pulang, atau lingkungan yang membuatnya merasa nyaman dan didukung.
Lalu, seperti apa pengalaman tersebut jika dilihat dari masyarakat di berbagai negara?
Veli Durmus menelusuri kaitan hubungan sosial dengan kesehatan lewat penelitiannya yang diterbitkan dalam Journal of Mental Health, dengan data Global Flourishing Study. Penelitian tersebut melibatkan 204.907 responden dewasa dari 22 negara yang tersebar di lima benua, yakni Asia, Afrika, Eropa, Amerika, dan Australia. Sehingga dapat memberikan gambaran tentang bagaimana hubungan sosial yang dirasakan oleh masyarakat dari berbagai negara.
Dari 22 negara yang diteliti, Indonesia menunjukkan hasil yang cukup menonjol pada aspek kepuasan terhadap pertemanan dan hubungan sosial. Pada pernyataan mengenai kepuasan terhadap pertemanan dan hubungan yang dimiliki, responden di Indonesia mencatat rata-rata skor 8,75 dari skala 0 sampai 10.
Berikut adalah daftar 10 negara dengan skor kepuasan terhadap pertemanan dan hubungan tertinggi dari 22 negara yang disurvei dalam riset tersebut:
- Indonesia: 8,75
- Filipina: 8,64
- Meksiko: 8,24
- Israel: 8,16
- Kenya: 8,06
- Argentina: 8,05
- Mesir: 7,97
- India: 7,97
- Polandia: 7,81
- Tanzania: 7,80
Dampaknya terhadap Kesehatan
Dan ternyata, rasa puas terhadap pertemanan ini ada kaitannya dengan kesehatan. Dalam riset tersebut menemukan bahwa semakin puas seseorang dengan hubungan pertemanannya, semakin baik pula penilaiannya terhadap kesehatan mental dan fisik.
Artinya, orang yang merasa puas dengan pertemanannya ia akan merasa lebih sehat, baik secara pikiran maupun fisiknya. Tentu hasil ini sudah memperhitungkan usia, pendidikan, dan sejumlah faktor sosial lainnya.
Hal ini sejalan dengan kondisi yang terjadi di Indonesia. Selain memiliki tingkat kepuasan pertemanan yang paling tinggi, orang Indonesia juga memilki kondisi kesehatan yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata responden dari 22 negara yang diteliti.
Di antara 22 negara, Indonesia berada di urutan kedua untuk kesehatan fisik dan urutan kelima untuk kesehatan mental. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa responden Indonesia dinilai memiliki kondisi kesehatan yang relatif baik dalam penelitian ini.
Hubungan dengan Orang Tua
Selain itu, Durmus juga melihat hubungan responden dengan orang tua ketika mereka masih kecil. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan masa kecil dengan ibu dan ayah di Indonesia tergolong sangat baik dibandingkan negara lain dalam penelitian tersebut.
Indonesia menempati posisi kedua setelah India dalam penilaian hubungan dengan kedua orang tua. Kondisi ini juga lebih baik dibandingkan rata-rata seluruh responden dari 22 negara.
Sebaliknya, Jepang mencatat penilaian hubungan masa kecil dengan orang tua yang paling rendah dalam penelitian. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman hubungan keluarga pada masa kecil dapat berbeda cukup jauh di antara negara dengan latar budaya yang berbeda.
Hubungan dengan orang tua semasa kecil juga berkaitan dengan cara seseorang menilai kesehatannya ketika dewasa, meskipun hal ini lebih lemah dibandingkan hubungan antara kepuasan pertemanan dan kesehatan.
Selain itu, kesejahteraan seseorang ketika dewasa akan bergantung dengan bagaimana hubungan dia dengan keluarga sejak masa kanak-kanak. Sehingga, Durmus melihat hubungan sosial sebagai salah satu bagian penting dari lingkungan yang perlu diperhatikan dalam kebijakan kesehatan.
“Hubungan sosial yang kuat menjadi pilar kesejahteraan yang universal di berbagai latar belakang budaya,” tulis Durmus dalam jurnal tersebut.